43 | Sweet Chaos

349 28 0
                                        




I Like it anyway


_______________

"Iyaa."

Dilirik.

"Kamu juga, Sayang."

Dilirik kembali.

"Hmmm."

Kali ini William mengacungkan telunjuknya pada pria yang melirik ke arahnya berkali-kali. Ari cuma tertawa tanpa suara.

William meninggalkan balkon hotel seusai menutup panggilan dari Anya. Aroma MSG sudah memenuhi hampir seluruh ruangan. Pria itu mengambil duduk di sofa yang tersedia. Sudah ada kaleng minuman karbonasi dan ayam goreng di meja.

"Eit. Hampir aja." Ari hampir menumpahkan gelas mie dengan sikunya. Pria jangkung itu sibuk membuat mie instan dengan resepnya—menambahkan daun bawang, telur ayam, dan lain-lain yang mereka temukan di minimarket dekat hotel. Katanya resepnya membuat mienya berkali lipat lebih nikmat. William membiarkan.

Mereka bisa saja memesan makanan dari luar atau dari hotel, tetapi Ari bilang dia ingin makan mie dan William ikut saja.

"Perlu gue bantu?"

"No."

"Kenapa?"

"Gue 100% nggak percaya sama kemampuan masak bos."

Sial. William bergumam. Tapi ya memang ia tak punya bakat seperti Ari.

"Masih mending gue dibantuin cewek gue. Karena meski dia nggak bisa masak, dan anak gedongan banget, tapi herannya dia bisa tahu dan cegah gue buat clumsy. Kaya' bantu nutup toples lebih rapat, mindahin kain lap sebelum keinjek dan bikin gue kepleset." Ari membawa nampan yang berisi dua mangkuk mengepul. "Menurut gue, dia emang udah cocok sama gue."

"Gue juga nggak lagi flirting ke elo ya, Ri."

"Ya kali aja. Karena lo jauh dari Bu Dokter."

William menyeka tutup kaleng minuman dengan tisu dan membukanya. Ia menyesap perlahan. Sedikit, dan menjadi jarang ia mengonsumsi minuman beralkohol yang biasa menjadi koleksi. Kalau tidak pada acara tertentu, ia memilih minuman lain. Karena William bertanya, Anya pernah menjelaskan secara panjang dampak cairan itu untuk hatinya. Dan pria itu masih ingin hidup lebih lama.

"Menurut gue cinta tu kayak gitu. Lo sering berantem nggak?"

William menggeleng. "Enggak". Selain hal besar yang terjadi lantaran faktor luar itu, William merasa hubungan mereka baik-baik saja.

"Itu karena cewek lo pasti sering take a little hint dari interaksi yang lo lakuin. Mereka sudah menganalisis dari likes dan dislikes elo. Dan compromise dengan cara mereka. Kalau pasangan yg sering berantem itu kadang mereka nggak nggeh, atau ya nggak mau aja. Cause reading people itu juga butuh effort. Aih panas." Baru sesuap mie yang mau masuk.

William mendengar tanpa ekspresi. Ari memang cerewet. Ada saja hal yang dibahas dan dibicarakan. Pria itu hanya akan diam kalau sedang tidur atau sedang mengunyah. Maka kadang-kadang William perlu menghindar dari pria itu kalau sedang butuh noise reduction. Seperti saat ke balkon tadi. Sisanya, ia membiarkan suara Ari mengisi ruang sekitarnya, atau jika berniat ia akan menimpali sesekali. Karena terkadang yang dibicarakan Ari juga menarik.

Seperti yang barusan dikatakan. William jadi mengingat bahwa jika ia rindu, ia akan datang tanpa menunjukkan rasa lelahnya. Saat mereka sedang bersama, dan William masih fokus pada pekerjaan atau membutuhkan waktu tanpa gangguan, Anya bersedia menunggu tanpa merajuk.

Seringkali, saat kepalanya kepalang sibuk sendiri, Anya kerap menyentuh lengannya. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengingatkan agar William memperhatikan sekeliling. Membuatnya hidup dan bernafas dengan kesadaran.

Salted CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang