44 | Ask for the hand

634 21 1
                                        

Unperfect story

________________


Nia terbangun sedikit tersentak karena merasa ada yang menggerakkan kasurnya. Ketika ia membuka mata, ia menangkap bayangan William. Perempuan itu mengernyit sambil mengumpulkan kesadaran.

"Hmm? Kamu William?"

"Iya aku baru datang. Langsung ke sini."

Bayangannya berbicara. Nia berkali mengedipkan matanya untuk menghalau buram sisa tidurnya. Setelah dengan jelas melihat, baru Nia tahu memang benar ada William di kasurnya sekarang.

"Hah? Kenapa?" Nia masih mencerna sambil memposisikan duduk.

William tidak menjawab. Maka perempuan itu mengamati pacarnya. Menyentuh dan membalikkan telapak tangan untuk melihat apakah ada bagian yang terluka.

"Kamu sakit?" William menggeleng. Pria itu lantas menggenggam tangan Nia. Dingin terasa menyebar.

"Kenapa tangan kamu dingin?" Ganti perempuan itu yang menangkupkan telapaknya melingkupi milik William.

William menggeleng lagi. Ia terlihat kikuk dan Nia tidak tahu maksudnya.

"Ada bad news soal perusahaan kamu?"

Pria itu masih menggeleng. Bahkan kini menarik satu tangannya untuk menggaruk ujung hitungnya dengan telunjuk.

"Keluaga?"

Nia masih sibuk menebak. Sebab apa yang membuat prianya datang di tengah malam setelah penerbangan ke rumahnya kalau bukan untuk situasi yang urgent.

Tebakan terakhir masih William jawab dengan gelengan. "Terus?"

Sebelum ia tidur, prianya mengejutkan dengan menelpon malam-malam. Hal itu sempat membuatnya was-was. Ia takut kejadian itu berulang, saat William sakit dan sendirian di Surabaya. Tetapi pria itu mengatakan sesuatu yang tidak begitu Nia tangkap dengan jelas. Soal mami papi, lalu juga soal buku dan warna-warna.

"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."

Laki-laki di depannya ini menahan jemari tangan Nia yang tergenggam. Tangan lainnya berusaha meraih sesuatu di balik jasnya. Memperlihatkan dengan jelas bentuk isyarat yang Nia dapat tangkap. Sebuah kotak bludru polos bewarna biru gelap kehijauan.

Nia mendongakkan wajah. Satu tangannya menutup bibir menutupi keterkejutannya.

"Sayang, aku-."

Ia bahkan tidak bisa berkata-kata. Nia merasa ini sedikit lucu. Ia sedang mengenakan piyama lusuh, baru bangun dari tidur singkatnya, tanpa make up atau polesan apapun untuk mempercantik penampilan. Untuk ocassion ini setidaknya, ia membayangkan sesuatu yang lebih proper. Seperti yang Devina unggah di sosial medianya kemarin. Mungkin pantai atau meja restoran, lilin, lalu bunga.

"Maaf. Tetapi aku nggak bisa nunggu lagi." William terlihat menelan kegugupannya. "Aku berencana untuk melamar kamu setelah kamu selesai ujian, supaya kamu tidak terbebani dengan ini. Eh- mmm, sebetulnya dulu, aku sudah berencana melamar kamu, tepat sebelum kamu minta hubungan kita untuk berakhir waktu itu, sehingga gagal. Jadi di liniwaktu yang sekarang, aku merencanakan untuk melakukannya nanti setelah kamu ujian. Tapi kayaknya, aku nggak bisa, Anya."

William menyatakannya sedikit cepat, walau terdapat beberapa kali jeda. Seperti mencoba untuk membuat susunan kalimatnya benar. Nia merasakan jantungnya berdebar.

"Jadi aku ingin bertanya sekarang." William membuka kotak itu, yang menampakkan sebuah cincin silver dengan permata.

"Anya, Stefania Ratna Adam, maukah kamu menikah denganku?"

Salted CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang