42 | Recover

384 25 0
                                        

Waves on sandcastle

___________________

Hangat dan nyaman. Bisa dikatakan, Nia tidak punya banyak pengalaman. Tetapi pelukan William selalu terasa demikian.

Ia bergeming, hingga terdengar sahut-sahut suara dari teman-teman William. Nia mengintip dari balik bahu, untuk bisa mendengar lebih jelas. William lantas melepas peluk yang entah sudah berapa lama.

"Udah makan?"

Nia mengangguk. Ia sudah mengisi perutnya dengan makanan cepat saji yang sudah ia pesan dari sore. Sengaja agar tidak terlambat datang, meski pada akhirnya ia membutuhkan waktu lebih banyak sebelum kemari.

"Kamu habis keramas?"

Nia mengangguk. Rambutnya lepek setelah seharian kesana-kemari menangangi pasien. Ia merasa malu untuk datang dengan kondisi seperti itu. Walau sekarang sepertinya tidak terlalu berbeda."Aku boleh pinjam hairdryer nggak?"

"Ada di kamar."

"Oke, aku tahu tempatnya."

Nia mengatakan tidak perlu diantar. Sebab sahut-sahutan para lelaki mulai terdengar jelas—dan membuatnya malu. Ia merasa perlu mengirim William kembali ke kawannya A.S.A.P.

Seusai mengeringkan helai rambut hingga batas yang ia nyaman—tidak terlalu kering, tetapi tidak basah juga, ia memoles bibirnya. Tidak banyak make up yang dibawa sebab ia lupa. Ia mematutkan diri di depan cermin sebelum keluar kamar.

Di ruang tengah, Nia menyapa Frista dan Icha yang terlihat ngobrol. Perjumpaan mereka sebelumnya bisa dihitung jari, jadi ia belum begitu mengenal akrab. Ia yang banyak absen ketika ada acara begini.

"Habis jaga ya?"

"Iya." Nia mengangguk. "Lo habis kerja juga?"

Nia menangkap Frista masih mengenakan kemeja formal—meski telah banyak bekas lekuk tapi masih lengkap dengan vest hitam.

"Biasa, lembur."

"Oooh." Nia membentuk o dengan mulutnya.

"Dulu gue juga suka biologi. Tapi sayangnya gue penakut, jadi nggak mau deh ambil jurusan kesehatan."

"Oiya, Cha?" Sepertinya Frista juga baru tahu mengenai informasi ini.

"Jadi dokter gitu harus orang-orang yang berani, nggak sih? Harus nyuntik, harus menangani pasien yang berdarah-darah gitu. Gue nggak bisa bayangin seremnya. Apalagi yang dokter kerja sama mayat-mayat gitu."

"Lo dulu pas kuliah berarti pelajari semuanya dong ya? Serem banget."

"Yaa gitu deh. Serem ya ada seremnya, cuma ya emang harus tahu."

"Kalau jaga tengah malem gitu suka nemu hal-hal aneh nggak sih?"

Icha menatapnya penasaran.

"Ada sih kalanya kaya diganggu, eh enggak sih, kaya diajak main. Ketuk-ketuk tapi enggak ada orang. Dan kalau dibilang nakutin ya emang nakutin. Dan nggak setiap hari gue berani juga. Cuma yaa, harus dijalani aja." Nia mengusap lehernya. Bingung menjelaskan bagaimana battle yang tiap hari ia hadapi, dengan dirinya sendiri bahkan.

Nggak setiap hari ia berani. Ada waktu ia ketakutan. Beberapa jam yang lalu, ia seakan berperang, berebut nyawa dengan Yang punya. Ia perlu waktu lebih untuk meyakinkan, bahwa ia telah berusaha sekuat yang ia bisa. Memberi maaf pada keterbatasan seorang manusia.

Tidak setiap hari pula ia bisa mengusahakan untuk berani. Termasuk saat menemui keluarga William. Meski mereka jauh lebih tidak mengancam nyawanya saat itu juga, tetapi entah. Menghadapi mereka seperti sedang menimbang masa depan. Barangkali sebab, Nia sudah meletakkan seluruh hatinya pada pria itu. Dan ia tidak ingin kehilangan.

Salted CaramelCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang