Cerita ini menceritakan seluruh sudut pandang Gerrad dari awal pernikahan.!
Part 2
.
.
.
Pov Gerrad
Hingga tanpa terasa waktu beranjak sembilan bulan.
Beberapa minggu lagi Cecily akan melahirkan. Waktu yang sangat ia tunggu-tunggu.
Sayang nya lagi dan lagi aku malah menekan egoku.
Memilih untuk mengabaikan wanita itu, aku tak tahan rasanya mendengar jeritan kesakitan milik Cecily.
Aku stress, aku tak kuat membayangkan betapa susahnya wanita itu.
Dan berakhir aku membeli sesuatu yang sangat menyesatkan.
Beberapa gram ganja, aku beli di sebuah restoran. Jika ada yang bertanya mengapa di sana, aku tak tahu, aku hanya menuruti apa kata si pengedar.
Aku tak peduli efek samping nya.
Yang terpenting, aku bebas dari segala pikiran bersalah yang menyerang otakku.
Setidaknya aku tak memikirkan pikiran-pikiran yang tak seharusnya aku pikirkan.
Walau setelah itu semua habis, aku sedikit ketagihan. Tetapi lebih memilih untuk menahan nya dan berakhir kepribadian ku menjadi seorang yang lebih tempramen.
Aku tak tahu harus berkata apa saat pulang ke rumah, di sana sudah ada sebuah tempat tidur bayi dengan seorang bayi mungil. Dan jangan lupakan si ibu bayi yang nampak kelelahan.
Aku meneteskan air mata melihat wajah dan tubuh mungil itu. Aku mengendong nya sejenak.
Memperhatikan bentuk wajah itu dengan seksama, untuk aku ingat di hari esok.
Aku mengendong bayi mungil yang tak aku tahu namanya itu cukup lama.
Bayi mungil milikku, anak ku sendiri.
Hingga suatu malam aku tak tahan dengan tangis nya, aku ingin menggendong nya, apalagi saat melihat Cecily yang sudah terlihat sangat kelelahan.
Aku ingin membantu wanita itu mengurus anak kami, tapi lagi dan lagi ketakutan menguasai ku.
Dan berakhir dengan aku yang membentak wanita yang setahun ini memaniku, wanita yang sudah melahirkan anak ku.
Aku terdiam saat wanita itu malah keluar dari kamar kami alih-alih menghentikan tangis anak ku, anak yang bernama Alessandro itu.
Aku frustasi karena tak bisa menenangkan Alessandro, dan berakhir aku juga keluar dengan kepala yang pusing.
Aku tak tahu harus melakukan apa, aku frustasi karena tak bisa menghentikan tangis anak ku sendiri, aku tak bisa.
Hingga tahun demi tahun aku jalanani, tahun demi tahun pula aku mengacuhkan anak dan istri ku.
Badan ku juga sebenarnya sudah mulai mengurus, tetapi aku memberanikan diri untuk gym berlebihan, tak seperti jadwal normal agar besar badan ku tetap terjaga, agar tak ada yang sadar dengan penyakit ku.
Hal yang berat awalnya, tetapi aku selalu menguatkan diri. Karena umurku di dunia ini tak lama lagi.
Aku mengutuk hidup ku tiap malam nya, bagaimana bisa aku dengan anakku sendiri malah asing dan canggung.
Aku sangat bahagia saat Alessandro mulai memasuki sekolah, aku tak bisa berkata-kata.
Aku selalu menangis tiap malam nya di kamar Alessandro, mengucapkan beribu-ribu maaf pada Alessandro.
Anak yang terlihat seperti copy an diriku. Aku tak tahan setiap melihat wajah sendu itu menatap ku.
Wajah yang selalu terlihat sedih karena penolakan dariku, papa nya sendiri.
Hingga suatu saat aku mendapati Cecily berbicara dengan orang asing, saat di acara kantor.
Saat aku mendekat, dapat aku dengar jika pria itu malah menyuruh Cecily untuk meninggalkan ku.
Harusnya aku senang dengan hal itu, tetapi sayang nya tidak.
Aku menggila, aku tak suka saat Cecily akrab dengan orang lain, apalagi saat membayangkan wanita itu akan bersama orang lain.
Aku merasa bersalah saat membuat wanita itu masuk ke rumah sakit, belum lagi luka di wajah serta area kewanitaan wanita itu.
Aku akui, aku terlepas. Aku hanya takut Cecily meninggalkan ku karena lelaki lain yang lebih baik.
Aku takut, aku mencintai wanita itu, semua terasa rumit dari berbagai sisi.
Hingga di suatu hari, dokter memberi tahukan jika ada seorang pendonor yang sepertinya cocok dengan paru-paru ku.
Sayangnya berita bahagia itu bersamaan dengan Cecily yang malah meminta cerai.
Sebelum wanita itu meminta cerai, aku menemukan sebuah tespek di dalam kamar mandi kamar.
Aku menghela nafas, wanita itu meminta cerai padanya dalam keadaan hamil.
Aku tak tahu harus merasa bagaimana, aku bahagia, tetapi itu adalah hal yang sulit. Aku sudah memberikan pil kehamilan dengan harga yang paling mahal pada wanita itu.
Bagaimana bisa Cecily tetap hamil. Aku tak tahu harus merespon bagaimana.
Beban hidup ku bertambah banyak setiap harinya. Aku selalu berdoa pada tuhan agar memberikan kesembuhan.
Sejak Cecily meminta perpisahan membuat ku sadar, jika aku harus berubah.
Apalagi mengingat jika ada pendonor untukku.
Mulai dari hari itu aku mulai bersikap seperti yang ku inginkan.
Aku bahagia, tak pernah aku sebahagia ini dalam hidupku.
Jika seperti ini, aku pasti akan memilih untuk melakukan nya sejak awal.
Aku merasa hidup ku sempurna sekali sampai di aku melakukan pertemuan lagi dengan dokter yang menangani penyakit ku.
Sayangnya paru-paru itu tak cocok denganku, aku hanya bisa terkekeh.
Hitungan bulan lagi mungkin aku tak akan melihat Cecily dan Alessandro lagi, termasuk calon anak mereka.
YOU ARE READING
LAST OPTION
RomantizmJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
