25.

3.8K 156 3
                                        


Cecily mengusap-usap perut nya yang mulai terlihat buncit itu.

Cecily memperhatikan sekitar rumah serta lalu lalang kendaraan yang lewat di kompleks.

"Cecily."

Cecily berusaha mencari sumber suara yang memanggil nya itu, senyum lebar Cecily langsung terbit saat melihat pelaku yang memanggil nya.

"Kak Sena, gak kerja emang nya hari ini?." Tanya Cecily sambil memperhatikan Sena yang sekarang juga sedang ada di balkon.

"Enggak, aku ambil cuti hari ini." Cecily mengangguk-ngangguk mengerti mendengar jawaban dari Sena.

"Cecily."

"Iya, kenapa kak?."

"Cecily hamil lagi ya?." Tanya Sena dengan nada rendah.

Cecily yang mendengar itu langsung mengangguk lemah.

"Cecily gak tau, Cecily udah minum pil tiap hari kok, tapi gak tau kenapa tetap hamil."

Dapat Cecily lihat Sena dari sana tersenyum tipis.

"Yaudah, mungkin udah rezeki."

"Tapi suami kamu gak kayak dulu lagi kan?." Tanya Sena dengan wajah yang merasa bersalah.

"Enggak kok, baik banget malah, aku juga gak tau kenapa dia tiba-tiba berubah."

"Bagus deh kalau gitu, tapi kalau ada apa-apa bilang sama aku ya."

Cecily mengangguk semangat, dan kemudian membalas lambaian tangan dari Sena.

Cecily akhirnya duduk di balkon kamarnya sambil memperhatikan suasana sekitar. Tanpa tahu harus melakukan apa.

Jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi Cecily sudah merasa sangat bosan dan kesepian.

Cecily menghela nafas, ia kembali ke dalam kamar dan kemudian duduk di tempat tidur.

Cecily memperhatikan foto pernikahan nya yang terpajang di atas dinding tempat tidur.

Cecily memperhatikan itu, memperhatikan senyum nya yang terpaksa dan Gerrad yang tak mau tersenyum.

Mata Cecily berkaca-kaca mengingat itu semua, entah kenapa ia sangat sensitif semenjak hamil.

Cecily mengingat bagaimana pernikahan ini karena nyawa ayah nya.

Cecily ingat jika sang ayah selalu berpesan jangan pernah menyerah dengan pernikahan nya.

Ayah nya selalu berkata jika Gerrad adalah pria yang baik, Cecily tak tahu mengapa sang ayah berbicara seperti itu.

Padahal pria itu lah yang menabrak dirinya hingga hidup nya tak lama di dunia ini.

Entah karena harta pria itu atau memang ada yang lain.

Andai sang ayah tahu bagaimana tersiksa nya dirinya, Cecily sangat penasaran apakah sang ayah akan tetap mengatakan hal yang sama?.

Cecily menghela nafas, ia memilih turun ke bawah untuk menonton tv.

Sambil menunggu sang anak pulang.

Ternyata Cecily ketiduran, ia memperhatikan jam di dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul sebelas.

Cecily berdiri dan kemudian mengusap matanya, agar kantuk tak datang lagi

Cecily yang sedang mengusap matanya terkejut saat Alessandro ternyata pulang lebih awal, padahal ia baru akan menjemput.

LAST OPTIONWhere stories live. Discover now