Jika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
Mungkin kata suami “jahat” “durhaka” sudah biasa terdengar di dunia ini. Tapi Ruth, suaminya itu baik, bahkan sangat baik. Baik, tampan, setia, pekerja keras, gentle man, tidak kdrt, perhatian dan segala macam tingkah yang bisa dibilang greenflag, Sayangnya perlakuan Luaciane pada Ruth berbanding terbalik dan Luciane baru menyadari itu semua saat kata sesal tak lagi berguna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
sekilas cerita
. . .
“HAH KOK BISA SIH, KOK BISA AKU HAMIL, PADAHAL GAK ADA YANG PENGEN JUGA.” Dada Luciane naik turun karena amarah. Wanita itu melempar tespek yang ada di tangan nya dengan kasar.
“Hey, that’s ok. Kalo kita udah gak berencana tapi dia masih hadir, berarti itu rezeki, rezeki yang patut di syukuri.” Ucap Ruth berusaha menenangkan sang istri meski keadaan dirinya sendiri entah bagaimana. Dan kemudian mengambil tespek yang dilempar oleh Luciane tadi.
Dirinya senang, bahkan sangat senang, hal yang sebenarnya sangat ia nantikan sejak awal pernikahan. Sayangnya melihat respon sang istri membuat hatinya sedih dan ragu di saat yang bersamaan.
“Rezeki rezeki, musibah yang ada.” Suara Luaciane semakin menggebu-gebu.
“Jangan begitu, nanti dia denger dan jadinya sedih.” Ruth berusaha untuk tersenyum dan memegang tangan sang istri.
Luciane menghempaskan kasar tangan Ruth yang memegang tangan nya. “Diam deh, aku gak peduli, gara-gara dia, badan aku bisa-bisa gendut, mana harus ngandung dia lagi 9 bulan.”
“Pokoknya aku gak mau titik. Aku mau gugurin dia.”
Badan Ruth seketika langsung lemas mendengar itu. Tangan nya yang berusaha menyentuh sang istri bergetar hebat.