getting bad.

926 62 9
                                        

Keesokan harinya, kondisi chan dinyatakan membaik. Dokter mengatakan bahwa ia akan pulang setelah infus habis dan diperiksa sekali lagi. Jeonghan maupun chan lega mendengarnya. Namun mendadak jeonghan harus pergi ke kantor, tidak bisa di wakil kan jadi mau tak mau dia meninggalkan chan.

"Gue harus pergi chan. Nih kartu gue pegang, sandinya udah gue kirim lewat chat. Gue juga udah bilang sama suster untuk bantu kalo ada apa-apa. Dan lo akan pulang hanya setelah gue datang. Jangan ngeyel!" Ucap jeonghan
"Iya makasi hyung." Jawab chan.

Chan yang merasa malu atas kejadian kemarin jadinya tak membantah apapun perkataan jeonghan saat ini. Ia benar-benar hanya diruang rawatnya.
Sedangkan jeonghan yang baru sampai kantor, saking riweh nya, rasanya untuk menghela nafas pun tak sempat. Selama kurang lebih 1,5 jam, urusan kantor itu selesai.

"Jeonghan.. nak, kamu telat ya? Kenapa sih kok dari kemarin kamu kayaknya gak di kantor?" Tanya papa yoon.
"Papa.. hmm maafkan aku pa, ada hal yang juga penting. Aku belum bisa kasi tau sekarang, tapi papa mama pasti akan tahu segera." Jawab jeonghan
"Ada apa nak? Kamu engga apa apa kan?"
"Aku sama sekali gapapa kok, pa. Hmm aku harus pergi, jangan lupa makan pa!" Jeonghan berlari keluar gedungnya. Papa nya hanya geleng-geleng kepala, penasaran juga dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Sayang.. kamu lagi apa?" Mama yoon menghampiri papa yoon.
"Eh engga, cuma habis bicara tadi sama jeonghan."
"Terus sekarang dimana dia? Dari kemarin kok kayaknya sibuk banget ya?"
"Udah pergi lagi, tadi aja cepet-cepetan. Papa juga bingung."
"Apa... Jungchan baik-baik saja?" Ucap mama yoon dan sekarang mereka saling menatap satu sama lain.
"Tadi juga jeonghan bilang ada hal penting, kita akan tahu segera. Tapi entahlah, gak kepikiran juga." Jawab papa yoon
"Yaudah kita tunggu aja kali pa.."





Tingg
✉️ 🍒: han, gue udah sampe di bandara.
            Mama langsung pulang
     😇: 📍loc. (Hotel xxx)
            Dateng ke sana, gue juga otw kesana sekarang.
     🍒: chan dimana?
    😇: see you there.

Jeonghan yang kini sedang mengemudi, yang harusnya ke rumah sakit, kini mengubah arah dan menuju hotel yang sudah ia booking untuknya dan seungcheol. Kebetulan juga belum terlalu sore, jadi ia pikir chan akan baik-baik saja di rumah sakit.



📞...
🍒: halo ?
😇: gue udah di hotel. Lo lagi lama?
🍒: lagi kena lampu merah di deket hotel, bentar lagi sampe kok.
😇: gue tunggu di depan ya.
🍒: hm. Ini udah jalan kok.

Sekitar 5menit kemudian, seungcheol sampai dan bertemu dengan jeonghan. Hampir tidak saling menyapa, jeonghan langsung menarik tangan seungcheol memasuki lift dan menuju kamar.

"Kita ga punya banyak waktu, seungcheol." Ucap jeonghan.

Setelah masuk ke kamar, jeonghan mengambil sebotol air putih dan meletakkannya di sebelah seungcheol.
"Long time no see, Lee Seungcheol."
"Jeonghan" seungcheol memeluk jeonghan.
"Aku senang kau terlihat baik-baik saja." Jeonghan mendorong pelan seungcheol dari pelukannya.

"Han.. ada apa? Adek gue kenapa?"
"Gue gak nyangka aja cheol, lo bisa bisa nya engga peka terhadap chan. Ya gak salah juga sih, gue yang deket aja kecolongan."
"Maksudnya? Jelasin dongg!"
"Liat ini!" Jeonghan memperlihatkan foto chat papa lee dengan chan.
Seungcheol mengambil HP jeonghan dan mengamati foto tersebut.

