26 | Smell the Rose

544 37 0
                                        

Beside You

____________





I like me better when I'm with you
I knew from the first time
I'd stay for a long time 'cause
I like me better when
I like me better when I'm with you

William menikmati alunan lagu dari music player sambil mengetukkan jari di kemudi. Jalanan sedikit ramai. William hari ini baru membuka mata saat hari telah berangjak siang, sedikit menikmati rasa malas walau tak lama kemudian ia bersiap. Setelah menyiapkan tempat dan isi meja—seperti biasa ia meminta bi Indah untuk memesan saja–ia sendiri mandi dan berganti baju. Matahari masih terasa menyengat waktu ia memutuskan untuk keluar rumah.

William menjemput Anya untuk ke rumahnya. Pria itu tidak melajukan kendaraannya menuju apartemen tempat perempuannya tinggal melainkan ke sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari bundaran HI. Ia melihat Anya berdiri di lobi, sudah menanti sambil menenteng beberapa paperbag. Ada yang diletakkan di dekat kakinya.

"Hi."

"Kamu belanja apa?" William turun untuk membantunya memasukkan belanjaan perempuan itu ke dalam mobilnya.

"Nggak belanja, ini jajan buat temen-temen kamu nanti. Kurang nggak ya? Aku nggak tahu gimana biasanya."

"Nggak usah repot padahal, yang lain juga biasanya nggak bawa. Aku udah sediakan."

"Ohhh." Anya masih fokus menata paperbag ke dalam mobil. "Ini sebagian mama yang traktir."

"Mamamu langsung pulang?"

"Mmm nanti. Mama masih di dalam, masih lanjut menipedi," jelas Anya singkat lalu kemudian memasuki kursi penumpang. Ada mobil yang sudah mengantri di belakang. William ikut menyusul duduk di balik kemudi.

Setelah berada dalam proksimiti dan juga ketika sudah tidak teralihkan oleh kegiatan menaikkan barang, William baru menyadari ada yang berbeda dari perempuan itu. William sempat melirik, tetapi baru benar-benar bisa mengamati saat mereka berhenti di lampu merah. Pria itu mengarahkan seluruh perhatiannya pada Anya.

Anya menata rambutnya berbeda. Bukan lurus seperti biasa berdandan, tetapi ia menambah potongan poni tipis yang membingkai dahi dan sisi-sisi kiri wajahnya. Ia juga mewarnai rambutnya sedikit kecoklatan dengan beberapa highlight lebih terang. Bagian bawah rambutnya ditata menjadi sedikit ikal. Sapuan makeup ringan di wajahnya juga membuat perempuan itu terlihat lebih segar.

"Kenapa sih? Aneh ya?" Anya bertanya sambil menyentuh poninya.

William tersenyum lantas menggeleng ringan. "Enggak." Sesaat pria itu menghela nafas. "Aduh gimana ya?" Ia terdengar sedikit panik.

"Gimana apanya?"

"Apa kita makan berdua aja? Atau kabur ke Bogor?"

"Hah?" Anya mengernyit.

"Kamu cantik banget, Sayang. Kalau temen-temenku nanti pada naksir gimana?"

Senyum Anya mengembang tanpa dicegah. Ia memalingkan mukanya ke kiri. Tersipu, barangkali. Saat kembali berhadapan, rona pipinya sedikit bertambah lebih berat.

"Kamu tadi manggil aku apa?" Alis Anya sedikit tertaut.

William masih menatapnya. Lampu belum berganti hijau, masih ada waktu. Pria itu memiringkan kepalanya kecil. Menggodanya. "Sayang." William menjawab tanpa keraguan.

Anya menggigit bibirnya. Ia berusaha untuk tetap menatap William lurus. Walaupun sepertinya terpaksa kalah sebab memalingkan wajahnya.

"Aku pikir, sekarang panggilan itu lebih cocok sama kamu."

Salted CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang