Kenapa yaaaa komen kalian selalu bikin aku ragu buat stop updateee, ini kalian pake pelet apa siiii🤗🥲 hihi yaudah aku mulai lg update nya deh, tpi kaya biasa, 100 vote lebih baru aku lanjut yaaaa, btw bagi yg mau tau lebih dulu drpd yg lain bisa hubungin no di bawah ini yaaa dg harga 15k
083143977387
.
.
.
Cecily mulai membuka perlahan matanya karena ia terbangun oleh jam alarm yang ia atur.
Cecily menatap sekitar kamar yang masih terasa asing bagi nya.
Cecily mengelus-ngelus perut nya yang sudah terlihat buncit.
"Morning, how are you?."
"Kamu gak sedih kan di dalam sana?."
"Semoga kamu sehat selalu dan bahagia."
"Kalau kamu sedih, pasti mama dan kak Lessa juga bakalan ikut sedih."
"Mama minta maaf ya dengan kejadian terakhir, kalau ucapan papa kamu nyakitin dan jahat banget."
"Tapi bagaimana pun dia tetep papa kamu, awalnya berat ya kita ninggalin dia, tapi pas udah di jalani ternyata gak seberat yang di bayangkan."
"Mama janji, kita akan happy ending dengan cara kita sendiri, dan tentunya tanpa papa kamu."
Cecily tersenyum tipis, awalnya ia benar-benar takut untuk meninggalkan Gerrad dan rumah.
Mengingat sejak dulu Cecily selalu di sana, ia juga selalu bergantung dengan Gerrad.
Tetapi saat Cecily jalani, semua nya tak seberat itu, walau Cecily tak bisa munafik juga kalau sebagian hatinya merasa kosong.
Cecily tak munafik, sampai sekarang ia masih mencintai lelaki dengan wajah datar itu.
Wajah yang ekspresi sama meski pria itu bahagia, marah, sedih, kecewa, aneh memang..
Cinta pertama seorang Cecily, benar kata orang jika cinta pertama itu sulit sekali di lupakan.
Cecily merasa ini adalah pilihan terbaik, dimana ini akan tetap menjaga kesehatan dan kewarasan nya.
Jauh dari pria itu adalah kunci dari semuanya. Setidak nya sampai sekarang hati nya tenang, hidup mereka juga sudah terjamin, mengingat Cecily juga akan bekerja.
Ia akan menghemat semua gaji dari ia bekerja untuk kelahiran bayi yang ada di kandungan nya ini.
Cecily ingin sekali berterima kasih sebanyak-banyak nya pada Lisandro, tanpa pria itu Cecily tak akan ada di sini.
Mungkin saja jika tak ada Lisandro Cecily masih ada di rumah Gerrad, bersama pria itu, sambil menahan sakit saat mendengar penolakan-penolakan yang menyakitkan hati.
Cecily tak pernah membayangkan jika Lisandro akan sebaik ini padanya, pria yang sedarah dengan wanita yang juga membantu nya, wanita yang dari awal selalu ikut andil sejak kehamilan pertama nya.
Pria itu terlalu baik, padahal dulu nya Lisandro lah yang dulu sering sekali mengganggu nya saat sekolah.
Cecily selalu berdoa kepada tuhan, agar Lisandro selalu bahagia di dalam hidupnya.
Pria itu terlalu baik, Cecily tak bisa lagi berkata-kata untuk mengucapkan terima kasih nya dan betapa bersyukur nya Cecily dipertemukan lagi dengan Lisandro.
Cecily menghela nafas saat mendengar ketukan dari pintu. Ia mengerutkan keningnya, siapa yang mengetuk pintu di pagi buta seperti ini.
Cecily menghela nafas dan kemudian turun dari atas tempat tidur dan ia berjalan keluar ke arah pintu depan.
Sebelum itu ia mengambil kunci pintu yang tergantung.
Klik
Pintu terbuka, Cecily mengerutkan keningnya saat melihat ternyata orang yang mengetuk pintu tadi bukanlah orang yang ia kenal nafas dan kemudian bertanya.
"Siapa ya?."
