The Bitter Truth
____________________
Udara telah terasa lebih hangat untuk ukuran sebuah musim semi. Tidak lebih panas dari hawa daerah yang ia tinggal dua hari yang lalu tentu saja, tetapi di suhu seperti ini sudah lebih sulit dijumpai sakura yang masih bermekaran. Apabila ia ingin melihat kecantikan bunga merah muda itu maka ia takkan menunda hingga akhir bulan. Nyatanya, William merasa tetap tenang untuk bepergian mendekati akhir bulan April ini.
Waktu makan malam telah lepas beberapa puluh menit berlalu. Pria itu memotret beberapa yang masih mekar di bawah cahaya rembulan. Tidak secantik pemandangan di siang yang cerah memang, tetapi bunga itu tetap terlihat pesonanya.
Ia baru mendarat siang tadi dan lebih memilih untuk keluar di malam hari sebab tak banyak insan yang berlalu lalang. Apabila ia berpelesir di pagi hari pada puncak perayaan musim semi, ia tak akan bisa memotret bebungaan tanpa adanya manusia di sana. Sungguh ramai luar biasa.
William menghirup udara dengan tarikan panjang. Ia menyukai aroma ini. Baginya malam memberikan ketenangan lain yang tak ditawarkan pagi.
Ia suka melakukannya. Duduk di tepi taman kota yang lengang dengan secangkir teh sebagai teman hangat. William memasang airpods, bersiap mendengar beberapa melody yang menentramkan hatinya. Tetapi khidmat itu belum segera ia dapatkan sebab ada yang merusuhi musiknya dengan denting pemberitahuan bertubi-tubi.
Bang Zafran: Siap yang udah tamasya duluan
Bang Zafran: Bahkan Asa aja belum sempet honeymoon, dia udah nyolong start
Doni: ???
Doni: Siapa yang honeymoon, Bang?
Bang Zafran: *sent a picture
Doni: netnoot siapa bang?
Doni: netnoot yang honeymoon?
Bang Bram: Wkwkw Don don
Bang Bram: Lu abis tidur ashar apa gimane jam segini dah linglung aje
Bang Zafran: Jelasin Bram, gw dah ga sanggup
Bang Bram: Itu screenshoot igs kakaknya Willi, ya kan ya? @William A. Efendi
Doni: Oh, maksudnya kakaknya Bang Will yg honeymoon?
Bang Zafran: aaaahhhh!!!
Bang Zafran: gue datengin lu ye
Bang Bram: Sabar-sabar sodara sekalian, semua bisa diatasi dengan kepala dingin
Bang Bram: Itu kakaknya Willi apdet story, Willi lagi ke Jepang. Gitu paham, Don? @Doni
Doni: Owalaaaaaah
Doni: Wkwkwkwk gitu doang ternyata
Bang Zafran: Gitu doang lu lola ya ngaca
You: unfol skrg, itu akun privet buat yg deket aja @Bang Zafran
Bang Zafran: orang gue di-accept. gue tuh udah dianggap deket
You: gue bilang ke Leo
Bang Zafran: Njiiirrr. Cepu.
William tersenyum samar. Senang atas godaan kecil kepada Zafran. Dulu, temennya ini sempet naksir Anetta. Memang agak mirip-mirip sih kelakuannya, liar—salah—bebas. Makanya awal-awal, Zafran suka banget caper kalau lagi main di rumah William. Tahu sih cuma iseng, Zafran nggak akan berani, ngobrol aja tengsin dengan kakaknya apalagi nembak, tapi bagi William itu tetap masa-masa yang lucu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salted Caramel
Aktuelle LiteraturPerkenalkan, dia adalah Nia, dokter muda, penyuka manis, yang sedang mengejar cita-cita, tetapi sama mama sering dijodoh-jodohkan. Ia berjabat tangan dengan William di sebuah jamuan makan malam, pengusaha, penyuka sup asin, dan seseorang yang tak pe...
