Yoongi hari ini sedang tidak kekantor, biarlah managernya yang mengerjakan semuanya, Yoongi sangat malas untuk pergi sekarang, dia ingin menemani pria manisnya seharian dirumah hitung-hitung untuk merilekskan tubuhnya.
Pagi ini dia bangun sedikit kesiangan badan yang capek membuat dia terlalu nyenyak untuk tidur bahkan dia tidak ingat memimpikan apa tadi malam, wajah yang masih bengkak akibat tidur terlalu lama membuat Yoongi susah untuk membuka matanya dengan benar, pandangannya masih buram tapi ia harus paksakan untuk bangun karena ia teringat jika Jimin sedang demam ia harus membawanya kerumah sakit.
Langkah kaki yang besar membuat Yoongi cepat sampai dikamar mandi, kebiasaannya jika bangun tidur ya harus mandi apa lagi semalam ia tidak membersihkan tubuhnya, kebayangkan betapa baunya dia, Yoongi rasa Jimin tidak mau mendekat jika dia sangat bau.
Sedangkan didapur terlihat punggung cantik yang memakai switer coklat panjang dan celana setengah pahanya membuatnya seolah tidak memakai apa-apa tengah berkutat dengan peralatan dapur, tidak itu bukan Yumna melainkan Park Jimin, Jimin memaksa Yumna untuk mengantikan tugasnya, ia ingin mencoba masak kali ini, Jimin ini pintar masak apa saja dia bisa.
“Jimin-ssi, sini biar saya saja.” ujar Yumna yang berusaha mengambil alih dapurnya.
Jimin menggeleng.
“Tidak ajuma, biarkan aku memasak, Yoongi sangat suka masakan ku.” bohongnya tentu saja agar Yumna tidak mengganggunya lagi.“Terus jika tuan Yoongi menyukai masakan mu, kenapa menerimaku sebagai pembantunya?.” tanya Yumna.
“Tentu saja dia sangat menyayangiku, makanya aku tidak diperbolehkan berada didapur.” bohongnya lagi, Jimin ini sangat ingin melakukan aktifitas dia sangat bosan.
Yumna menghela nafas tuan mudanya ini sangat keras kepala.
“Ajuma membersihkan rumah saja, biar saya yang memasak.” ujar Jimin lagi dengan tangan yang memotong beberapa bumbu untuk dicampurkan didalam masakannya.
“Ya sudah, hati-hati tangannya kena pisau nanti aku yang dimarahin.” jawab Yumna yang hanya dibalas anggukan dari Jimin, tanpa memikirkan resikonya Yumna berlalu begitu saja dia ingin membersihkan rumah yang super megah ini, dari belakang sampai depan.
Selama memasak Jimin tidak berekspresi sama sekali ia terlalu fokus pada masakannya bahkan tidak sadar jika Yoongi sedang berjalan kearah arahnya dengan ponsel ditangannya bedanya lagi Yoongi sangat fokus pada benda ditangannya sampai tidak melihat yang memasak adalah Jimin.
“Ajuma mana sarapanku, ah aku terlalu siang untuk sarapan.” ucap Yoongi yang masih fokus pada ponselnya entahlah apa yang diliat pria pucat itu.
Jimin tidak menjawab karena yang dipanggil ajuma bukan dia, tapi hatinya deg degan bukan main ia masih mengingat kejadian dimana dia dihajar oleh Yoongi sampai membuat punggung dan tangannya sakit.
“Ajuma kau tidak mendengar.... Ku?. Park Jimin?.” ucap Yoongi yang baru berfokus pada Jimin, dilihatnya Jimin dari bawah sampai atas tentu membuat Yoongi meneguk ludahnya, apa-apaan ini, pagi ini sangat mengiurkan untuknya, tidak bukan sarapan yang disajikan dimeja makannya melainkan kaki mulus milik Park Jimin yang sedang memunggunginya.
Jimin yang mendengar namanya dipanggil fokusnya teralihkan dan segera membalikan badannya dengan gugup.
“Y-ya.” jawab Jimin gugup.
Yoongi berdiri dan menghampiri Jimin.
“Kau menggodaku?.” Jimin menggeleng dengan keras.“T-tidak.”
“Kenapa tidak memakai celana? Kau sedang menginginkannya?.” goda Yoongi yang sudah berjalan mendekat kearahnya, lalu tangan kiri yoongi mengangkat kedua tangan Jimin dan mencengkeramnya diatas kepala Jimin sedangkan tangan kanan Yoongi meremat pinggang yang jelas terlihat karena baju Jimin terangkat begitu tinggi.
Terkejut? Tentu saja, hati Jimin mulai berdegup kencang, takut diapa-apakan oleh manusia pucat satu ini, sepertinya ia salah memilih celana, ah sial celana yang dibelikan Yoongi tinggal itu yang tersisa, yang panjang habis kotor semua.
“T-tidak, kau mau a-apa?.” tanya Jimin gemetar.
“Ternyata pakai, ku kira tidak.” Ujarnya tepat ditelinga Jimin saat ini.
“A-aku hanya ingin memasak, tidak ingin meng-goda mu, tolong lepaskan aku.” ucap Jimin yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Yoongi.
“Tidak, sebelum aku menikmati sarapanku.” ujar Yoongi sebelum melumat bibir seksi Jimin, Jimin terkejut bahkan bola matanya refleks terbuka lebar, setelah beberapa menit berlalu Yoongi telah puas menikmati bibir Jimin.
“Sarapan yang nikmat babe.” ujar Yoongi yang sedikit mencolek dagu Jimin dan berlalu begitu saja kembali mendudukkan dirinya dikursi meja makan dan kembali memainkan ponselnya, sial jiminnya itu sangat berani sekarang.
Jimin mematung sebentar dengan apa yang dilakukan Yoongi barusan, ia tidak mengira kalau Yoongi kali ini menciumnya dengan sangat lembut tidak seperti sebelumnya yang bahkan bisa membuat ia kehabisan nafas.
Jimin membalikan badannya dan ingin fokus pada masakannya tidak ingin membuatnya begitu terpana, sial tidak boleh seperti itu, dia harus sebisa mungkin keluar dari rumah ini, ia tidak akan sudi tinggal disini lama-lama.
Tapi alih-alih terfokus pada apa yang dimasak ia malah berpikiran yang aneh-aneh bahkan tanpa sadar ia mengigit bibirnya sendiri bahkan hampir tersenyum sedikit, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan memukulnya pelan untung Yoongi tidak melihatnya kalau sampai lihat mau jawab apa dia kalau ditanya .
“Dimana ajuma, kenapa kau yang memasak?.” Tanya Yoongi.
Jimin sedikit terjingkat kaget dengan suara Yoongi yang tiba-tiba membuyarkan pikirannya.
“Em-anu.. l-lagi membersihkan h-halaman belakang.” ucap Jimin yang masih belum terbiasa berbicara dengan Yoongi.“Kemarilah.” panggil Yoongi.
“Belum selesai.” jawab Jimin yang tidak memandang Yoongi dibelakangnya.
“AJUMAA!!.” pekik Yoongi tiba-tiba bahkan Jimin langsung membalikan badannya menghadap Yoongi, tapi pandangan Jimin langsung menunduk ternyata Yoongi mengamatinya sedari tadi.
Yumna yang sedang berada dihalaman belakang mendengar teriakan Yoongi bergegas datang walaupun sampahnya belum selesai ia bereskan.
“Ajuma selesaikan masakan jimin, jangan pernah membiarkan Jimin memasak, aku menugaskanmu.” ujar Yoongi yang diiyakan oleh yumna, sedangkan Jimin hanya bingung.
“Sudahku bilangkan, jangan memasak, tuan Yoongi bakal marah.” bisik Yumna pada Jimin yang ada disampingnya.
“Maaf ajuma, aku hanya ingin-
“Park Jimin kemarilah.” panggil Yoongi lagi, kali ini Jimin melihat Yumna dengan pandangan yang sangat merasa bersalah sambil berjalan kearah Yoongi duduk.
“Duduklah di sampingku.” perintah Yoongi saat melihat Jimin hendak menarik kursi yang ada didepannya, dengan cepat Jimin kembali berjalan mendekat Yoongi dan duduk disampingnya.
“Apa kau masih merasa tidak enak badan?. ” tanya Yoongi penasaran, tapi pandangannya tetap terfokus pada ponselnya, entahlah mungkin ia sedang mengerjakan pekerjaannya.
“Tidak, aku sudah merasa sedikit baik. ” jawab jimin pelan dan Yoongi hanya merespon dengan anggukan, benarkan apa kata Yoongi kalau dibiarkan pasti sembuh sendiri, aslinya dia tidak tau bagaimana memberikan penolongan bagi orang sakit, dia sendiri jarang sakit.
Setelah yoongi menanyakan hal itu sudah tidak ada kata-kata lagi yang masuk ditelinganya, Yoongi hanya diam tidak bersuara ia masih sibuk pada ponselnya, jimin rasa ia hanya dijadikan patung untuk sekedar menemaninya, ia tentu diam saja dia mau membicarakan apa? Memohon kembali agar dikeluarkan dari rumah ini? Tidak mungkin, ia sudah lelah memohon tapi sama sekali tidak digubris sama si pemilik rumah.
Ia hanya bisa berdoa agar ia mendapatkan jalan keluarnya sendiri tanpa merepotkan Yoongi, ia ini sangat tangguh tidak mudah menyerah, ia sangat rindu ibu dan adiknya.
•OBSESSED•
[Myg&Pjm]

KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED | YOONMIN |
Fanfiction"END"✔ -SUKA CERITANYA WAJIB FOLLOW PENULISNYA (◍•ڡ•◍)❤ Menjadi cantik itu kutukan! Lihat Park Jimin sekarang! ia tidak tau apa-apa bahkan ia pria yang sangat baik, yang harus terjebak dengan seorang pria yang berhati dingin, tidak ada rasa peduli d...