Still Point
____________
Ini bukan pertama kali William menyaksikan episode ini terjadi. Lelaki itu tersenyum. Pelan ia melirik perempuan di samping kanannya. Tidak banyak yang bisa Anya telan sepertinya, sejak tadi perempuan hanya menghirup sup kosong. Di meja ini, selera Anya jadi tampak seperti omanya.
William menjulurkan tangannya mengambil piring kecil. Meletakkan di atasnya sedikit pasta yang ia ambil dengan garpu. Ia menyendok daging, turut membubuhkan di atas pasta. Pria itu mendekatkan hidangan itu di meja hingga menyentuh mangkuk Anya, menyebabkan bunyi denting yang terdengar. Perempuannya mendongak.
"Kamu bisa kembung air kalau makan kuah terus. Cobain ini deh."
Anya tidak membalas. Ia hanya mengangguk gugup. Dengan pelan memindahkan piring kecil itu ke depannya, menggantikan sup yang telah habis isinya.
William tahu, wanita di depannya lah yang menyebabkan pacarnya kikuk. Kali ini mereka makan bersama. Makan semeja di ruang makan keluarga. Di ruang privat milik Omanya.
Maminya jelas menolak ide ini sejak pertama diutarakan. Perayaan ulang tahun yang biasa di halaman belakang rumahnya terbuka untuk umum, siapa saja boleh William undang. Tetapi di sini, acara makan malam di rumah oma menurut maminya adalah acara 'keluarga'. Dan 'orang lain' tidak boleh datang.
Papi tidak banyak bicara atau memberi komentar, bahkan sejak ide ini terlontarkan. Barangkali semenjak pertemuan di golf bulan lalu, papi berada di sini tidak terlalu ikut campur. Asal kerjaan William beres, tentu saja. Toh papi sudah mengenal tante Sinta dan latar belakang bisnis mereka. Tidak banyak yang bisa ditentang berkaitan dengan kepentingan.
Lagipula, Ulang tahun bukanlah barang penting. Justru menurut William, acara makan malam ini terasa spesialnya adalah justru karena Anya. Memang jadi tidak banyak yang dibincangkan karena kedua orang tuanya banyak diam, sesekali hanya papa menanyakan pekerjaan. Namun toh tidak ada dari mereka yang hadir di sini belum mengenal Anya. Dan itu menurutnya sudah setara dengan makna keluarga. Ia memang ingin merayakan malam ini demikian. Dan itu juga merupakan kebebasan.
William mendongak, menatap mami dan Anya bergantian. Mereka bisa duduk berseberangan dan makan dengan tenang di meja ini saja sudah membuatnya cukup bersyukur. Tidak saling melempar pisau, secara harfiah maupun kiasan.
"Aku ada hadiah." Anya berbisik kala acara makan malam usai dan keluarga itu menyerahkan kado-kado untuk William.
William mengalihkan pandangannya dari mahakarya—gambar—yang diberikan oleh Kalya. Kali ini motifnya sudah lebih terdefinisi dibanding tahun lalu. Ada empat orang dewasa dan satu balita di tengah, bergandengan tangan. William telah mengasumsikan itu adalah Anetta, Leo, dirinya, juga Anya.
"Mana?"
"Buat mama kamu, tapi kayaknya, aku nggak bisa ngasih itu sendiri." Anya berkata pelan.
Biasanya, seusai acara makan malam mereka masih berkumpul untuk mengobrol. Seperti Papi dan Leo yang sekarang duduk berdua di teras belakang. Anetta dan Kayla yang mengobrol dengan Oma. Tetapi malam ini berbeda. Maminya langsung pergi ke kamar tanpa berbasa-basi.
"Kenapa kamu ngasih hadiah buat mami? Kan yang ulang tahun aku."
Anya menyibakkan helai rambutnya di belakang telinga. Lantas menunduk sejenak memandangi jari-jarinya yang saling bergerak. Ia berujar, "aku ada hadiah buat kamu tapi besok aku kasihnya. Lagipula, menurutku ini perlu. Tanda syukur kalau di hari ini puluhan tahun lalu, mami kamu sudah lahirin kamu."
"Kayaknya mami dulu sesar, jadi nggak sakit banget deh." William ingin bercanda, untuk mereda sedikit gelisah yang tampak di wajah Anya. Tetapi gadis itu tidak tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salted Caramel
General FictionPerkenalkan, dia adalah Nia, dokter muda, penyuka manis, yang sedang mengejar cita-cita, tetapi sama mama sering dijodoh-jodohkan. Ia berjabat tangan dengan William di sebuah jamuan makan malam, pengusaha, penyuka sup asin, dan seseorang yang tak pe...
