Sudah seminggu Cecily menjaga Gerrad, tetapi pria itu tak kunjung bangun.
Cecily menghela nafas, ia mengelus-ngelus rambut Gerrad dengan lembut.
Cecily menatap wajah yang sudah sangat tirus itu.
"Mas, kok gak bangun-bangun sih, aku kangen."
"Semua orang kangen sama kamu mas."
"Masa kamu masih gak mau bangun sih, sebentar lagi anak kamu bakal lahir loh, sayang banget udah kelahiran kedua kamu masih gak nemenin."
"Huhu, malang banget nasib aku." Ucap Cecily terkekeh sambil mengusap air matanya.
"Aku capek tau mas, aku sekarang udah gak kerja, males soal nya."
"Aku lebih milih di sini aja nemenin kamu."
"Aku kira hidup ali berat saat ada kamu, dan bakalan mudah kalau jauh dari kamu, tapi ternyata kenyataan nya gak gitu Mas."
"Aku capek hidup tanpa kamu beberapa bulan ini, hati aku selalu kosong rasanya, hati aku hampa aja mas."
"Apalagi nanti kalau sesuatu yang buruk terjadi, aku tambah gak siap mas."
Kali ini air mata yang Cecily usahakan untuk tak turun, sekarang malah terjun begitu saja tanpa bisa ia tahan.
Cecily menghela nafas, ia memeluk Gerrad dalam posisi duduk, menyandarkan badan nya di kasur Gerrad yang masih ada tersisa beberapa ruang.
Cecily menghela nafas entah ke yang berapa kalinya. Cecily menatap sekitar, dan terakhir menatap Gerrad lama.
Dengan perlahan Cecily keluar dan menutup pintu secara perlahan.
"Loh, Lessa kok disini?." Tanya Cecily terkejut saat ia menutup pintu ternyata di luar sudah ada Lisandro dan Alessandro.
"Lessa kangen tau sama mama, mama jarang banget pulang, jadinya Lessa lebih sering tidur sama om Lisa." Adu Alessandro dengan hidung yang sudah memerah, Cecily yang mendengar itu hanya bisa tersenyum tipis, tak tahu harus berkata apa.
"Mama kok nangis, emang siapa yang sakit ma?." Lanjut Alessandro.
Cecily terdiam sejenak, tatapan Cecily jatuh pada Lisandro yang ternyata juga sedang menatap nya.
Melihat anggukan dari Lisandro membuat Cecily langsung menarik nafas.
"Papa." Jawab Cecily dengan senyum tipis.
"Emang papa kenapa ma?." Tanya Alessandro penasaran.
Cecily hanya diam, tak bisa menjawab, bingung bagaimana caranya untuk menjawab.
Lisandro yang mengerti langsung menggendong Alessandro dan membawa anak itu ke ruangan Gerrad. Ruangan yang bisa di lihat dari luar, dari kaca yang tembus pandang.
Mata Alessandro langsung terbuka lebar melihat keadaan sang papa.
Matanya berkaca-kaca melihat wajah yang biasa nya tegas itu sekarang malah berbaring gak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit dengan alat-alat yang ia tak tahu.
"Mama." Tangis Alessandro,
Ia merentangkan tangan nya, kode ingin di gendong oleh Cecily.
Cecily mengusap air mata Alessandro terlebih dahulu dan kemudian menggendong Alessandro.
"Mama, papa kenapa?." Tanya Alessandro dengan nada yang tersendak-sendak karena bercampur dengan tangis.
"Papa gak papa, sebentar lagi papa sembuh kok." Ucap Cecily berusaha menenangkan Alessandro.
Padahal saat ini matanya sudah berkaca-kaca karena menahan tangis.
"Lessa gak mau papa kayak gitu."
"Lessa sayang sama papa ma...."
"Lessa gak papa kok papa marahin Lessa kayak biasa, tapi Lessa gak mau papa sakit."
Cecily tak tahu harus merespon seperti apa ucapan sang anak.
Jika Cecily bisa memilih, maka ia akan memilih hal yang sama.
Pikiran Cecily sama seperti Alessandro, biarlah ia di cueki Gerrad seperti biasa tetapi pria itu tetap sehat dan dapat di lihat seperti biasa.
Semua nya terlalu berat untuk Cecily dan Alessandro.
Awalnya Cecily pikir Alessandro tak akan peduli dengan ayah nya itu.
Cecily pikir Alessandro akan membenci Gerrad karena semua perlakuan sang papa pada nya.
Ternyata Cecily salah, Alessandro malah sangat menyayangi sang papa. Bahkan tak dapat Cecily lihat setitik kebencian pun untuk Gerrad dari Alessandro.
Mengapa?, mengapa mereka tak bisa membenci Gerrad?.
Pria yang telah menghancurkan hidup mereka, pria yang selalu memberikan mimpi buruk untuk mereka.
Pria yang memberikan mereka harapan-harapan palsu yang fana.
YOU ARE READING
LAST OPTION
RomansaJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
