Seungcheol marah

1.4K 84 3
                                        

Chan memasuki halaman rumahnya kemudian memarkirkan sepeda di tempatnya. Ia pun masuk kedalam seperti biasa.
"Welcome home, Jung Chan." Sapa seungcheol yang duduk di sofa membuat dino sangat terkejut sehingga ia membeku beberapa detik.
"Ah hyung pulang awal ya, hehe." Dino canggung.
"Hm, how's your day? Lo pulang lebih telat hari ini."
Entah mengapa suasana menjadi mencengkam.
"Eh iya gue pulang agak sore." Jawab dino
"Duduk dulu, lo pasti capek." Seungcheol menepuk sofa disebelahnya, mau tak mau dino menghampirinya dan duduk bersama."
"Jaket baru nih?"
"Eh.." dino mencoba membuat jarak
"Bau nya masih baru." Ucap seungcheol, dino tak menjawab. Seungcheol pun membuka ponselnya.
"Hyung gue ke kamar dulu ya." Chan berdiri ingin segera pergi, namun dengan cepat tangannya dipegang kemudian seungcheol mengangkat lengan jaket dino. Tampak sudah tangan kanan dino yang terlilit perban.

"Kenapa?" Tanya seungcheol
"Anu.. keseleo. Gapapa kok" jawab chan gugup
"Kok bisa?"
"Jatuh tadi, maaf."
"Kalo gak gue tarik jaket lo, lo gak bilang?"
"Bu-bukan gitu hyung, tapi.."
"Gue tau lo beli jaket baru, gue liat lo di toko itu tadi. Lo bermaksud mau nyembunyiin ini?"
"Ngapain hyung di toko itu?"
"Siapapun boleh kesana, dino. Dan.. temen-temen kamu juga ga berangkat pake sepeda hari ini."

Degg..
Bagaimana bisa seungcheol tahu sebanyak itu? Habislah Dino kali ini.

"Kenapa diem? Kaget kenapa gue tau? Gue dan 2 temen gue tadi ke klinik anter temen kerja gue yang tiba-tiba sakit. Kebetulan aja ke klinik itu karna temennya temen gue tugas disana, jadi biar kita ga antre lama-lama makanya kesitu. Pas gue nunggu, gue denger nama lo dipanggil pihak administrasi. Awalnya gue kira bukan lo, tapi saat itu juga gue liat temen-temen lo disana dan yang jalan ke administrasi itu lo."
"Kebetulan juga saat itu teman gue selesai priksa jadi gue ijin pergi duluan pas lo udah beres. Gue khawatir makanya gue ikutin lo. Tapi gue sengaja ga mau datengin lo saat itu juga. Dan setelah lo selesai di toko baju itu, gue salip lo biar gue duluan sampe rumah. Ada firasat gue bahwa lo bakal gak jujur."

Seungcheol menjeda sebentar omongannya ketika melihat chan terdiam.

"Sekali lagi, kenapa lo bisa sampe luka?" Tanya seungcheol
"Gue jatuh hyung."
"Kok bisa? Dimana?"
"Deket sekolah."
"Serius jatuh doang?"
"Iya lah, lo liat juga seragam gue kotor ini loh. Kalau ga jatuh kenapa lagi?" Ucap chan dengan Nada bicara kurang enak
"Yaudah sih biasa aja ngomongnya. Bikin gue agak curiga tau." Jawab seungcheol
"Ya lo kenapa sih tiba-tiba gini."
"Gue biasa aja. Gue cuma ga suka lo luka kayak gini. Tumben banget minta naik sepeda, udah gue larang jugaan. Lo sebenarnya ngehargain gue sebagai hyung lo gak sih chan?"
"Maksud lo apa sih?!"

Entah mengapa saat itu seungcheol menjadi sulit mengendalikan emosinya. Daripada ia marah disana, ia memutuskan keluar rumah.

"Hyung lo mau kemana? Hyung!!" Panggil chan namun tak dihiraukan seungcheol.
Kini chan merasa frustrasi. Belum rasa sakit di tangannya, belum ditambah hyungnya yang memarahinya.

Sampai pukul 9 malam, seungcheol masih belum pulang. Chan spam chat atau meneleponnya namun tidak ada respon sama sekali. Chan khawatir, bingung, malu juga. Ia menangis dibalik selimutnya.

Keesokan harinya, chan sudah selesai bersiap-siap dan ke meja makan untuk sarapan. Dia berharap bertemu seungcheol disana, namun nihil. Chan hanya mendapati bibi Kang yang tengah menata makanan di meja makan.

