Ambil baiknya, buang buruknya !!!
Take your time to reading, enjoy it !!! 🍵🧸
❄
Keep VOTING !!!✨
--------------------------------------------------------------
Lisa POV🌸
Kami selesai fitting di butik rekomendasi khusus pengantin terbaik di Seoul. Dan kini Jisoo membawa aku dan Jennie menuju salah satu restoran di hotel papa. Aku akan bertemu Jin hyung, sementara Jennie sudah membuat janji bersama sahabatnya, Rose.
Sebenarnya kami reservasi di tempat yang sama, namun di meja yang berbeda, ruanganku juga bersebelahan dengan Jennie, bahkan menu yang kami pesan juga hampir sama.
Jisoo kuminta untuk menemani Jennie di ruang naratama bersama sahabatnya itu, sementara aku akan berbicara empat mata dengan Jin hyung.
###
"Sayang, sepertinya Jin hyung sudah tiba, sebentar lagi aku kembali hm? Nikmati makananmu, selamat makan siang juga untuk kalian" ucapku pada Jennie, Jisoo dan Rose sahabat Jennie.
Usai mencicipi semua makanan serta minuman Jennie yang kurasa aman, aku segera berpamitan untuk menemui Jin hyung.
"Iya sayang, nikmati makan siangmu juga hm? I love you" bisiknya lantas Jennie mengecup pipiku.
"I love you more" dan aku pun membalas kecupannya pada bibirnya. "Jisoo, tolong jaga istriku sebentar"
"Arasseo, sana ke ruang sebelah, siapa tahu temanmu sudah makan duluan"
"Sayang aku pamit ya?"
"Iya sayang"
"Rose selamat menikmati makan siang"
"Gomawo Lisa, aku pasti menikmatinya bersama Jennie dan Jisoo eonni"
"Keure"
###
"Hyung, mian, aku tadi dari ruangan Jennie. Sudah lama?"
"Aniya, belum, baru beberapa saat. Tumben kau janjian di sini? Seperti ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan" ucap Jin hyung yang memang sudah mengenaliku, bahkan dia bisa menebaknya sebelum aku berbicara.
"Kau benar. Sebenarnya aku ingin bicara santai saja denganmu, tapi ternyata hal ini memang harus kita bicarakan empat mata, karena hanya kau yang paling aku percaya hyung. Setelah Jisoo, orang kepercayaanku hanya dirimu, di luar keluarga sedarah termasuk istriku"
"Aku tersanjung, baik, katakanlah, apa yang sudah mengganggu pikiranmu itu? Hal penting apa yang akan kita bahas dan jaga ini? Bisnis?"
"Aniya hyung, bisnis aniya. Tapi ini,"
Aku mengeluarkan secarik kertas yang di mana terdapat darah pendeta yang telah menikahkan aku dengan Jennie. Meskipun rasa traumaku sedikit hadir akan kertas ini, namun aku benar-benar tidak dapat memecahkan hal ini sendiri. Aku butuh seseorang yang bisa kuandalkan di luar kendali papa, dan tentu saja orang itu Jin hyung, orang kepercayaanku.
