Unexplained
_____________
"Lho, Anya?"
Ari yang lebih dulu menyapa seseorang. William dengan cepat mengalihkan pandangannya dari hewan bersayap yang tampak tak semangat di balik sangkar hitam. Perempuan itu tertangkap di panca inderanya. Dan William tidak bisa menahan ujung bibirnya untuk melebar.
Banyak pikiran memenuhi kepala pria itu. Sebagaimana isi kepala orang-orang yang mengaku dewasa di sekelilingnya. Ia tak pernah menyangka akan serumit ini menentukan kapan ia tidur dan kapan ia terbangun. Gelas-gelas berkaki jenjang yang berisi anggur beraroma kali ini lebih sering tergantikan oleh cairan hitam pekat hangat. Ia lebih banyak membutuhkan sesuatu yang membangunkannya dibanding yang menenangkannya hingga lelap.
Di waktu terjaga, banyak saraf yang ia gunakan untuk memikirkan langkah demi langkah perusahaan kecilnya. Ia tahu, bersemat nama belakangnya kini bukan hal yang mudah. Banyak ekspektasi yang beruntun datang. Dari dalam, dari luar. Orang-orang yang ia temui hari ini tidak mudah untuk dipuaskan. William masih ingin berdiri sendiri, tidak dipapah sebagai mana ia telah berjanji pada papanya. Namun, semua yang ditangannya datang bukan tanpa beban.
"Nggak mudah, tapi gini sih bos, banyak yang dulu cita-citanya pengen kayak bos sekarang. Menurut gue, hidup emang bukan cuma isinya yang gampang aja." Ari menyambung. William paham itu.
Namun, kesadaran saja tak akan melepas jemu dan letih yang lama-lama menggantung gelap di bawah matanya. Seperti yang pernah ia dengar, menghidupi mimpi-mimpi orang lain berarti harus membayar lebih agar segalanya tidak sia-sia.
Mungkin terdengar klasik seperti album lawas yang diputar berulang kali. Singkat kata, sebenarnya ia hanya sedang kehilangan bara api. Motivasinya untuk pindah kemari memilih pegi. Atau, sejatinya ia yang salah meletakkan bintang itu sedari awal?
Sekretarisnya itu membelokkan mobil ke arah taman mini, selepas presentasi yang berlangsung rumit dengan potential investor. Ajakan kedelapan yang ia setujui. Ari mengajakkan bermain golf, William menolak karena sedang malas bergerak. Ke bar? Mulutnya tidak ingin. Makan? Perutnya tidak selera. Berat badannya ia yakini turun walau tak jelas angkanya berapa. Kepalanya sedang panas. Ia memang butuh dihibur oleh ketenangan alam. Dan guyonan garing milik Ari, sebelum akhirnya pria itu menemukannya.
"Wah, kebetulan banget ketemu di sini." Masih Ari yang bicara.
William tidak tahu hendak menyambung dengan kalimat apa. Beberapa masa belakangan ia hanya mampu memandangi nomor perempuan itu. Menimbang dengan tidak adil—apakah perlu ia menelponnya, sekedar bertanya bagaimana kabarnya. Tidak adil sebab ia terlalu banyak merasa, bahwa itu hanya membuka luka bagi Anya.
"Iya, nih." Anya bersuara renyah.
Entah kapan langkah itu dimulai, William dan Ari sudah berjalan mendekati perempuannya berdiri.
"Kok kurusan? Eh, sekarang udah sehat belum, Nya?"
Anya memang terlihat lebih langsing. Namun, ada hal lain yang lebih mengusik William. Tangan William menepuk dada Ari ringan, tetapi tetap memicu kerutan heran yang diperlihatkan.
"Apaan sih, bos? Masa gini doang cemburu? Gue nggak boleh nih ngobrol basa-basi sama Anya?"
Sejujurnya bukan itu sebabnya. Hanya cara Ari memanggil perempuannya. Anya adalah panggilan yang khusus ia sematkan, panggilan yang biasanya hanya ia yang ucapkan. Barangkali karena ia sering menceritakan, Ari jadi ikutan memanggil yang serupa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salted Caramel
Ficción GeneralPerkenalkan, dia adalah Nia, dokter muda, penyuka manis, yang sedang mengejar cita-cita, tetapi sama mama sering dijodoh-jodohkan. Ia berjabat tangan dengan William di sebuah jamuan makan malam, pengusaha, penyuka sup asin, dan seseorang yang tak pe...
