39 | Soft Spot

601 36 0
                                        

I hate to dance, but I'd dance with you

_________________________________



Saat malam berakhir, dan pagi telah menyapa sedikit lebih lama, yang dilakukan William kemudian adalah bangun dengan perlahan. Ia menyingkirkan mimpi-mimpi abstrak yang mampir dengan membuka mata. Cahaya telah berpantulan di dinding kamarnya. Ia dapat melihat dengan kesadaran yang tak lama terkumpul. Lengannya masih berada di tempat yang sama sejak semalam. Ikut bergerak naik turun seiring tarikan nafas milik yang didekapnya.

Anya telah bangun lebih dulu. Perempuan itu menatapnya dalam diam. William tersenyum. Ia mengeratkan rengkuhan tangannya. Menarik nafas panjang sambil kembali menutup mata.

Dengan cara ini ia bisa menghidu wangi dengan lebih kuat. Aroma dari kausnya yang dikenakan Anya bercampur dengan harum yang ia rindu. Membangkitkan ingatan sekaligus menghangatkan kembali.

Perempuan itu tidak hilang. Apa yang semalam mereka bicarakan benar terjadi, bukan dalam mimpi.

William membuka mata kembali dan Anya masih menatapnya tenang. Entah sejak kapan Anya melakukan itu.

"Kamu nggak ngantuk?"

Anya terlihat menghirup nafas dengan tarikan panjang. Ia kemudian mengubah arah tidurnya. Kali ini, tubuhnya bergerak miring hingga kini dapat berhadapan penuh dengan William.

Perempuan itu menggeleng tipis. Setelah detik berlalu menambahkan. "I miss you," bisiknya serak. Membuat William tertawa dengan lebih lebar. Ia tak memimpikan hari ini terjadi lebih cepat.

Kemarin, setelah Bang Arvin mengabari karena Lala khawatir, ia mendatangi dengan berniat mengantarnya, atau memesankan penginapan. Mengajaknya pulang kemari adalah pilihan ke sekian sebab William berhati-hati. Tempatnya berada masih tidak pasti.

Namun percakapan dini hari mengubah semua itu. William merasa perlu berterima kasih pada bangku tua yang menyediakan ruang duduk dan jangkrik yang diam-diam memelankan suaranya. Atau pada bulan yang menggantung tipis seolah-olah memberi tenggat waktu.

Anya menatapnya sekali lagi dan berkata, "I can see the moon, and it looks good on you."

William menyentuh pipi puannya. Mengelus perlahan. "You can always see the moon from now on. Always."

Seulas tipis senyum menyambut.

Masih dalam diam, perlahan perempuannya menjulurkan tangan. Menyentuh ujung surai yang berantakan. Saat masih lebih panjang, Anya gemar memutar jarinya di sela-sela rambut William yang bergelombang. Sekarang pria itu menata rambutnya lurus dan pendek.

"You look different."

"Hmm?" William mencerna terlebih dulu sebelum menjawab.

Apa ini a breakup haircut? William tidak mengartikannya dengan perlu. Sebab pria itu hanya menginginkan suasana baru, yang bisa memberi perbedaan dari apa yang hatinya rasakan kala itu.

"Kamu lebih suka rambutku pendek atau sedikit lebih panjang?" Jari William ikut menarik-narik ujung rambutnya.

Anya hanya mengedikkan bahu perlahan. Memberinya jawaban tidak pasti. "I like..." Matanya memandang yang lain sebelum menyebut kata pelengkap. "You."

Ujarnya mengundang senyum kali sekian yang hadir di bibir William sedari bangun. Perempuan itu bergerak mengambil duduk bersila. William ikut bangkit. Keduanya masih berhadapan.

"Menurutmu," tanya Anya setelah menghela nafas dua kali. "Apa ini pilihan yang benar?"

William memiringkan kepalanya sedikit. "Aku harap kamu nggak berubah pikiran secepat itu."

Salted CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang