Vote dan spam komen nya jangan lupa klo mau lanjut readers, ohiya bagi yang mau tau duluan drpd yg lain, bisa text no di bawah ini yaaa
083143977387
.
.
.
Cecily menghela nafas, ia segera keluar dari ruangan itu saat meeting itu telah selesai.
Cecily tak kuat bersama-lama di sana, apalagi saat menyadari jika pria itu bahkan biasa saja tanpa dirinya.
Cecily menyadari jika disini, hanya dirinya lah yang merasa kehilangan saat mereka berpisah.
Cecily tak tahu harus mengatakan apa, perasaan nya saat ini berantakan.
Pria itu benar-benar mengacak hidup nya. Cecily tak tahan.
Gerrad benar-benar mengacuhkan nya, mereka seperti orang tak kenal.
Cecily terkekeh pelan, bagaimana bisa ia mengharapkan sesuatu yang tak mungkin?.
Saat mereka menjadi suami istri pun pria itu juga mengacuhkan nya, apalagi saat mereka sudah tak serumah seperti ini walau masih dengan status yang sama.
Cecily pergi ke ruangan nya dan duduk di meja kerjanya.
Cecily merebahkan diri dengan meletakkan kepalanya di atas tangan nya yang sekarang sudah ada di atas meja.
Sambil menatap sekitar ruangan ini. Cecily mengelus-ngelus perut nya yang terasa sedikit keram.
"Apa yang terjadi?." Tanya Cecily lirih.
Ia berusaha mengelus-ngelus perutnya terus menerus, agar sang anak merasa rileks, sayangnya sudah lima menit berlalu, perut Cecily malah bertambah keram.
Cecily menghela nafas, ia keluar dari ruangan nya dengan perlahan, dan berusaha mencari Lisandro yang masih ada di sana.
Berbicara dengan para investor.
"Bapak." Panggil Cecily dari pintu saat pria itu menatap nya.
Lisandro dengan cepat keluar setelah berpamitan, termasuk berpamitan dengan Gerrad, meski pria itu hanya memberikan tatapan datar nya.
Lisandro keluar dan berjalan ke arah Cecily.
"Kenapa?."
"Lisandro perut aku keram sejak tadi." Ringis Cecily sambil mengelus-ngelus perut nya dan mengambil nafas sebanyak-banyak nya.
Dapat Cecily lihat raut wajah terkejut dari Lisandro setelah mendengar itu.
Pria itu langsung ikut mengelus perut Cecily.
"Ayo, ke rumah sakit." Ajak Lisandro sambil menuntun Cecily, tetapi tangan besar itu tak berhenti mengelus perut nya.
"Keram nya berhenti." Ucap Cecily tiba-tiba.
Mereka berdua tertawa setelah itu.
"Nakal banget kamu, om gigit nih." Ucap Lisandro terkekeh pelan, tetapi tangan nya tak berhenti mengelus perut buncit itu.
"Mau makan di luar gak?." Tanya Lisandro sambil menatap mata wanita itu.
"Mau, udah lama banget gak makan di luar." Mereka pergi dari sana, meski tangan Lisandro tak berhenti mengelus perut Cecily.
"Nanti malem lo sama Alessandro siap-siap aja, gue mau ajak ke pasar malam, sekalian ajak Kevin."
"Emang deket mana?, aku gak pernah liat."
"Ada, lo gak bakalan tau tempat nya." Cecily mengangguk mengerti mendengar jawaban pria itu.
Tanpa mereka tau jika Gerrad melihat itu semua.
☆
M
ereka telah tiba di pasar malam, sebenarnya tadi Lisandro juga mengajak Kevin, tetapi anak itu menolak karena ia memilih ikut dengan orang tua nya.
"Ayo masuk." ajak Lisandro sambil memegang tangan Alessandro yang di sebelah kiri, dan Cecily di sebelah kanan.
