Cerita ini menceritakan seluruh sudut pandang Gerrad dari awal pernikahan.!
.
.
.
Pov Gerrad
Aku terdiam saat mendengar ucapan pria yang ku tabrak ini. Yang saat ini bisa di katakan sudah hampir sekarat.
Bagaimana bisa ia mengatakan dan menyuruh ku menikahi anak nya yang baru saja tamat sekolah menengah atas itu.
Kami berbeda lima tahun, dia juga terlalu muda untukku. Tapi mau tak mau aku harus menikahi perempuan yang aku tahu bernama Cecily Anamira itu.
Gadis itu cantik, aku juga tak munafik jika aku menyukai pada wajah manis milik gadis itu. Tetapi ia tak tahu, dan bingung akan menerima pernikahan ini atau tidak.
Dan disinilah akhir nya, aku berakhir menikahi wanita dengan nama Cecily itu. Dua minggu setelah pernikahan kami, pria yang sudah menjadi ayah mertuaku itu meninggal dunia.
Aku juga merasa sedih mendengar itu, apalagi saat melihat wajah hancur milik gadis itu.
Aku sebenarnya merasa bersalah sekali, karena penyebab ayah gadis itu meninggal adalah dirinya.
Setiap malam, aku selalu berpikir dan merenungi kesalahanku. Hingga tepat satu bulan pernikahan, aku mempunyai jadwal pemeriksaan rutin ku.
Maka karena itu aku pergi dan mulai memeriksa keadaan ku. Aku tak terlalu acuh pada wanita itu, tetapi tak terlalu peduli juga. Bagaimana pun kami baru mengenal kurang lebih satu bulan.
Walau aku tak bisa munafik jika aku merasakan sebuah perasaan yang berbeda pada wanita itu.
Wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu terlalu polos, ia suka.
Wanita itu adalah cinta pertama di dalam hidupnya. Selama ini ia tak pernah menyukai atau jatuh cinta pada seorang gadis manapun. Mungkin karena faktor Cecily adalah istri nya.
Aku datang seperti biasa, tetapi kali ini aku sangat menantikan kabar baik dari dokter. Kabar apakah ada pendonor paru-paru yang cocok untukku.
Ya, kalian tak salah dengan. Pendonor paru-paru. Aku mempunyai penyakit yang bisa di bilang berbahaya.
Kanker paru-paru.
Aku tak tahu penyebab awal nya apa, mungkin karena dulu nya ayah ku adalah perokok aktif, mungkin, itu hanya tebak-tebakan ku saja, mengingat aku juga tak merokok.
Tapi sayang nya hari itu, yang kudapatkan hanya berita buruk.
Tak ada pendonor yang cocok dan juga penyakit ku yang bertambah parah.
Dokter memperkirakan hidup ku tak akan bertahan lama dengan paru-paru yang ku punya. Perkiraan dokter pasti hanya beberapa tahun kedepan.
Aku menghela nafas, tak tahu harus melakukan apa. Perasaan bingung, takut dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.
Aku ragu menceritakan ini semua kepada perempuan remaja itu, dan juga sebenarnya mamaku juga tak tahu tentang ini.
Aku lebih suka merahasiakan sesuatu dari pada menceritakan nya. Alasan nya mudah, tak mau membebani orang lain dengan masalahku sendiri.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan lesu.
Tak tahu harus berkata apa, aku takut jika aku benar-benar jatuh cinta pada gadis yang sekarang sedang tertidur di kasur ku ini.
Semalaman aku tak tidur memikirkan penyakit yang kupunya dan apa yang harus aku lakukan.
Aku tak tahu, semuanya terlalu rumit bagiku.
Akhirnya aku memilih sebuah cara yang menurutku tak akan menyakiti kami berdua.
Yaitu dengan selalu mengabaikan wanita itu, aku berpikir jika aku mengabaikan Cecily dan mencueki nya, pasti wanita itu akan merasakan benci padaku.
Jadi saat aku meninggal, Cecily tak akan merasa sedih.
Aku sudah mewanti-wanti semua nya. Aku sudah memindahkan seluruh aset ku atas nama wanita itu tanpa ia tahu.
Aku hanya tak ingin, di saat aku meninggal, wanita itu malah menjadi susah.
Aku juga memastikan perusahaan di urus oleh orang yang jujur sampai wanita itu mengerti dan matang usia nya untuk mengurus sebuah perusahaan.
Sayang nya aku terjebak dengan rencana ku sendiri. Bukan nya membenci wanita itu karena minim nya interaksi mereka, ia malah semakin menyayangi wanita itu.
Sikap-sikap wanita itu yang kekanak-kanakan membuatku malah bertambah jatuh cinta.
Lama kelamaan aku akhirnya semakin dingin pada wanita itu.
Sayangnya di bulan ke tiga pernikahan mereka, wanita itu malah mengandung anak nya.
Itu adalah titik terhancur dalam dirinya. Ia tak tahu harus berkata apa.
Aku selaku ketakutan setiap malam nya, apalagi membayangkan anakku yang akan tiada, belum lagi khawatir dengan usia wanita itu yang masih belasan tahun. Dan kini aku menyesal dengan semua ini.
Tetapi di satu sisi aku senang, senang karena sebentar lagi akan mempunyai anak.
Tak pernah terbanyangkan oleh ku akan mempunyai seorang anak.
Tetapi lagi dan lagi, aku malah bersikap tak peduli. Agar Cecily tambah membencinya dam juga anaknya akan ikut membenci nya.
Aku sebenar nya tak tega, bahkan selalu terpikirkan setiap malam nya. Aku hancur, aku tak tahu harus melakukan apa.
Aku menyayangi mereka berdua, tetapi aku takut jika, takut akan kematian ku sendiri, aku takut mereka akan merasa sedih dengan kematian ku.
Setelah bergelut dengan selalu pikiran ku, akhirnya aku memilih seperti biasa.
Bersikap tak peduli saat wanita itu terjaga, dan mulai mengelus perut buncit milik wanita itu di dalam hari dengan air mata yang bercucuran.
Apalagi mengingat ia yang malah mengacuhkan wanita itu saat ia merasa kesakitan.
Aku merasa bersalah sekali waktu itu, andai waktu bisa di ulang, tak akan aku lakukan lagi. Tetapi untung nya ada orang baik yang membantu wanita itu.
Aku hanya bisa melihat wanita itu dari jauh dengan tatapan datar, sambil terkekeh pelan.
Aku selalu mengumpati sisi brengsek yang ada di dalam diriku, tetapi mau bagaimana lagi, seperti kesepakatan awal, mereka harus membenciku.
Di waktu wanita itu mengajak pemeriksaan dan usg, ia sangat mau, mau sekali.
Tapi lagi dan lagi aku menekan ego ku, aku lebih memilih untuk mengikuti wanita itu dari jauh dan berakhir meminta salinan data dari dokter yang memeriksa Cecily dan anak nya.
Aku selalu mengelus perut buncit itu tanpa wanita itu tahu, aku selalu melakukan nya. Aku selalu mengajak bayi yang masih ada di kandungan itu berbicara.
Merekam memori-memori indah antara kami bertiga di tiap malam nya
Dan mengingat itu semua di setiap pagi nya, selalu seperti itu, berulang-ulang ia lakukan itu setiap hari.
Hingga tanpa terasa waktu beranjak sembilan bulan.
YOU ARE READING
LAST OPTION
RomanceJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
