.
.
.
.
.
.
.
~
Skipp
Suatu malam Papa Lee mengajak chan pergi ke mall. Ia membutuhkan sesuatu dan tiba-tiba saja berniat mengajak putra bungsunya itu pergi.
"Jungchan, ini pertama kali papa kesini jadi bingung. Kamu sama seungcheol pasti pernah kesini kan? Anter papa ke tempat yang biasanya kalian belanja aja deh." Ucap papa lee.
"Oh oke pa, di lantai 3." Jawab chan
Mereka menuju lift untuk naik ke lantai 3, namun kebetulan cukup penuh jadi agak berdesakkan di dalam lift. Papa Lee yang termasuk orang sensitif jadi merasa agak risih jika terlalu berdesak-desakan.
Awalnya ia cukup berjarak dengan Chan, namun ketika melihat chan yang terus terhimpit orang, Papa lee kemudian menarik tangan chan dan membawa kesebelahnya. Belum selesai sampai disana, papa lee terus menggenggam tangan anaknya itu. Chan menjadi salah tingkah karena merasa disayang ayahnya, ia pun tersenyum sampai akhirnya lift terbuka di lantai 3.
"Dimanaan? Jauh gak dari sini?" Tanya papa lee
Drrtt drrtttt
"Eh bentar papa ada telpon." Papa lee melangkah sedikit jauh untuk menerima telepon. Sedangkan Chan hanya menatap punggung papanya itu.
"Pa, sayangin aku apa adanya aja bisa gak?" Gumamnya kemudian ia terkekeh.
"Jungchan ayo, biar gak kelamaan. Disebelah mana?" Ucap papa lee yang sudah selesai menelepon.
"Eh, ohh ayo disana pa." Chan menuntun papa nya kesebuah toko.
Papa Lee melihat dan memilih baju untuk dibelinya.
"Kamu mau yang gimana? Ambil aja." Ucap papanya.
"Chan lagi belum butuh pa, papa aja." Jawab chan
"Terus kamu maunya apa? Beli apa? Sekalian mumpung kesini, soalnya saya sibuk kamu tau kan? Jadi gak bisa sering-sering kesini."
"Iya pa, chan pengen beli jajanan aja nanti."
"Oh yasudah kalau begitu saya ke kasir dulu."
Mereka keluar dari toko itu dan chan menenteng belanjaan papanya. Selanjutnya mereka mencari makanan kemudian pulang. Dirumah waktunya mereka beristirahat.
"Hey Jungchan! Ini jangan lupa." Ucap papa Lee.
"Apa?" Tanya chan.
Tampak sebotol air minum dan beberapa butir obat di tangan papanya.
"Vitaminnya. Karna kamu muntah hari itu, papa konsul ke dokternya. Ini dikasi yang baru." Ucap papa lee
"Pa maaf, tapi aku yakin itu karena aku engga cocok sama obatnya. Setiap kali aku minum, memang terasa tidak nyaman. Disamping itu aku merasa sama saja dengan meminum ini atau enggak." Ucap chan dengan ragu-ragu.
"JADI KAMU MERAGUKAN SAYA? Saya sebagai orangtua tentu tahu mana yang baik untuk kamu. Saya ingin kamu menjadi anak yang berguna kedepannya!"
Kemudian papa lee membuka botol minum itu dan menyodorkannya ke chan.
"Minum! Semua orangtua ingin anaknya agar menjadi hebat!"
Chanpun mengambil lalu meminum vitamin itu.
"Berhenti berbicara seperti omong kosong itu! Selamat malam." Papa lee pergi ke kamarnya.
"Ah sama saja. Tidak ada yang berbeda!" Gumamnya sambil mengelus perutnya.
Besok harinya chan pergi ke sekolah seperti biasa.
"Jungchan nanti kalau berkelompok kita bareng-bareng yaa." Ucap seungkwan.
"Emang ngapain?" Tanya chan bingung.
"Lah lo lupa? Jam pelajaran ke 3, kita praktek biologi." Jawab seungkwan.
"Oh itu, iyaa toh kita selalu bersama kan kalo berkelompok?" Ucap chan terkekeh.
"Yaa gue bilang aja gitu biar ada topik pembicaraan. Habisnya lo diem aja hari ini."
"Hehehehe."
Bel pergantian untuk jam pelajaran ke3 berbunyi. Siswa kelas chan pergi ke ruang lab dan melakukan praktek sederhana sesuai materi pelajaran nya.
Mereka mengerjakannya berkelompok, seperti biasa chan pasti dengan vernon,seungkwan, dan beberapa temannya lagi.
"Finish, yahoooo.." ucap vernon sambil meregangkan tubuhnya. Dia merasa lega karena telah selesai mengerjakan tugasnya. Ia menulis beberapa bagian dari hasil analisis setelah praktek.
"Keliling yuk? Sambil nunggu jam." Ajak seungkwan dan diangguki oleh chan dan vernon.
Chan tidak begitu berkeliling, ia tampak lesu.
"Jungchan! Kelompokmu sudah selesai kan? Bisa bantu aku tidak? Aku merasa bingung dibagian akhir tadi." Ucap salah satu temannya dari kelompok lain.
Chan tidak menjawab.
"Lee Jungchan, aku berbicara padamu. Apa kau tidak mendengarkanku?"
Iya, Chan tidak mendengar jelas perkataan temannya. Tiba-tiba saat itu telinganya berdengung, penglihatannya perlahan buram.
Bruukkk
"YA! JUNGCHAN-SSI!" Kaget temannya.
Chan tiba-tiba jatuh pingsan diruang lab. Teman-temannya mengerumuninya.
"Hey! Kau apakan chan?" Tanya seungkwan yang juga sangat shock.
"Chan-ah bangun, lo kenapa?!" Vernon dan seungkwan bergantian menggoyangkan tubuh chan dan menepuk pelan pipi chan.
"Kenapa bisa pingsan? Gendong dia ke UKS!" Ucap guru.
"Saya tidak tahu, tadi saya bertanya padanya. Dia tak menjawab lalu tiba-tiba pingsan." Jawab teman tadi.
"Maaf perawat UKS sedang cuti, jika terlalu mengkhawatirkan bawa saja ke rumah sakit." Ucap seorang guru yang mengetahui hal itu.
"Aihhhh" kesal seungkwan dengan menggendong chan di punggungnya.
"Ke mobil saya cepat! Tunggu di depan!" Teriak guru biologi.
Guru biologi, seungkwan, vernon, teman yang bertanya tadi dan wali kelasnya ikut pergi ke rumah sakit terdekat dari sekolahnya . Chan dibawa ke ruang UGD.
"Kita harus mengabari orangtua nya. Aduh yang mana satu ini nomor orangtuanya" Ucap wali kelas.
"Biar saya yang menelepon nya." Seungkwan menawarkan diri.
"Oh baiklah, tolong ya."
"Vernon, Chan lagi sama papanya kan? Ga mungkin kita nelpon seungcheol hyung. Dan chan tidak menyertakan nomor papanya disini." Ucap seungkwan.
"Kita harus gimana? Gue juga bingung."
"JEONGHAN HYUNG!!" Ucap mereka barengan. Dan mereka menelepon jeonghan serta memberitahu hal yang terjadi pada chan.
"Bagaimana seungkwan? Sudah dihubungi?" Tanya wali kelas.
"Iya bu, tunggu katanya sebentar lagi datang." Jawab seungkwan.
"Menurut lo chan kenapa tiba-tiba pingsan ya gitu ya?" Ucap vernon
"Entah, dia udah gak pernah cerita apapun belakangan ini." Jawab seungkwan.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
DiversosSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
