Ambil baiknya, buang buruknya !!!
Take your time to reading, enjoy it !!! 🍵🧸
❄
Keep VOTING !!!✨
--------------------------------------------------------------
❄
Pukul 03.23 pagi.
Lisa tiba di kediamannya. Di luar para bodyguard masih berjaga sigap keadaan sekitar, namun tak ada yang mencurigakan di sekitar rumah.
Begitu memasuki ruang keluarga, Lisa melihat Jisoo yang tertidur lelap di sebuah sofa, buru-buru Lisa berlari menuju kamarnya di lantai atas.
"Ish Jisoo, kuminta untuk menjaga Jennie, malah tidur" ucapnya sembari membuka pintu kamar.
Lampu kamar menyala, Lisa terkejut begitu melihat istrinya sedang duduk di ranjang dan memandangi kedatangannya.
"S-sayang? Kau terbangun? Kenapa tidak tidur lagi hm?" Lisa mendekati istrinya, dan segera memeluknya. "Tidur lagi em? Kasihan baby, kau harus istirahat"
"Sayang? Baby? Siapa aku, Lisa?" Jennie melepaskan pelukan suaminya, mendorongnya dengan nada kesal.
"Kenapa sayang? Kau istriku"
"Kenapa kau pergi di saat istrimu tidur? Kau mencoba untuk mengkhianatiku?"
"Astaga Jennie, tidak mungkin sayang"
"Ya lalu apa yang membuatmu keluar malam-malam tanpa memberitahu ISTRIMU?" Jennie berteriak membentak suaminya, hingga Lisa tertegun dan berkeringat dahinya.
"Ahm, sayang, aku ada urusan tadi"
"Ya urusan apa hingga kau pergi malam-malam begini? JAWAB AKU LISA!"
"Jennie sayang, jangan berteriak em? Baby kita tidak boleh mendengar orang tuanya berteriak. Mianhae, baiklah aku tidak akan mengulanginya"
"Jawab aku atau aku akan menceraikanmu!"
"Jennie? Apa yang membuatmu berpikir untuk menceraikanku? Harus sejauh inikah? Aku hanya keluar untuk suatu urusan yang tidak bisa aku beritahu padamu, dan itu demi kebaikanmu sayang. Tenanglah hm? Aku tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak, apalagi sampai mengkhianatimu"
"Kalau begitu beritahu aku, karena aku ingin tahu. Lisa, kau bilang aku ini istrimu, tapi kenapa kau merahasiakan sesuatu dariku?"
"Sayang, ada beberapa hal yang tidak selalu bisa kita bagi pada orang yang kita cintai"
"Tapi kita menikah untuk membagi segalanya Li"
"Tidak untuk masalahku, sayang. Sudah hm? Sekarang kita tidur, maafkan aku karena telah pergi malam-malam" Lisa kembali memeluk istrinya, bagaimana pun Jennie tidak boleh kelelahan apalagi sampai kurang istirahat pada jam tidur.
Lisa memeluk Jennie sembari mengecup bahunya. Jennie menangis, Lisa tetap berusaha menenangkannya.
"Tapi untuk apa kehadiranku jika kau tidak mau membagi masalahmu dengan istrimu sendiri? Hiks.. Kenapa aku tidak boleh ikut di dalamnya?"