"Ini ada pesanan atas nama Lisandro Maha Putra, di suruh nganterin makanan ke alamat ini." Cecily yang mendengar ucapan pria itu langsung mengangguk-ngangguk mengerti.
Cecily mengambil makanan dari tangan pria di depan nya ini.
"Makasih ya."
"Iya bu, kalau gitu saya keluar dulu."
"Iya hati-hati." Cecily akhir nya menutup pintu setelah pria itu tak nampak lagi di hadapan nya.
Cecily masuk ke dalam rumah dan kemudian membawa makanan yang di berikan Lisandro tadi ke meja makan.
Cecily berjalan kembali ke dalam kamar, dengan tujuan membangunkan Alessandro.
"Lessa, bangun, waktunya sekolah, sebentar lagi om Lisandro nya dateng buat jemput."
"Hmm, tunggu dulu ma, 5 menit." Akhirnya Cecily menyetujui permintaan Alessandro. Ia memperhatikan wajah Alessandro yang sedang tidur itu.
Wajah yang sangat amat mirip dengan wajah tampan milik Gerrad.
Cecily tak munafik jika setiap melihat wajah mungil itu, ia selalu teringat dengan Gerrad, yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami nya.
Cecily menghela nafas, merasa bersalah dengan apa yang sudah Alessandro alami, padahal beberapa bulan yang lalu Alessandro sangat bahagia, mengingat sang papa yang sudah berubah.
Ternyata kenyataan nya, pria itu malah hanya memberikan angan-angan dan harapan-harapan yang ternyata sangat fana.
Apa pria itu tak kasihan saat melihat wajah sedih sang anak? Anak kandung nya, yang penyebab kesedihan anak nya adalah dirinya sendiri, apa pria itu tak merasa bersalah?.
Bisa-bisanya ia tega pada pemilik wajah mungil ini, wajah yang ketampanan ini menurun dari nya.
Mengapa pria itu tega?, Cecily bahkan tak percaya saat melihat foto kecil Gerrad, yang benar definisi bentuk wajah Alessandro.
Mereka ibarat kembaran yang umur nya jauh, tetapi mengapa pria itu berani menyakiti anak nya sendiri?.
Cecily bahkan sampai sekarang merasa bersalah sekali pada Alessandro, wajah polos yang menyimpan banyak luka.
"Lessa, bangun, udah lima menit."
Alessandro mulai membuka matanya dengan perlahan, meski rasanya berat.
Alessandro langsung memeluk Cecily saat matanya sudah terbuka sebentar.
Cecily tersenyum tipis melihat apa yang Alessandro lakukan, anak nya itu mengelus-ngelus perutnya yang berisi sang adik.
"I love you dede bayi......"
"Love you more kak Lessa...." Jawab Cecily dengan nada yang dibuat seperti anak kecil.
"Mama....." Cecily tertawa saat mendengar ucapan malu dan wajah memerah dari sang anak.
"Yaudah, ayo mandi, siap-siap buat sekolah."
Alessandro mengangguk dan mulai turun dari tempat tidur, ia berjalan ke kamar mandi.
Cecily memperhatikan itu semua, memperhatikan apa yang di lakukan sang anak.
Cecily tersenyum tipis saat melihat anak nya yang dalam beberapa bulan lagi akan masuk ke umur lima tahun.
Tak percaya rasanya jika Alessandro sudah sebesar ini, padahal rasanya baru kemarin ia mengandung Alessandro.
Cecily terkekeh pelan, mengingat masa kecil Alessandro sama dengan mengingat masa-masa terburuk dalam hidup nya.
Cecily menghela nafas dan berusaha tak mengingat itu semua.
Cecily akhirnya keluar dari kamar itu, dan memilih untuk berjalan keluar kamar, sambil menunggu Alessandro yang sekarang sedang bersiap-siap.
YOU ARE READING
LAST OPTION
RomanceJika Gerrad sang suami hanya tak mencintai nya, Cecily masih dapat menerimanya, tetapi mengapa pria itu juga mengabaikan anak mereka?, apakah waktu 5 tahun ini tak cukup untuk menumbuhkan sedikit rasa cinta di dalam hati pria itu?.
