If it's you
____________
Perempuan itu duduk sembari meremas jarinya. Menyatukan kedua yang ia punya di pangkuannya sendiri. Mengatur nafas sebab belum apa-apa, ujung jemarinya sudah dingin. Mungkin air conditioner di mobil William memang selalu diatur dingin, atau karena ini masih pagi.
Matahari belum terlalu tinggi. Sinarnya mengenai ujung-ujung pepohonan mewarnai dedaunan dengan cercah kekuningan. Awan-awan hanya tampak tipis, seperti mengarsir biru di beberapa titik saja. Such as a perfect weather for Jakartans. Tetapi, perempuan itu sudah merasa gugup sepagi ini.
Nia menoleh ka arah pintu di sampingnya yang kemudian terbuka. William menundukkan punggung. Dengan begitu ia bisa bertemu pandang. Pria itu mengenakan topi baseball berwarna putih, senada dengan celananya. Sedang kaosnya berwarna biru navy hampir gelap. "Mereka sudah di dalam."
Perempuan itu mengangguk. Ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan sebelum turun.This is the day. Pertemuan yang ia setujui kala William melempar tanya.
Perempuan itu tidak sedang akan OSCE maupun SOCA. Namun, meski dua bentuk ujian berat itu sudah pernah ia lalui, ujian yang ini terasa lain. Cause no one could ever prepared you for. Ujian tulis maupun praktek, sesulit apapun masih ada materi yang bisa ia pelajari. Bertemu papi William tidak pernah ada panduannya sama sekali.
"Is it really fine?"
Nia menegakkan posturnya, tangannya merapikan kembali kostum yang ia kenakan. Memastikan ia sudah pantas. Roknya mengembang sedikit di atas lutut. Kalau bukan punya Devina, ia tidak akan punya seragam seperti ini. Bawahan layered pleated skirt berwarna putih ia padukan dengan kaos polo berkerah warna navy—senada dengan William. Rambutnya kali ini ia kuncir tinggi, helainya mengayun dari balik baseball cap yang ia kenakan. Semua milik Devina. Sebab undangan pertemuan itu tidak terjadi di tempat ia biasa membayangkan seperti private dining room, melainkan di lapangan golf. Dan Nia tidak pernah punya hafalan yang lengkap mengenai ini semua.
"What do you mean?" William bertanya dengan tatapan tidak percaya. "You look stunning. Also..." Pria itu mendekat. "You smell nice. Kamu ganti parfum ya?"
Nia memang baru memakai parfumnya saat William turun dari mobil. Wangi baru yang ia pernah beli, tetapi baru kali ini ia pakai. Aromanya white flower bercampur rose yang lebih segar untuk dipakai di luar ruangan.
"Kenapa? Nggak cocok ya?" Mungkin karena gugup perempuan itu jadi menganggap ada yang salah.
William tersenyum tipis. Mendekatkan hidungnya kembali untuk menghirup wangi, diakhiri dengan mencuri kecup di salah satu pipi. Menghantarkan rasa hangat yang dirasa perempuan itu menjalari dadanya. Setelahnya pria itu menangkupkan tangannya untuk menggenggam tangan Nia. "Kok dingin?"
Nia meringis kecil. "Agak takut disuruh mukul, aku bisanya nyuntik."
William tertawa lebar mendengar celetukan grogi perempuannya itu. Olahraga ini memang sudah Nia coret sejak pertama mencoba dengan Devina dan Jean. Alasannya selain mahal, juga rawan encok menurutnya. Jadi Nia tidak punya pengalaman selain itu.
"Tenang, nanti aku ajarin." William terpantau jumawa. Walau tak lama menambahkan beberapa kata. "Aku juga nggak jago-jago banget sih. Tapi bisa."
Mereka berjalan puluhan langkah dari tempat parkir sekarang. Ke arah pintu masuk salah satu lahan paling mahal sewanya di Jakarta ini. "Oh iya, btw, Anetta nggak jadi ikut. Soalnya Kayla demam semalam. Sepertinya kelelahan."
"Kayla..."
Nia mengingat gadis kecil itu. Sudah seberapa besar ia sekarang, ia tidak tahu. Saat huru-haranya terjadi ia pernah berpikir bahwa bermain dengan Kayla jadi salah satu core memory yang barangkali akan sukar untuk ia ulangi. Ia rindu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salted Caramel
Fiction généralePerkenalkan, dia adalah Nia, dokter muda, penyuka manis, yang sedang mengejar cita-cita, tetapi sama mama sering dijodoh-jodohkan. Ia berjabat tangan dengan William di sebuah jamuan makan malam, pengusaha, penyuka sup asin, dan seseorang yang tak pe...