"Siapa?" Tanya seungcheol bingung.
"Hh.. ga percaya kan lo? Sama, gue juga. Sebelum melihatnya langsung." Jawab jeonghan
"Ga mungkin kan? Papa?"
"Han, ini bener papa ngomong gini?"
Jeonghan mengangguk.
"Han.."
"APA SIH BANGSAT?! LO KAGAK PERCAYA??? TERSERAH LEE SEUNGCHEOL, TERSERAH! GUE GAK PUNYA BANYAK WAKTU, GUE KASI TAU YA LO.. BEBERAPA HARI LALU GUE NYAKSIIN DINO LAGI NANGIS-NANGIS, SELF HARM. DIA PINGSAN, MUNTAH. ARGHHH KENAPA GUE HARUS NGELIAT SEMUA ITU, CHEOL? KENAPA???? KALO LO MASIH RAGU, ADA SATU ORANG SAKSI, YAITU JOSHUA!" Jeonghan berteriak dan menangis.
Sedangkan seungcheol mematung, wajahnya pucat, tak menyangka dengan apa yang ia dengar saat ini. Perlahan ia juga menangis.
"Self harm?"
"Gue gagal lagi, han. Gue nyesel, gue minta maaf."
Jeonghan menarik nafas, menghampiri dan memeluknya "Engga, lo ga salah.. yang salah paman Lee! YA YANG SALAH PAMAN LEE!"
"Gue belum dapet awalan nya gimana, tapi sedikit ini aja udah sakit banget buat gue cheol!"
"Han.."
"Banyak hal yang harusnya gue ceritain, tapi entaran aja. Ayo pergi, kita gak bisa lama-lama ninggalin dia." Jeonghan mengusap air matanya kemudian menarik tangan seungcheol.
"Kita akan menemui chan kan?" Tanya seungcheol
"Iya, ayo!"







Di rumah sakit..

"Permisi, anak atas nama Lee Jungchan dirawat dirumah sakit ini kan?"
"Oh iya benar, dia dirawat sejak dua hari lalu. Tetapi hari ini boleh pulang. Menunggu infusnya habis saja."
"Diruang mana dia dirawat? Dan masalah administrasi atau yang lainnya bagaimana?"
"Di kamar nomor 112 pak. Kalau masalah itu akan dilunasi setelah semuanya selesai."
"Siapa nama wali pasien?"
"Maaf sebelumnya bapak siapa?"
"Saya Lee Seungyeon, ayah dari pasien Lee Jungchan."
"Oh maaf pak, nama wali sebelumnya yaitu Yoon Jeonghan. Beliau mengaku sepupu pasien."
"Oh iya itu memang benar. Ganti saja, biar saya yang melunasi. Saya baru dari luar kota, makanya baru bisa bertemu dengan anak saya."
"Baik pak. Anda bisa bertemu pasien, kami akan mengurus ini."
"Terimakasih, saya permisi."


(Ruang rawat Chan)

"Nah kamu bisa beristirahat sampai kakak kamu datang ya.. jika ada sesuatu kamu bisa minta tolong saya. Tadi sebelum pergi, kakakmu telah memberitahu kami." Ucap suster yang baru selesai melepas infus chan. Disana terdapat 2 orang suster.
"Baik, sus."

"Ah tidak perlu menunggu lagi, dia akan pulang sekarang bersama saya."
"Pa-papa??"
"Halo, papa merindukanmu nak. Haha" papa lee mengusap perban luka di dahi chan.

"Bapak siapa?" Tanya Suster
"Kurang jelas tadi dia manggil saya siapa? Saya Lee Seungyeon, ayah dari anak ini."

"Lee Jungchan-ssi, kau tak apa-apa?" Salah satu suster menyadari chan yang meremas selimut dengan kuat.
"Ah tidak, dia tidak apa-apa . Anak ini memang sering melakukan hal seperti ini dirumah." Papa lee meraih tangan chan, kemudian memperhatikan luka-luka di tangannya.

"Jadi, sudah boleh saya bawa pulang anak ini?"
"I-iya pak, tapi temui dokter untuk mengetahui hasil terakhir pemeriksaannya."
"Baik. Chan, bersiaplah untuk pulang!"

"Hyung.. chan takut." Batin chan.

Suster keluar ruangan, tinggal papa lee dan chan saja disana.
"Ngapain diem? Cepat bersiap! Saya tidak ada banyak waktu untuk orang yang bermalas-malasan seperti kamu!"
Dengan kondisi ketakutan, chan membereskan barangnya dan keluar ruangan dengan papa Lee.

"Permisi, apa hasil pemeriksaan Lee Jungchan telah selesai?" Tanya papa lee kepada salah satu ahli medis disana.
"Oh pasien ini, mungkin sejam lagi pak."
"Hemm saya ada pekerjaan penting dikantor, apa ada solusi lain?"
"Bisakah bapak memberi nomor telepon? Pihak rumah sakit akan menghubungi bapak tentang ini."
"Oh tentu saja."

Setelah memberi nomor telepon dan mengurus biaya administrasi, papa lee dan chan pun pulang. Mereka sudah di dalam mobil. Chan sangat tegang duduk di sebelah papanya. Ketika bersiap untuk melajukan mobilnya, papa lee merasa spion dalam diatas dasboard mobilnya kurang tepat jadi ia mengangkat tangannya untuk membenahinya. Chan melihat itu kemudian berteriak

"Hyungggg!!!!!" Chan juga meringkuk dan menutup wajahnya.














_

"Chan?"
"Lebih ngebut bisa gak sih, Han?!"
"Perasaan gue kok tiba-tiba gak enak, ckk lo jangan banyak bacot Lee seungcheol !"
"Ya sama Yoon Jeonghan!"











Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang