17 | Her Concerns

497 36 0
                                        


The Feelings

___________


Devina heboh. Tentu saja. Temannya itu mengungkit bagaimana selama ini Nia bahkan malas berbalas pesan dari orang-orang yang mendekatinya (dan dijodohkan dengannya) tetapi sekarang justru mau melakukan panggilan video. Nia beralasan pria itu yang memaksa—lanjut meminta maaf telah mencoreng nama baik William dalam hati. Efek spa yang harusnya membuatnya rileks jadi cuma terasa separuh, kepalanya masih runyam. Baiklah, dia memang sudah jujur naksir dengan William, tetapi memikirkan risiko bagaimana hubungan ini akan berjalan makin mengusiknya—selain risiko patah hati.

"Dor!!" Nia menoleh ringan. "Yaah, nggak kaget ya." Indra sudah dengan sengaja berpose mengagetkan ketika masuk ruangan sia-sia sebab Nia tidak terkejut sedikitpun. Pria berkacamata itu kemudian duduk di sampingnya. Ia habis memeriksa pasien posyandu alias anak-anak yang terkena diare. Lumayan cekatan juga Nia membandingkan, tidak seperti first impression di mana pria itu lebih banyak main game.

Nia menggeser duduk mengambil tasnya, mengeluarkan sebotol kecil dari dalam. Ia sering terlupa tetapi akhir-akhir ini tampaknya perlu merajinkan diri.

"Apaan tuh?" Indra bertanya.

"Vitamin C sama B-kom. Mau?"

"Mau lah, sini."

Nia membagi beberapa butir miliknya. Ia hendak menyuruh Indra mengambil gelas cup saat pria itu mengangkat tumblr milik Nia—meminum langsung dari sana walau tak menyentuhkan bibirnya.

"Thank you ya, gue juga butuh booster nih sebelum kaya zombie."

Nia menyimpan berbekalan dopingnya. Ia memang jarang jaga bersama Indra dan baru ia lihat akhir-akhir ini laki-laki itu terlihat lebih kuyu. Kantung mata dibalik kacamatanya melebar seperti panda.

"Lo abis jamal di sini?"

"Bukan di sini."

"Eh iya, gue kayaknya belum tahu deh, lo praktik di mana aja?" Nia mengingat ia belum bertukar informasi ini.

"Sini, trus RSIA Bunda, sama-"

"Lo di RSIA Bunda?"

Pria itu menoleh ringan, tak paham dengan keterpanaan Nia. "Iya, kenapa deh?"

Nia menghela napas. "Ih gue tuh pengen banget di sana, tapi kayak nggak ada lowongan mulu ya?"

Indra ber-oh ringan. "Lo pengen Sp.OG ya?"

Nia menoleh kilat. Bagaimana pria itu tiba-tiba menebak? Dengan benar lagi. Padahal ia sudah bersikap sok misterius soal pilihannya ini—kepada Jean dan Devina pun belum jujur. Nia nggak mau menjawab pertanyaan makanya ia hanya diam.

"Ada sih lowongan, cuma ya ytta aja."

"Hmm?"

"Yang tahu-tahu aja, alias tahu-tahu ada yang masuk."

Jalur ordal. Oke lah, Nia mewajarkan. Bukan hendak menganggap hal itu baik, tetapi memang sudah umum praktiknya demikian. Yang lulus sebagai dokter umum itu setahun sudah banyak di Ibukota, tetapi yang mau bekerja menyebar keluar ke pelosok—selain yang pulang kampung—mungkin hanya sedikit. Makanya persaingan agak tinggi—terutama untuk rumah sakit swasta yang agak elit. Biasa lowongan yang disebar secara umum itu dari rumah sakit low-mid—yang sudah melewati tahap dari mulut ke mulut belum nemu dokter yang cocok.

"Emangnya lo bisa kerja di tiga tempat?" Indra mengajak ngobrol sebab Nia banyak melamun memikirkan hal ini. Secara struktur, ia bisa menempatkan SIP di tiga tempat. Secara badan saja mungkin yang ajur.

Salted CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang