Pagi mulai tiba, matahari yang semula bersembunyi dibalik awan gelap kini kembali muncul dengan sangat cerahnya, tapi itu cuaca hari ini tidak untuk hati jimin yang sangat mendung baginya.
Semalaman ia tidak tidur dengan pulas ia hanya menangis dan terus menangis, ia ingin pulang menikmati kasur lepeknya ia tidak suka kasur empuk seperti ini apa lagi ini ditempat orang yang tidak Jimin kenal.
Yoongi? siapa dia? Kenapa dia sangat obsesi padanya padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Ya Yoongi sudah memberi tahukan namanya pada Jimin, dan Jimin tidak perduli hal itu, yang Jimin perdulikan ia bisa keluar dari rumah megah ini, ia sangat rindu pada ibunya bahkan adiknya, bagaimana nasib mereka jika Jimin tidak bekerja, dari mana mereka akan mendapat uang? Bagaimana makan mereka? Jimin sangat khawatir.
Suara mobil terdengar jelas ditelinga Jimin yang tengah meringkuk dilantai, Jimin rasa itu Yoongi yang sedang keluar, Jimin tidak tidur sekamar dengan Yoongi ia tidak mau melakukan hal kotor itu lagi, dan itu diiyakan oleh Yoongi, jadi jimin tidur dilantai bawah sedangkan Yoongi dilantai atas, bahkan selesai makan tadi malam Jimin tidak henti-hentinya memohon pada Yoongi agar dikeluarkan dari rumah ini, tapi Yoongi tidak merespon tindakan Jimin, dan itu membuat Jimin marah besar padanya.
Jimin baru teringat jika rumah ini kosong kalau si pemilik rumah tidak ada, dengan cepat ia bangun dan langsung bergegas keluar untuk kabur dari sana, tapi tidak pintunya tetap terkunci, kenapa setiap Yoongi keluar pintunya selalu terkunci, apa Yoongi sudah tau kalau Jimin akan mencari kesempatan untuk kabur, sebenarnya apa yang dimau pria pucat itu pada dirinya, tubuh sudah, terus apa lagi, Jimin hanya ingin pulang.
“AKKH! kenapa harus dikunci sih!.” pekiknya kesal dengan sedikit memukul pintu tersebut.
“Aku harus mencari ponselku.” ujarnya lagi setelah sadar dengan ponselnya.
Dengan bergegas Jimin memeriksa semua laci yang ada dilantai bawah untuk mencari ponselnya ada dimana , bahkan tidak hanya dilaci diberbagai tempat ia cari agar menemukan benda berharganya itu, walaupun tidak mahal tapi itu benda untuk berkomunikasi dengan keluarganya.
“Ah sial dimana pria itu menyembunyikannya.” gumamnya kesal karena tak juga menemukan ponselnya.
“Tidak! Aku tidak boleh menyerah.” ujarnya lagi yang langsung melangkahkan kakinya kelantai atas, untuk mencari keberadaan ponselnya, Jimin berharap ia bisa menemukannya dan meminta pertolongan pada sang adik.
Tapi lagi-lagi nihil, sekeras apapun usahanya ia tidak akan menemukan ponselnya itu, karena ya disembunyikan sama Yoongi, Yoongi benar-benar tidak akan melepaskan Jimin.
Dengan keadaan yang lesu dan lapar Jimin kembali berjalan menuruni anak tangga untuk menuju keruang tamu, belum juga sampai tiba-tiba pintu itu terbuka dan itu membuat Jimin terkejut bahkan hampir berlari menuju pintu utama itu, tapi terhalang oleh sosok pria pucat yang baru saja masuk bersama perempuan paru baya yang membawa tas mungkin itu berisikan pakaiannya.
“Kau sedang apa Jimin?.” tanya Yoongi yang melihat Jimin mematung ditengah-tengah anak tangga.
“Cepat turun kemari.” perintah Yoongi yang tidak dijawab Jimin tapi hanya dilakukannya, Jimin berjalan mendekat kearah Yoongi yang tengah menatapnya dengan ekspresi datar sedangkan wanita disampingnya menatapnya dengan senyuman di bibirnya, ah itu mengingatkan Jimin pada sang ibu.
Kali ini mungkin Jimin yang terkejut karena Yoongi begitu cepat menarik pinggulnya untuk ia rangkul, Jimin sempat menolak tapi cengkraman tangan Yoongi membuat pinggulnya sakit, alhasil dia hanya diam dan sedikit meringis. Wanita itu juga melihat apa yang dilakukan Yoongi kepada Jimin tapi dia hanya diam dan sedikit tersenyum padanya seolah takut pada sipemilik rumah.
“Kau tidak perlu khawatir jika kau lapar, dia akan memasakan mu dirumah dan melayani mu jika kau butuh bantuan.” ujar Yoongi yang sedikit tersenyum pada Jimin.
Jimin hanya menunduk tidak berani menatap mata yoongi.
“Ya.” jawab Jimin pelan.“Ajuma kau boleh kebelakang dan lakukan pekerjaanmu.” perintah Yoongi pada wanita itu yang merupakan pembantu Yoongi untuk pertama kalinya.
Wanita yang dipanggil ajuma itu langsung bergegas kebelakang menuju dapur untuk memasakan majikan barunya itu.
Yoongi menatap Jimin yang sedari tadi menundukkan pandangannya seolah lantai itu sangat berarti daripada dirinya.
“Bisa kau menatapku?.” tanya yoongi pada Jimin yang terus menatap lantai.
“B-bisakah kau membiarkanku pu-ulang?.” tanya Jimin gugup.
Yoongi tidak menjawab melainkan memeluk Jimin dengan erat, ah Yoongi benar-benar merasakan cinta yang sesungguhnya, ya walaupun Jimin tidak menyukainya.
“Tidak! Biarkan aku bersamamu lebih lama lagi.” ujar Yoongi tepat ditelinga Jimin.
Jimin mendorong Yoongi hingga lepas pelukannya dan langsung berlari keluar rumah, ini kesempatan untuknya. Yoongi hanya diam menatap Jimin yang keluar tanpa memakai alas kaki tapi tidak lama Yoongi menyeringai dan menyusul Jimin yang tengah berlari sekuat tenaganya sedangkan Yoongi hanya berjalan santai dibelakangnya.
“Kau tidak bisa keluar babe?.” tanya Yoongi yang sudah dibelakang Jimin yang tengah mengutak-atik gerbang milik Yoongi yang terkunci.
“Sudahku katakan, menurut saja kau padaku, tenang saja kau tidak berkerja keluargamu sudah ku buat bahagia.” ujar Yoongi mulai mendekat kearah Jimin yang sedang merasa ketakutan.
“Apa maksudmu! Ibuku tidak akan bahagia jika mendapatkan uang darimu!.” pekik Jimin.
“Ibumu tidak bahagia? Apa kau yakin babe?.” Jimin mengangguk kuat mendengar pertanyaan Yoongi.
“Ya aku sangat yakin!.”
Yoongi mulai meremat pinggulnya lagi dan itu tentu saja membuat Jimin meringis kesakitan karena rematan Yoongi sungguh kasar.
“Cukup kau menurut padaku, hidup keluargamu akan ku buat indah.” ujar Yoongi terakhir sebelum melumat bibir Jimin dengan kasar.
“Akkh!! Tolong hentikan!!. Tolong lepaskan aku, aku mohon!, aku akan menuruti permintaanmu apa saja jika kau mau melepaskanku? Kau mau bersetubuh denganku? Ayo kita lakukan sekarang, aku ingin cepat pulang!!! Tolong...” ujar Jimin memohon dan berlutut dihadapan Yoongi usai ia melepas paksa ciuman dari Yoongi.
“Untuk apa kau berlutut seperti itu, aku tidak akan melepaskan mu.” jawab Yoongi dan langsung pergi meninggalkan Jimin sendiri yang tengah menangis disana, Yoongi ini banyak kerjaan dia tidak ada waktu untuk mengurusi Jimin yang terus saja merengek minta pulang.
Tidak lama gerbang terbuka dan mobil Yoongi melewati Jimin begitu saja tanpa belas kasihan sama sekali, sebelum Jimin beranjak pergi mencari kesempatan gerbang tersebut sudah kembali tertutup dan tentu saja terkunci rapat, dan sekarang Jimin tidak bisa kemana-mana selain dihalaman rumah megah ini.
•OBSESSED•
[Myg&Pjm]Ingi berkata apa sama Yoongi?

KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED | YOONMIN |
أدب الهواة"END"✔ -SUKA CERITANYA WAJIB FOLLOW PENULISNYA (◍•ڡ•◍)❤ Menjadi cantik itu kutukan! Lihat Park Jimin sekarang! ia tidak tau apa-apa bahkan ia pria yang sangat baik, yang harus terjebak dengan seorang pria yang berhati dingin, tidak ada rasa peduli d...