Chapter 31: The Edge of Chaos
Atmosfer dunia bawah bergetar hebat, menciptakan getaran yang mengancam untuk memecah keheningan. Tiga sosok Dewan Bayangan melayang tinggi di langit, jubah hitam mereka berkibar ditiup angin kegelapan. Aura pekat yang hitam menguar dari tubuh mereka, membentuk pilar energi yang menjulang ke langit merah dunia bawah, seolah mengintimidasi semua makhluk yang berani mendekat.
"Jika kau ingin perang," sosok tertinggi di antara mereka berkata, suaranya bergema seperti ribuan bisikan yang saling berbenturan, "maka kau akan mendapatkannya."
Tekanan energi mereka meningkat dengan drastis, jauh lebih besar dari yang pernah ditunjukkan oleh Raven. Retakan-retakan besar muncul di tanah, dan kabut hitam mulai merayap, melingkari area seolah ular berbisa yang siap menerkam.
Namun Raia tetap berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun. Bintang-bintang hitam di sekelilingnya berputar dengan tenang, menciptakan kontras yang mencolok dengan kekacauan di sekitarnya. Matanya yang keemasan menatap dingin, seolah mengamati serangga yang tak berarti.
"Kalian pikir jumlah bisa mengalahkan kualitas?" Raia bertanya, suaranya datar namun mengandung ancaman yang mengintimidasi. "Sudah lupa bagaimana aku membantai ribuan penyihir dulu?"
Di sampingnya, Ignora merasakan perubahan mendalam di udara. Energi dingin mulai mengalir dari tubuhnya, siap untuk dilepaskan.
"Kalau begitu," Ignora melangkah maju, es mulai terbentuk di setiap sisinya, "biarkan aku mengingatkan kalian tentang kekuatan Es Tertinggi."
Raungan naga menggema, mengguncang seluruh dunia bawah. Di belakang Ignora, sosok-sosok naga es raksasa mulai terbentuk, mata mereka bersinar biru terang, menambah kesan mendalam pada suasana yang sudah tegang ini. Langit merah mulai berubah, gradasi biru es dan hitam pekat bercampur, menciptakan pemandangan yang menakjubkan sekaligus mencekam.
"Menarik," sosok kedua Dewan Bayangan mendesis, suaranya penuh ejekan. "Dua sosok yang dulunya manusia kini berani menghadapi Dewan Dunia Bawah."
"Diam!" sosok ketiga membentak, suaranya bertenaga. "Mereka bukan apa-apa dibanding kekuatan kolektif Dewan Bayangan!"
Ketegangan memuncak. Kedua pihak saling menatap tajam, energi mereka bergesekan di udara, menciptakan percikan-percikan hitam dan biru. Satu gerakan salah bisa memicu pertarungan yang akan menghancurkan dimensi ini.
Tiba-tiba, sosok Raven muncul di tengah-tengah mereka. Matanya yang ungu berkilat berbahaya, memancarkan aura yang bahkan membuat Dewan Bayangan mundur selangkah.
"Cukup." Satu kata dari Raven membawa keheningan absolut.
"Yang Mulia," salah satu Dewan mencoba protes, "mereka adalah ancaman—"
"KUBILANG CUKUP!" Raven menghentak, kekuatannya meledak dalam gelombang ungu yang membuat semua yang hadir terdorong mundur. "Kalian pikir aku tidak bisa merasakan? Satu pertarungan di antara kalian akan menghancurkan seluruh dunia bawah!"
Ia menatap tajam ke arah Raia dan Ignora. "Dan kalian berdua. Aku tahu kekuatan kalian, tahu sejarah kalian. Tapi ini wilayahku."
Raia perlahan menurunkan bintang-bintang hitamnya, menyadari kebenaran dalam kata-kata Raven. Ignora juga melemahkan sihirnya, energi es mulai memudar, tetapi tetap menyimpan aura menakutkan di sekeliling mereka.
Raven kemudian berbalik menghadap Dewan Bayangan, matanya berkilat berbahaya. "Dan kalian... dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya."
Udara di sekitar Raven menjadi sangat berat, bahkan para anggota Dewan mulai kesulitan mempertahankan bentuk mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