"Pagi bi, hyung belum turun?" Tanya chan
"Eh nak Chan.. hyung kamu udah berangkat. Katanya ada urusan. Sini nak duduk lalu sarapan." Jawab bibi Kang
"Hmm bi, kotak bekal ku udah selesai?"
"Tinggal bibi masukkan sayurnya aja nak, kenapa?"
"Aku juga hari ini ada kegiatan lebih pagi, jadi aku sarapan disekolah aja bi." Chan sebenarnya berbohong.
"Oalah kamu kenapa ga bilang kemarin? Bibi segera siapkan. Tunggu sebentar." Bibi kang dengan cepat mempersiapkan bekal chan.

"Nak chan, ini bibi udah masukkan double makanan buat sarapan sama makan siangnya ya." Bibi memberi tas bekal chan.
"Wahh terimakasih bi, aku berangkat."
Chan telah memesan taksi online, namun dia tidak pergi kesekolah. Chan pergi ke kantor seungcheol. Tampak kantornya belum ramai karena memang belum jam kerja karyawannya. Chan masuk ke dalam, disana tampak petugas kebersihan sedang bersih-bersih.
"Ehh anda adiknya bapak seungcheol kan? selamat pagi, sudah lama tak bertemu." Sapa petugas kebersihan. Chan hanya tersenyum dan sedikit membungkuk.

Sementara itu di dalam ruangan pribadinya, seungcheol tampak sedang mengobrol lewat telepon.

📞
🍒 : han, adek lo han.
😇: dino? Kenapa?
🍒: *menjelaskan semuanya*
😇: gue paham sih kalau lo sekhawatir itu.
🍒: gue beneran masih emosi, ngerasa ga dihargai. Gue yakin dia ga jujur sepenuhnya.
😇: iya seungcheol. Coba nanti gue bantu tanya ke Dino deh ya. Gue pelan-pelan bakal rayu dia.
🍒: makasi ya, Yaudah gue mau cek kerjaan dulu.
😇: oke. tapi seungcheol, lo tau dino dengan baik kan?
🍒: iyalah. Emang kenapa?
😇: jangan nge-ghosting dia lama-lama yaa.
           Tut tut tut..

Setelah telepon berakhir, seungcheol cukup bingung dengan perkataan terakhir jeonghan.
"Nge-ghosting? Maksud dia gue marah? Emang salah gue marah? Orang dino yang keras kepala, dia pasti ga bakal berenti sebelum keinginannya terpenuhi." Gumam seungcheol
"Eh?!!!" Seungcheol tiba-tiba berdiri dari duduknya, ia juga tiba-tiba ingat dengan spam chat dino kemarin yang belum ia baca. Kemudian ia kembali mengambil ponselnya dan melihat notifikasi dari dino pagi ini.

"Pagi hyung, kok ga bilang berangkat pagi? Hyung gak sarapan kan? Gue bawain ke kantor ya."

"Lee jung-chan!" Seungcheol bergegas keluar ruangannya. Ketika ia membuka pintu, ia telah mendapati chan yang berdiri dengan pakaian sekolah dan jaket yang kemarin ia beli. Tangannya menenteng tas bekal dan wajahnya tampak sedikit pucat. Chan tampak sedikit berantakan.

"Wahh pas sekali hyung buka pintu." Ucap dino dengan senyuman
"Gue bawa sarapan buat lo. Dan tadi gue beli roti manju yang biasa lo suka. Nih, jangan lupa dimakan." Chan memberi tas bekalnya. Sejujurnya itu miliknya, namun agar bertemu dengan seungcheol, ia memberi bekalnya ke seungcheol.
Seungcheol menarik chan kedalam kemudian memeluknya. Saat itu juga chan langsung menangis.

"Lo ngapain gini sih.." seungcheol membiarkan chan menangis dipelukannya.
"Gue minta maaf.. gue mau minta maaf tapi gue ga ketemu lo dari kemarin malam. Gue khawatir." Ucap chan sambil terisak.
"Sorry gue kemarin butuh waktu aja." Jawab seungcheol.

"Jadi ini maksud jeonghan tadi?" Batin seungcheol

"Chan udah jangan nangis, lo juga belum sarapan kan? Ayo makan bareng gue?" Ajak seungcheol dan chan pun mengangguk.
Seungcheol membukakan kotak bekal itu untuk dino, namun saat dino ingin makan, ia tampak kesulitan karena tangannya sakit.
Seungcheol yang melihat itu langsung mengambil sendok dan menyuapi dino. Dino menerima tiap suapan yang diberikan seungcheol sambil menghapus air matanya yang kembali menetes.

"Habis sarapan kita ke rumah sakit ya." Ucap seungcheol
"Ngapain?" Tanya dino
"Tangan lo bengkak, periksa sekali lagi. Izin jangan sekolah"
"Hmm baik hyung." Chan menuruti.










Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang