Chapter41

844 80 1
                                        

Setiap chan opname di rumah sakit, itu selalu memakan waktu yang cukup lama. Ia biasa dirawat selama seminggu lebih. Dan hari ini adalah hari ke-5 ia dirumah sakit.
Hari ini ia sedang berada di taman rumah sakit bersama jeonghan. Seungcheol sedang ada meeting dan mama nya ada keperluan dan mengharuskan ia pulang. Kebetulan urusan dikantor jeonghan di handle papa nya, jadi ia bisa menemani chan.

Di kursi taman tersebut mereka berdua duduk menikmati udara segar.
"Jeonghan hyung.." panggil chan
"Hm? Ada apa?" Balas jeonghan
"Sebenarnya gue bakal sembuh gak sih hyung?"

Degg..
Perasaan jeonghan yang sudah menduga bahwa chan akan bertanya seperti itu padanya.

"Hyung.. soalnya nih ya gue muntah dikit dirawat, demam dikit dirawat, terus kali ini gue pingsan doang bakal dirawat lebih lama katanya."
"Iya kan harus nurut kata dokter.." ucap jeonghan
"Lalu, apa gue bakalan sembuh? Siang ini gue cuci darah yang kedua diminggu ini loh. Udah 2x juga sejak gue dirawat."

Jeonghan ingat beberapa hari sebelumnya seungcheol cerita bahwa chan bertanya hal ini kepada dirinya. Seungcheol tidak suka ditanyai seperti itu sehingga ia selalu menberikan jawaban yang sama. Dan jeonghan kali ini berusaha memberi jawaban dengan cara yang berbeda.
"Kalo menurut gue pribadi sih, tergantung diri sendiri. Balik lagi ke diri sendiri. Kalo lo yakin bakal sembuh, lo pasti bakal sembuh. Kalo lo biarin sakitnya menguasai lo, ya bisa jadi lo kalah."
"Gue, seungcheol, dan orangtua kita yakin kalo ini bakal terlewati. Masak kita kita ini udah yakin, lo nya engga? Ga boleh gitu dong. Lo harus yakin lo sembuh, dan lo bakal sembuh!"

Chan sedikit tekekeh mendengar jawaban jeonghan "Gue awalnya yakin sih, cuma kadang gue negatif thinking."
"Jangan negatif thinking, anggap sakit lo itu engga ada tapi biasakan diri lo dengan jangan melakukan hal yang bikin lo sakit." Ucap jeonghan.
"Iya deh iya." Chan menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya di kursi taman itu.
"Gue engga suka bikin orang repot. Salah satunya lo, mungkin kalo lo ada waktu senggang gini lo bisa ngelakuin hal lain kayak refreshing atau apa kan? Tapi lo sekarang malah nemenin gue disini. Whatever dah, intinya makasi udah sering mau direpotkan ya hyung hehe."
"Lo ngomong apa chan? Gue ga pernah ngerasa direpotkan oleh lo. Lo adek gue, dan gue kakak lo juga. Chill bro!"
"Uhh.." desiran angin yang cukup kencang menerpa mereka sehingga chan bangkit dari sandarannya.
"Anginnya mulai kenceng chan, masuk yuk? Lo bentar lagi juga mau mulai cuci darahnya." Ajak jeonghan dan chan mengangguk.

Sekitar sejam kemudian, chan mulai melakukan cuci darah. Mama Yoon juga datang kesana sehingga di ruangan chan ditemani oleh mamanya, jeonghan dan mama yoon.

Tak terasa waktu telah berlalu dan chan selesai cuci darah. Masih dalam tahap membereskan peralatan, chan tiba-tiba mengeluh ingin muntah. Suster dengan sigap membantunya. Chan muntah-muntah kemudian pingsan.
Semuanya panik, dan mama lee juga hampir pingsan melihat anaknya mendadak seperti itu. Kini chan dibawa ke ruang ICU dan sedang ditangani oleh dokter.



Disisi lain, seungcheol baru kelar meeting. Ia membuka ponselnya dan melihat ada notif pesan dari jeonghan.

✉️Jeonghan : kalo udah kelar, kabarin ya cheol.

Seungcheol langsung menelepon jeonghan.
📞
"Halo"
🍒: han maaf gue baru kelar
😇:hm
🍒: gue ke RS sekarang, btw chan udah selesai cuci darahnya?
😇: iya udah, kesini aja.
🍒: mama disana?
😇: seungcheol, chan drop pas selesai cuci darah dan sekarang dia di ICU.
🍒: HAH???!!! Kok bisa? Han??
😇: sekarang lagi ditangani, lo hati-hati di jalan ya.

......



Seungcheol sampai dirumah sakit dan ia sudah bertemu dengan jeonghan.

"Han, gimana chan?" Tanya nya, namun tidak ada jawaban dari jeonghan.
"Han? Lo-lo nangis?" Seungcheol menyadari mata jeonghan yang sembab
"Ada apa? Dino gapapa kan? Jawab dong, jangan diam aja"
"Seungcheol.. gue gapapa kok. Dino juga udah ditangani dokter, katanya biarin dia istirahat aja sementara di ICU sampai kondisinya mendingan."
"Terus kenapa lo sampe sembab gini? Ada apa?"
"Gue sedih.." jeonghan tak kuasa menahan tangisnya.
"hikss.. tadi chan beneran nanya kayak yang biasanya ditanya ke lo. Gue bisa jawab dengan santai biar ngeyakinin dia. Tapi setelah itu dia malah minta maaf karena ngerasa ngerepotin gue, pas itu gue mulai ngerasa sedih." Tangis jeonghan semakin dalam.
Seungcheol memeluk jeonghan untuk menenangkannya.
"Makasi ya han, makasi udah bantu ngasi jawaban lain ke dia. Oke lo luapin unek-unek lo ke gue, tapi jangan nangis lama-lama ya. Tar chan bangun, dia malah ikutan sedih liat lo sedih." Ucap seungcheol yang berusaha tegar. Bahu jeonghan selalu ada dikala seungcheol perlu sandaran, begitu juga sebaliknya.

Mereka setia berada di depan ruang ICU, hingga seorang dokter kembali untuk memeriksa kondisi chan.
"Dokter, adik saya bagaimana? Apa dia baik-baik saja?" Tanya seungcheol.
"Ya dia cukup membaik, sangat bersyukur karena obatnya bekerja dengan cepat. Mungkin dia akan bermalam di ICU. Dia juga belum sadar saat ini. Saya akan kembali lagi nanti. Permisi."

Seungcheol mengintip adiknya dari luar. Tampak tenang menutup matanya dengan banyak alat medis ditubuhnya.

"Tolong tetap kuat ya chan. Ayo kita lewati semua ini bersama-sama." Batin seungcheol.



















Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang