Chapter 50: Festival
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Kuil Angsa sudah dipenuhi aktivitas. Para murid dan tetua bergerak cepat, menghias setiap sudut kompleks dengan ornamen kristal dan pita putih keperakan. Di udara, angsa-angsa cahaya ciptaan Raia terbang melintasi langit kuil, meninggalkan jejak kilau yang perlahan memudar.
Lily mengamati kesibukan itu dari balkon kamar tamu yang disediakan untuknya dan Raia. Di sampingnya, Lysia berdiri dengan mata berbinar, telinga rubahnya bergerak-gerak antusias mengikuti setiap suara baru.
"Indah sekali!" Lysia berseru, ekornya bergoyang penuh semangat. "Aku belum pernah melihat persiapan festival secepat ini!"
Lily tersenyum, secara naluriah tangannya terulur untuk membelai rambut putih halus gadis kecil itu. "Di Sekte Rubah tidak ada festival seperti ini?"
"Ada," Lysia mengangguk bersemangat, mendekat ke sentuhan Lily. "Tapi festival kami lebih... tenang. Banyak meditasi dan upacara minum teh. Ini berbeda! Begitu hidup!"
Ada sesuatu yang menghangatkan hati Lily melihat kepolosan Lysia. Dalam waktu singkat, ia sudah merasakan ketertarikan pada anak setengah rubah ini—mungkin karena bagian dari Raia yang ada dalam dirinya, atau mungkin hanya karena sifat ceria Lysia yang menular.
"Maaf menginterupsi momen manis ini," suara Raia terdengar dari ambang pintu. Ia tersenyum melihat kedekatan Lily dan Lysia. "Tapi persiapan sudah hampir selesai. Para tamu dari sekte lain akan segera tiba."
Raia mengenakan jubah resmi berwarna putih dengan sulaman benang emas yang membentuk pola sayap angsa rumit di bagian punggung. Rambutnya yang biasanya tergerai bebas kini sebagian diikat ke belakang dengan hiasan kristal berbentuk bintang.
"Kau terlihat berbeda," komentar Lily, mengamati penampilan formal Raia.
"Ini pakaian resmi Pendiri Sekte," Raia menjelaskan, sedikit tidak nyaman. "Sudah tiga ratus tahun tidak kukenakan."
"Kau tampan sekali!" Lysia berlari mengelilingi Raia, mengamati jubahnya dari segala sudut. "Seperti raja dalam buku dongeng!"
Raia tertawa, mengacak rambut Lysia dengan sayang. "Mungkin lebih tepat disebut pendeta tinggi. Dan kalian berdua juga harus bersiap-siap. Aku sudah menyiapkan pakaian formal untuk kalian."
Ia menunjuk dua set pakaian yang tergantung di lemari. Untuk Lily, gaun putih dengan aksen hijau zamrud yang melambangkan kerajaan peri. Untuk Lysia, gaun mungil berwarna putih dengan pola rubah kecil berwarna emas di bagian tepinya.
"Aku akan menunggu di luar," Raia tersenyum dan melangkah keluar.
"Biar kubantu mengenakan gaunmu," Lily menawarkan pada Lysia, yang langsung mengangguk antusias.
Saat membantunya berpakaian, Lily menemukan dirinya menikmati momen keibuan yang tidak pernah ia bayangkan akan ia alami. Jari-jarinya dengan lembut menyisir rambut putih Lysia, mengepangnya sebagian dan menghiasnya dengan pita kecil berwarna emas.
"Lily," panggil Lysia tiba-tiba, suaranya lebih tenang dari biasanya. "Apakah kau dan Raia akan menjadi orangtuaku sekarang?"
Pertanyaan polos itu membuat Lily terhenti sejenak. "Kenapa kau bertanya seperti itu, sayang?"
"Karena..." Lysia memilin ujung gaunnya, "Ibu bilang Raia adalah bagian dariku, seperti ayah. Dan kau kekasih Raia. Jadi..."
Lily tersenyum lembut. "Keluarga bisa terbentuk dengan berbagai cara, Lysia. Raia memang memiliki hubungan khusus denganmu. Dan jika kau menginginkanku menjadi bagian dari hidupmu juga, aku akan sangat senang."
"Benarkah?" mata Lysia berbinar. "Aku selalu ingin punya dua orangtua, seperti teman-temanku di Sekte Rubah!"
"Kalau begitu," Lily berlutut, menyamakan tingginya dengan Lysia, "mulai sekarang, kau bisa menganggap kami sebagai keluargamu yang kedua. Bagaimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasíaRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