Pria itu membawa Cecily dan Alessandro kedalam, mereka memainkan berbagai wahana yang anak-anaknya inginkan, bahkan juga memainkan komedi putar, rasanya sangat menyenangkan.
Dan terakhir mereka bermain di salah satu bianglala, bianglala itu lumayan besar sehingga bisa diisi sampai empat orang.
Setelah selesai bermain dan mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, mereka pergi ke salah satu tempat penjualan harum manis.
Cecily ingin memakan itu, rasanya entah kapan Cecily terakhir kali memakan itu, mungkin terakhir sejak ayah nya meninggal, Cecily tak tahu.
"Bagaimana, enak gak?." tanya Lisandro saat melihat Cecily dan Alessandro yang memakan harum manis dengan senyuman di bibirnya.
Cecily dan Alessandro mengangguk semangat. Lisandro terkekeh melihat ekspresi dua orang itu.
"Enwak sekwaki" ucap Alessandro dengan mulut yang masih berisi harum manis.
Lisandro tertawa mendengar ucapan Alessandro, sesekali ia akan membersihkan noda harum manis dibibir anak itu. Setelah beberapa lama tibalah Leandro dan Alvaro dengan nafas yang ngos-ngosan tetapi mereka tertawa.
"Bagaimana" tanya Lisandro.
"Seru sekali, om tau tidak, tadi Lessa liat temen sekolah Lessa." Adu Alessandro.
"Benarkah, lalu lo sapa gak?."
"Enggak."
"Kenapa?."
"Aku males, dia orang nya jahat banget, aku gak suka."
"Emang jahat kenapa dia, sini gue bogem pipi nya." Ucap Lisandro dengan tampang serius yang di buat-buat sambil menepuk-nepuk lengan nya.
Alessandro tertawa melihat tingkah pria di depan nya ini.
"Dia suka ngejek Lessa, katanya papa Lessa gak sayang sama Lessa."
Mereka terdiam mendengar penjelasan dari anak kecil itu.
"Yaudah, ayo kita pulang" ucap Lisandro setelah melihat jam di pergelangan tangannya, sekaligus mengakhiri situasi canggung yang di alami.
Mereka berjalan kearah pintu keluar pasar malam, saat akan keluar Lisandro melihat tiga gelang hitam, sangat cantik, pikirnya.
Kemudian Lisandro menyuruh Cecily dan Alessandro agar lebih dulu saja ke parkiran karena ia akan membeli sesuatu dahulu.
Lisandro kemudian membeli ketiga gelang itu.
"Apa itu om" tanya Alessandro saat Lisa telah masuk kedalam mobil dan membawa sebuah kresek putih.
"Gue membeli tiga gelang" balas Lisandro.
"Wah, Lessa mau" ucap Alessandro kemudian mengambil kresek yang ada di tangan Lisandro.
Alessandro memberikan mereka satu persatu.
Cecily terkekeh pelan, ia memakaikan gelang Alessandro, begitu pun Cecily yang di pakaikan oleh Lisandro dan Lisandro di pakai kan oleh Cecily.
"Sangat cantik" puji Cecily, lalu Lisandro tersenyum mendengar ucapan Cecily.
"Kalian suka?." tanya Lisandro kepada Cecily dan Alessandro, kemudian dibalas anggukan semangat oleh mereka.
"Terima kasih om Lisa, Lessa sayang banget sama om." Ucap Lisandro sambil memeluk Lisandro dengan cara melilit leher pria itu.
"Aduh, iya lepas, makasih mah makasih aja, gak usah sampai di cekik gini." Ucap Lisandro sambil berusaha melepaskan galungan tangan Alessandro dari leher nya.
Mereka tertawa melihat raut wajah kesal milik Lisandro.
"Besok aku mau pamer ke Kevin deh."
"Kalau dia nangis tanggung jawab nanti." Balas Lisandro, setelah itu mereka berdua tertawa.
Kecuali Cecily, wanita itu hanya memberikan senyum tipis.
YOU ARE READING
LAST OPTION
RomanceJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
