Chapter 34 The Call of Destiny

99 9 1
                                        

Chapter 34: The Call of Destiny

Dua hari berlalu sejak Raven menyelesaikan ritual pembukaan gerbang menuju dunia manusia. Prosesnya tidaklah mudah; ia harus melewati tantangan yang berat, melawan sihir hukum alam yang berusaha mencegah pembukaan gerbang yang seharusnya tetap tertutup. Ibarat membuka pintu dari depan, setiap usaha Raven terasa seperti melawan arus yang kuat, tetapi ia berhasil.

Raia dan Ignora baru saja kembali dari eksplorasi mereka di dunia bawah, dengan tenang memasuki aula istana Raven yang megah. Ruangan itu dipenuhi dengan cahaya lembut yang memantulkan keindahan arsitektur kuno.

Raia, mengenakan kemeja putih dengan kancing hitam, dan anting bulan sabit berwarna perak yang dihiasi dengan permata ungu di sisinya, melangkah dengan anggun.

Rambutnya yang seputih salju menjadi tanda jelas dari perubahan statusnya sebagai setengah naga, hasil dari darah Ignora yang mengalir dalam dirinya. Dua tanduk kecil di dahinya menambah daya tariknya, menciptakan kesan tampan meskipun penampilannya seperti anak berusia tujuh belas tahun.

Ignora, di sampingnya, terlihat anggun dengan aura es yang meluap. Mereka berdua bagaikan kakak perempuan dan adik laki-laki. Saat mereka memasuki aula, Raven berpaling dari gerbang yang masih bergetar, wajahnya menunjukkan kelegaan dan rasa ingin tahu.

"Ah, kalian akhirnya kembali," suara Raven lembut namun tegas, mencerminkan posisinya sebagai ratu dunia bawah. "Gerbang ini hanya bisa terbuka sebentar saja. Kalian beruntung bisa melihatnya."

Raia melangkah tenang, mengamati keindahan gerbang yang bersinar di belakang Raven. "Kami baru saja menjelajahi beberapa tempat menarik di dunia bawah."

Ignora menambahkan, "Aku perlu kembali ke wilayah Aethoria. Ada beberapa urusan penting yang harus kuselesaikan." Suaranya penuh tanggung jawab, mencerminkan posisi dan beban yang harus ia pikul.

Raia menatap Ignora, "Dan aku... ada seseorang yang sedang menunggu kepulanganku," ucapnya seraya menyunggingkan senyum tipis.

Perpisahan dari pertemuan singkat itu terasa cukup berat untuk Raven. Meskipun sebagai ratu dunia bawah, ia dikelilingi oleh para bangsawan dan rakyat biasa yang menghormatinya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara akrab.

Bahkan sembilan jenderal iblis pun hanya berbicara secukupnya, menjaga jarak yang aman. Namun, di sini, di hadapan Raia dan Ignora, ia merasakan kehangatan pertemanan tanpa memandang status.

"Ini pertama kalinya aku bisa berbincang akrab layaknya teman," kata Raven, suaranya lembut namun dengan nada angkuh yang tetap khas. "Kehadiran kalian memberikan warna baru dalam hidupku."

Raia dan Ignora berbagi tatapan, merasakan kedalaman perasaan itu. "Kami akan kembali, Raven. Jangan khawatir," jawab Ignora.

"Aku menantikannya," balas Raven, senyum anggun menghiasi wajahnya. "Selalu ingat bahwa dunia ini memiliki tempat untuk kalian. Di sini, di Dunia Bawah."

Saat mereka bersiap untuk melangkah ke gerbang, kedamaian menyelimuti ruangan itu. Lingkaran sihir di belakang Raven mulai bergetar lebih hebat, tanda bahwa gerbang ke dunia manusia akan segera terbuka. Cahaya yang menyilaukan memancar dari pusat gerbang, menciptakan efek yang memukau, membuat suasana terasa magis.

"Selamat tinggal, hingga kita bertemu lagi," Raven mengucapkan kata-kata itu dengan nada lembut, tetapi ada kekuatan di baliknya. "Ingat, kalian selalu bisa kembali."

Raia dan Ignora melangkah maju, melintasi ambang batas yang memisahkan dua dunia. Ketika mereka melangkah melewati gerbang, nuansa indah dari cahaya bintang keunguan menyelimuti mereka, seolah-olah dunia di belakang mereka memberi restu atas perjalanan yang baru dimulai.

AstrydiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang