There's (a) Plan
________________
"Bangun." Sebuah gelas berisi cairan hijau kental diletakkan begitu saja di nakas. Embun mengumpul menyelimuti beningnya, beberapa titik akhirnya mengalir meluruh, membekaskan basah di tempat yang ia tapaki.
Wanita paruh baya itu berjalan cepat menuju jendela, membuka dengan gerakan tangan yang gesit menimbulkan suara nyaring dari ring gorden yang bergesekan. Dengan cepat cahaya memasuki kamar.
"Ini udah siang, kamu dari tadi tidur terus. Jangan dibiasain deh bangun siang. Perasaan semalam nggak malem banget tidurmu. Ayok bangun ah!"
Kalau omelannya sepanjang ini mau nggak mau tentu saja Nia memotong mimpinya. Ia menyipitkan mata mengadaptasikan irisnya pada cahaya yang menyilaukan. Samar perempuan itu dapat melihat mamanya yang sudah mengenakan seragam yoga.
"Mama mau berangkat yoga?"
"Udah pulang. Lihat deh, ini tuh udah siang. Kamu tuh kalau di rumah jangan tiduuur terus. Gerak sana olahraga. Lihat deh tanganmu nggak ada ototnya gitu. Bener-bener ya."
Nia tak sengaja melepas senyum. Ia menyibakkan selimut dengan segera supaya mamanya berhenti mengomel di hari yang tenang ini.
Bisa dibilang, dirinya dan mama punya gaya hidup yang sangat berbeda. Mamanya adalah wanita yang aktif dan enerjik. Pada hari biasa, mamanya rutin melakukan senam sebelum mandi dan bersiap berangkat bekerja. Jika hari libur begini, maka ia berkesempatan untuk untuk mengikuti kelas yoga di sanggar. Malam hari tak selalu tetapi sering ia akan menghubungi personal trainer untuk latihan beban di studio. Maka tak heran, di kategori usia mendekati pensiun beliau masih bugar dan terlihat awet muda.
Nia... mmm, secara usia memang lebih muda. Tetapi alasan kesibukan selalu menjadi alibi keengganannya berolahraga. Apalagi bila pasiennya membludak, ia akan mencoret apapun dari daftar kegiatan selepas kerjanya untuk memeluk tempat tidurnya.
"Mama bikin smoothies?" Matanya kemudian menangkap segelas green smoothies yang mamanya bawa ke kamar.
"Dari tadi pagi. Mama udah simpenin di kulkas tapi kamu nggak bangun-bangun. Mandi sana biar seger."
Nia mengiyakan dengan cepat sebelum terbit omelan baru.
**
"Mama mau ke mana?" Nia sudah mandi kali ini. Sudah mengganti piyamanya semalam dengan kaus kasual untuk bersantai di rumah. Ketika ia turun, ia melihat mamanya malah sudah rapi. Jika tadi pagi ia siap dengan kostum yoga, maka siang ini mamanya tampak elegan dengan riasan yang lebih bold—dari lipstick peach muda hingga bulu mata palsu.
"Mau arisan. Abis itu mau extension. Kamu mau ikut?"
Nia cepat menggeleng.
Mamanya selalu banyak kegiatan. Meski Nia menjadwalkan seminggu atau dua minggu sekali untuk pulang, akan tetapi tidak selalu ia dan mamanya melakukan kegiatan bersama. Ya, pernah sesekali ia nyalon atau belanja bareng, tetapi sangat jarang (Nia tidak begitu sabar dengan kegiatan begini-begini. Menurutnya kondisi mereka menyenangkan, setidaknya begitu. Sebuah keluarga dengan intensitas yang dirasa cukup—pertemuannya. Meski terkadang ia ingin lebih dekat dengan mamanya seperti hubungan mom-daughter di luar sana yang bisa bebas bercerita. Padahal keluarga ini hanya mereka berdua. Namun, tipis dan tidak kentara, Nia masih merasa ada batas antara dirinya dengan mama. Seperti ada sebuah kelambu yang memisahkan sejak mama bercerai.
"Aku masuk nanti malam."
Mamanya yang sedang mengecek isi tasnya berhenti.
"Kamu nggak libur sampai besok? Kerjamu ini jadwalnya apa-apaan sih?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Salted Caramel
RomancePerkenalkan, dia adalah Nia, dokter muda, penyuka manis, yang sedang mengejar cita-cita, tetapi sama mama sering dijodoh-jodohkan. Ia berjabat tangan dengan William di sebuah jamuan makan malam, pengusaha, penyuka sup asin, dan seseorang yang tak pe...
