Consequences
_____________
"Tapi tuh gue juga pernah kaya gitu. Pas lagi di kondangan, bayangin aja, gue nggak sengaja lihat-lihatan sama temen SMP gue. Terus dia jalan kan ke arah gue, gue kira bakal nyapa dan basa-basi gitu lah. Soalnya kan kita emang udah lama banget nggak ketemu. Dan dia juga salah satu temen yang nggak sekedar kenal aja gitu lho, kita tuh pernah deket. Dan lo tahu apa yang dia tanyain ke gue saat pertama ketemu awal-awal itu?" Devina menjeda. Ia memutar bola matanya dramatis, menunjukkan kekecewaan.
Tiga sejoli itu sedang staycation tipis, bermalam di rumah Devina yang kebetulan sedang sepi. Kedua orang tuanya sedang simposium di luar negeri. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk berkumpul, mumpung jam liburnya barengan.
Jean baru saja bercerita kalau ketika dia mudik, tidak jarang jadi ada satu dua tetangga yang tiba-tiba bertamu ke rumahnya. Bertanya soal penyakit—masalah kesehatan, bahkan terkadang sampai meminta resep padanya. Padahal ia tidak membuka praktek.
"Lo dateng sama siapa?" Jean tidak bertanya, tetapi memberikan jawaban tebakan dari pertanyaan yang Devina berikan.
"Enggak. Dia tahu-tahu bilang, 'Eh lo dokter ya sekarang. Gue mau nanya dong.' Terus dia buka hape dan nunjukin bejolan penyakit kutil entah di kulit siapa keluarganya gue lupa. Absurd banget gue rasa." Perempuan berambut panjang itu memijit pelipisnya, seakan masih merasakan efek samping kegelian dari tingkah relasi yang barusan ia ceritakan.
"Gue juga sebenernya ini sih, relate banget sama postingan orang di sosmed. Intinya dia bilang, dokter tu bisa jadi profesi yang lonely. Karena makin lama, orang-orang datang ke kita cuma buat bicaraain masalah terkait profesi kita. Konsul kutil lah, bisul, panu, pegel linu. Akan makin sedikit orang yang genuinely asking about us. Nanyain kabar, nanyain hari kita, care lah kepada kita sebagai manusia. I know it's actually good that they finally aware about health, but..." Jean mengedikkan bahu. "I just don't think it's 100% right things to do."
"Makanya sih, lo pada jangan sungkan kalau curhat. Kita ini cuma punya sedikit orang-orang yang care tahu nggak sih? Kaya elo, Nia."
Nia menengguk isi air putih di gelasnya sebelum bertanya dengan kedua alis terangkat "Gue?"
"Iya lah, sekarang lo jadi beda. Masa iya lo baru cerita sekarang soal pertemuan lo sama pangeran kodok lo itu. Kan kalau dari awal, gue bisa on the spot nyaranin elo buat ikut mobil dia. Dan at least diperlakukan sebagai princess minimal sampai rumah elo."
Nia ingin menoyor Devina, tetapi posisinya jauh. Ia dan Jean bersandar pada headboard, dan Devina sedang membenahi sheetmask-nya di ujung tempat tidur. Sehingga ia cuma bisa menggerakkan jempolnya menyengol ujung kaki Devina.
Nia memang baru bercerita kalau minggu lalu ia bertemu William di taman. Ia rela kehujanan sedikit lama karena ia ingin bisa bertemu lebih lama, takut kalau mereka berpindah tempat akan kehilangan momentum 'tidak sengaja bertemu' itu dan suasana menjadi awkward.
"Eh, itu juga. Pas lo sakit." Jean mengungkitnya lagi.
"Nah iya, bisa-bisanya kita dikabarin tepat sebelum lo operasi. Kek, lo anggep kita apa deh?" Devina ngegas dengan wajah bertopengnya.
Padahal yang ini juga sudah dibahas saat Jean dan Devina menjenguknya, tapi kayaknya keduanya masih punya sisa kecewa. Nia sadar beberapa kali ia dengan sengaja mengurungkan niat bercerita. Devina hendak mempersiapkan ujian masuk spesialisnya, juga Jean. Itu hal yang penting. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi teman-temannya oleh remeh temeh perkara hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salted Caramel
Ficción GeneralPerkenalkan, dia adalah Nia, dokter muda, penyuka manis, yang sedang mengejar cita-cita, tetapi sama mama sering dijodoh-jodohkan. Ia berjabat tangan dengan William di sebuah jamuan makan malam, pengusaha, penyuka sup asin, dan seseorang yang tak pe...
