14 | Undefined Thing

449 39 0
                                        

So Close, Yet So Far

_________________



"Sudah hampir sampai." Ari berbisik pelan yang dimaksudkan untuk membangunkan tetapi tidak mengagetkan.

William membuka mata, ia menegakkan punggungnya, terbangun dari tidur ayam yang ia lakukan selama perjalanan. Semalam, ia memiliki tidur yang tak begitu nyenyak. Terbangun beberapa kali padahal sendirinya baru lelap lepas tengah malam. Ada perasaan yang membebani. Ia enggan sekali melakukan perjalanan ini, walau akhirnya toh sebelum subuh ia sudah bersiap menuju bandara. 

Selama di penerbangan hingga mendarat ia mempelajari skema aset, modal, dan hutang dari laporan tahun lalu dan Q1. Mencatat beberapa poin penting yang hendak disampaikan dalam diskusi.

Ari adalah rekan kerjanya dulu yang menjadi sekretaris manager cabang. Ia ditarik dimutasi ke Cabang Surabaya untuk menjadi sekertaris sekaligus asisten pribadinya. Laki-laki itu sudah siap menunggu di Juanda.

"Beneran nggak sarapan dulu? Saya bisa coba minta undurkan jadwal rapatnya."

"Nggak usah." William melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. "Nanti bawakan saja kopi ke dalam." Sudah mendekati pukul 9. Pesawatnya agak sedikit delay dan juga perlu waktu membelah traffic Surabaya timur hingga ke barat di Senin pagi begini. Ia tak nyaman untuk terlambat di hari pertama bertemu dengan dewan direksi.

Sebelumnya, ia memang berencana untuk berangkat ke Surabaya minggu malam, tetapi membatalkan tiketnya saat Anya sedang tidur siang. Mengubah jadwal penerbangannya menjadi setelah subuh.

"Selamat pagi, semuanya." Untungnya, ia bisa tiba di kantor sebelum rapat dimulai. Sudah banyak agenda yang menunggunya di sini. Mungkin sebab terbiasa, tidak perlu waktu lama baginya untuk menyesuaikan mode liburan dan bekerja. Ia sudah fokus mempelajari project plan yang akan dilakukan.

Pukul 12 lebih ia menuju ruangan. Ari sudah menyiapkan makan siang di mejanya supaya William bisa mengisi energi. Setelah itu, ia segera bertolak menuju Citraland, mengecek sendiri lokasi calon experience center dibangun. Penentuan lokasi itu sebelumnya telah memakan waktu beberapa bulan, mempertimbangkan kompetitor, luas lahan, target market, dan akses. William berani memutuskan untuk membangun di daerah yang lebih mahal demi membeli nama pilot project itu. Statusnya masih plt, tetapi jika proyek ini lancar, kemungkinan besar sesuai harapan papinya, ia bisa diangkat menjadi direktur cabang.

Ia kembali ke kantor untuk kemudian mengagendakan finalisasi project plan dengan masing-masing bagian sebelum pitching dilakukan.

Hingga lepas pukul 9 ia meninggalkan kantornya. Sedikit lembur sebab harus memeriksa revisi pada bagian sketsa maket dan operation. Ari sebenarnya sudah mengaturkan jadwal sedemikian rupa. Pola kerjanya memang padat tetapi dibuat efektif. Selain apabila ada hal-hal yang memerlukan diskusi panjang, ia bisa pulang tepat waktu.

"Oh, iya." Saat berada di dalam lift menuju lantai bawah Ari menyela. "Ada kiriman untuk Pak William di meja resepsionis. Kita ke lantai satu dulu."

"Dari siapa?"

Ari mengedikkan bahu.

William dan Ari menghampir ke lobi depan. Seorang pegawai menyampaikan ada paket yang dikirim ke alamat kantor, yang ditujukan kepada William. Laki-laki itu menerima paperbag yang berisi tanaman Jade di pot putih. Tidak ada nama pengirim, hanya selembar struk gosend yang tersisa, sudah lusuh tak begitu terbaca.

"Taruh sini saja." William mengeluarkan tanaman itu dan meletakkannya di meja resepsionis. Toh ia sendiri tak tahu siapa yang mengirimkan. Ia sudah berjalan lebih dari sepuluh langkah menuju mobil mereka terparkir saat kemudian benaknya teringat sesuatu.

Salted CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang