13.Sakit

1.2K 103 6
                                    

Aku harap kalian masih suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa vote nya, komen juga biar tambah semangat. ♥︎

😺😺😺

Jimin tengah duduk menonton televisi yang ada diruang tamu, sudahlah tv-nya berukuran besar ditambah ruang tamu yang cukup besar pula serasa Jimin sedang menonton bioskop sendirian, tidak ada ponsel tentu membuat Jimin merasa bosan.

dia tidak lagi mengurung dirinya dikamar bahkan setelah beristirahat ia mencoba membiasakan dirinya untuk tinggal bersama orang asing yang bahkan sudah menyetubuhinya tiga kali.

Jika ditanya Jimin betah atau tidak tinggal bersama Yoongi tentu saja jawabannya tidak, siapa sih Yoongi kenapa dia begitu obsesi padanya Jimin juga tidak tau, kenapa dia disekap dirumah megah ini.

Dia sangat ingin menghubungi Adik dan ibunya, bagaimana keadaan mereka? Apa Yoon Woo belajar dengan giat? Apa ibunya berbahagia? Atau apalah yang pasti Jimin sangat ingin menemui mereka berdua.

Dari arah dapur Yumna membawakan beberapa cemilan dan jus untuk Jimin, pucat diwajah Jimin belum mereda, Yumna curiga kalau kekasih dari bosnya itu sedang sakit.

Dengan pelan Yumna meletakan cemilan yang ia bawa dimeja dihadapan Jimin, Jimin tidak menggubris sama sekali dengan kedatangan Yumna, yang Yumna lihat Jimin tidak sedang menikmati acara televisinya melainkan sedang bengong memandangi televisi yang sedang menyala.

"Tanganmu sepertinya sangat sakit, sebentar aku ambilkan obat." ucapan Yumna tidak dijawab oleh Jimin.

"Sini, berikan tanganmu." Yumna sedikit terjingkat kaget karena Jimin kembali menarik tangannya yang hendak ia obati, lalu menutupnya dengan lengan baju yang panjang.

"Tidak perlu ajuma, ini tidak sakit." gumam Jimin pelan.

"Tidak, itu pasti sangat sakit, sini biar aku obati, sebentar saja." mohon Yumna agar Jimin mau memberikan pergelangan tangannya yang merah akibat tarikan paksa dari Yoongi.

Dengan pelan Jimin memberikan pergelangan tangannya kepada Yumna untuk diobatinya.

"Kau tau, anakku pasti sudah sebesar kau." Yumna memulai obrolan singkat.

"Dia pasti secantik dirimu, dia juga pria tapi dia memiliki wajah yang berparas cantik seperti dirimu." Yumna tersenyum sesekali memberikan obat pada tangan Jimin.

"Dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu akibat kecelakaan hebat yang ia alami." ujar Yumna yang mampu membuat Jimin melihat dirinya.

"Ajuma.." panggil Jimin dengan belas kasihan.

"Tidak apa-apa, sekarang aku sudah menerima kenyataannya kalau Jihoon hanya dititip keajuma sebentar saja, sekarang dia sudah menjadi kupu-kupu disurga sana." ucap Yumna sambil tersenyum, tapi hatinya sakit, sungguh Jimin mirip sekali dengan anaknya.

"Ah, sudah selesai, tangannya jangan dibanyakin gerak biar tidak sakit." Jimin hanya tersenyum mendengar ucapan Yumna.

Tidak lama mereka duduk berdua mengobrol terdengar suara mobil milik Yoongi telah tiba dirumahnya, Yumna yang mendengar itu buru-buru berdiri dari duduknya dan langsung bergegas kedapur takut Yoongi memarahinya karena duduk dekat dengan Jimin.

"Kau sedang apa?." tanya Yoongi yang baru saja membuka pintu dan menemukan Jimin tengah duduk sambil memakan cemilan yang disediakan Yumna untuknya.

"Menonton." ujar Jimin, Yoongi terdiam sebentar, Jimin menjawabnya?.

Tanpa menjawab Yoongi berjalan mendekati Jimin, meletakan tas kerjanya diatas meja lalu mendudukkan dirinya disamping Jimin, Jimin tidak menggubris ada pria pucat disampingnya ia tetap asik menonton walaupun dihatinya merasa takut dengan Yoongi, takut diapa-apakan lagi.

Dengan tangan yang melepas kancing jasnya Yoongi perlahan merebahkan tubuhnya dipaha Jimin dan ikut menonton televisi. Jimin yang melihat tingkah Yoongi sedikit terjingkat kaget.

"Diam saja aku ingin tidur." ujar Yoongi yang mampu membuat Jimin begetar hatinya, mungkin getaraan karena takut.

Tanpa bergerak sama sekali jimin kembali menonton televisi sampai ia ikutan tertidur, jam memang sudah malam bahkan sudah waktunya untuk tidur.

Mengenai pembantu Yoongi ia tinggal disana bersama mereka berdua, tapi tentu saja dengan aturan Yoongi yang tidak boleh ikut campur urusannya jika hidupnya ingin aman dan tentram seperti memberikan Jimin ponsel lebih tepatnya.

Tanpa disadari Jimin mengingau dalam tidurnya ia terus saja memanggil nama ibunya disepanjang tidurnya sampai membangunkan Yoongi yang tengah lelap tertidur, Yoongi melihat Jimin yang tidur sambil bergumam, dengan pelan telapak tangan Yoongi menyentuh dahi milik Jimin, panas itu yang dirasakan Yoongi.

Dengan tergesa ia mendudukkan dirinya dan sedikit membangunkan Jimin, tidak jiminnya tidak boleh sakit.

"Jimin?... Jimin?." panggil Yoongi yang mengoyangkan tubuh Jimin

"Biarkan aku tidur sebentar eomma." gumam Jimin ngaco.

"Jimin bangun, hey." Jimin hanya menggeliat bahkan terbangun sama sekali.

Apa seperti ini jika Jimin sedang sakit? Yoongi belum mengerti Jimin sepenuhnya jadi dia sedikit panik, bagaimana tidak dia sakit aja dia tidak terlalu perduli bagaimana dengan orang lain, Yoongi kebingungan mau memperdulikan orang itu seperti apa.

"Ah sudahlah besok juga sembuh." ujarnya seolah tidak lagi ada rasa perduli dihatinya padahal awalnya ia sangat khawatir karena kebingungan dia jadi bodo amat terhadap Jimin.

Tangan besar milik Yoongi mengambil remot dan mematikan televisi yang sedari tadi menyala, setelah tv itu mati Yoongi langsung membopong Jimin kekamar milik Jimin sendiri karena Yoongi belum mandi jadi Yoongi tidak ingin tidur dengan Jimin saat ini.

Tubuh yang sudah tergeletak diatas kasur tentu membuat Jimin sedikit merasa nyaman, tangan mungilnya sibuk mencari selimut, cuaca malam ini sangat dingin, tanpa Jimin sadari tingkahnya mampu membuat Yoongi tersenyum. Jimin ini sangat lucu mangkanya ia suka.

"aku tidak akan pernah melepaskanmu, kau akan tetap bersama ku, bagaimanapun caranya, meski kau milik orang lain sekalipun, akanku pastikan hatimu hanya untukku Park jimin." ucap Yoongi sebelum meninggalkan Jimin sendirian dikamarnya.

OBSESSED
[Myg&Pjm]

OBSESSED | YOONMIN |Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang