Vote dan komen nya jangan lupa yaaaa, seperti biasa 100 vote lebih baru aku up yaaa, bagi yang pengen tau lebih dulu drpd yg lain hingga ending bisa hubungin no di bawah ini yaaa dg harga 15k
083143977387
.
.
.
"Alessandro, cepetan, om aku udah nunggu." Teriakan dari Kevin langsung membuat Cecily dan Alessandro bergegas keluar.
Mereka keluar dan melihat ternyata Kevin sudah menunggu di depan pintu.
"Ini, bekal buat Alessandro, bunda aku bikin." Ucap Kevin sambil memberikan sebuah kotak bekal kepada Alessandro.
"Loh, kok Lessa nya di kasih bekal sama mama Kevin?."
"Gak apa-apa, kata bunda dari pada nanti beli makanan."
"Makasih ya Kevin, bilang juga ke bunda kamu."
"Siap tante."
"Ayo, cepetan berangkat, pasti om di dalem udah nyumpahin kita." Alessandro dan Kevin tertawa membayangkan itu.
"Lessa berangkat dulu ma."
"Iya, Kevin berangkat juga tante."
Mereka melambaikan tangan kepada Cecily. Cecily membalas lambaian tangan itu hingga saat mobil Lisandro sudah mulai berjalan, pergi ke sekolah Alessandro.
Setelah mobil itu tak lagi terlihat, Cecily kembali ke dalam rumah. Ia memulai menyusun bahan makanan yang di beli oleh Lisandro.
Selain bahan makanan, ternyata Lisandro juga membeli susu hamil dan juga vitamin.
Cecily menghela nafas, ia merasa tak enak dengan pria itu. Lisandro sudah terlalu banyak menolong nya.
Apa yang bisa Cecily lakukan untuk membalas kebaikan Lisandro?.
Setelah selesai dengan pekerjaan nya, Cecily kembali ke dalam kamar. Ia membuka koper yang sebenarnya belum selesai Cecily susun di dalam lemari.
Cecily kembali melipat-lipat pakaian yang ada di dalam sana agar lebih rapi.
Cecily terdiam saat melihat beberapa pakaian bayi yang sengaja ia bawa, beberapa pakaian milik Alessandro dahulu.
Pakaian itu masih bagus, mengingat harga nya yang mahal.
Cecily terkekeh pelan, pakaian itu memang mahal, tetapi banyak kenangan buruk di dalam nya.
Cecily menghela nafas, ia selalu merasa bersalah pada Alessandro, merasa bersalah karena selalu membiarkan anak nya mendapat kenangan buruk dari sang papa.
Cecily menghela nafas dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya tanpa memikirkan sesuatu yang buruk.
Cecily menghela nafas, rasanya Cecily masih trauma dengan lahirnya Alessandro waktu itu. Dan bagaimana proses membesarkan Alessandro yang begitu sulit tanpa bantuan Gerrad sama sekali, padahal keadaan nya saat itu ia masih lah seorang remaja yang tak tahu apa-apa.
Cecily takut dengan kejadian-kejadian buruk itu akan terulang lagi, belum lagi menyadari bagaimana sulit nya membesarkan anak sendirian.
Cecily sebenarnya bingung, membesarkan anak dengan uang yang berlimpah saja Cecily kesulitan, apalagi dengan uang yang kurang.
Dan Cecily juga akan membesarkan kedua anak sekaligus nantinya di usia yang baru 22 tahun.
Apes sekali nasib Cecily, tetapi ia tetap bersyukur. Andai tak ada Alessandro di hidup nya, Cecily tak bisa membayangkan betapa kesepian nya hidup nya.
Cecily menghela nafas, apakah pria itu memikirkan nya?, apakah Gerrad merasa ada yang hilang seperti dirinya kah saat ia dan Alessandro tak ada?.
Cecily menepuk pipi nya pelan, ia tak boleh berpikiran seperti itu. Jika benar ia dan Alessandro berarti bagi pria itu, pasti sejak dulu ia tak akan mau memperlakukan mereka dengan buruk.
Cecily menghela nafas dan kemudian memilih untuk keluar, untuk menonton tv sambil menunggu Alessandro pulang sekolah.
Jika ia berpikiran buruk maka itu juga akan berpengaruh nantinya pada sang anak yang ada di dalam kandungan nya.
Cecily tak boleh stress, Cecily harus meyakinkan dirinya sendiri jika itu semua tak akan terjadi.
Karena ia sudah jauh dari penyebab utama dari segala masalah dalam hidup nya.
☆
Cecily berdiri dari atas sofa saat mendengar ketukan pintu.
Cecily memperhatikan jam di dinding, ternyata sudah waktunya Alessandro pulang.
Seperti nya itu adalah Alessandro. Cecily mengambil kunci pintu dan kemudian membuka pintu.
Ia langsung tersenyum lebar pada tiga orang di depan nya ini. Ternyata tak hanya Alessandro, ada Kevin dan Lisandro juga.
"Lessa pulang ma."
"Kevin juga mau main di sini tante."
"Iya, ayo masuk, Kevin sekalian pakai pakaian Lessa dulu."
"Siap." Dua anak yang berbeda beberapa bulan itu langsung berlari ke dalam kamar sambil bercanda satu sama lain.
"Gue gak di suruh masuk?."
"Eh, iya, ayo masuk."
Lisandro masuk ke dalam sambil menenteng dua buah paper bag. Mereka pergi ke ruang keluarga, Cecily mengikuti langkah kaki besar milik Lisandro.
"Ini makanan buat nanti, dua bocah tu katanya mau nonton, lo masak deh ni popcorn."
"Tunggu dulu, ini pakaian buat lo ngantor hari senin."
"Serius kamu beliin?." Tanya Cecily dengan semangat, ia mengambil paper bag dari Lisandro.
Matanya berkaca-kaca melihat itu. "Thank you so much Lisandro." Ucap Cecily sambil memeluk pria itu erat.
"Ah, sesek gila, lo mau bunuh gue?." Cecily langsung melepaskan pelukan itu sambil terkekeh pelan.
"Yaudah, aku mau masak popcorn nya dulu, kamu ngurusin film nya." Setelah melihat Lisandro menganggukkan kepala, Cecily pergi ke dapur untuk membuat popcorn mentah yang di berikan Lisandro tadi.
Lima belas menit berlalu, barulah Cecily selesai dengan pekerjaannya. Ia berjalan kembali ke ruang keluarga.
Ternyata di sana sudah ada Alessandro dan Kevin juga, dan jangan lupakan ruangan yang sudah gelap.
"Ayo tante, Kevin udah gak sabar nonton film nya." Ucap Kevin, Cecily terkekeh pelan saat mendengar nada bicara tak sabaran milik Kevin.
"Iya, mulai aja duluan nonton nya, tante mau ambil minuman nya dulu." Akhirnya mereka mulai menonton film dengan persetujuan Cecily.
Sedangkan Cecily, ia kembali ke dapur dan mengambil susu coklat dingin yang ia buat tadi.
Cecily kembali ke ruang keluarga sambil membawa sebuah nampan.
Cecily terdiam sejenak sebelum menghampiri mereka, Cecily tersenyum tipis, rasanya bahagia saat melihat senyum Alessandro.
Senyum dan tawa bahagia yang belum tentu akan Alessandro dapatkan jika ia tetap di rumah Gerrad.
Cecily kemudian berjalan ke sana dan memberikan susu coklat itu satu persatu untuk mereka, termasuk untuk dirinya.
Mereka menonton film itu sambil sesekali tertawa. Belum lagi mendengar perdebatan antara Alessandro dan Kevin.
"Terima kasih Tuhan, setidaknya Lessa bahagia meski ia harus berpisah dengan Gerrad."
YOU ARE READING
LAST OPTION
RomanceJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
