"Rumah sakit, tolong buka kan pintu mobilku. Cepat!!!" Perintah seungcheol yang menuruni anak tangga dengan menggendong chan yang sudah pingsan di punggungnya.
"Seseorang bawa mobilku, aku akan menyetir mobil seungcheol." Ucap jeonghan.
"Tidak, lo jangan nyetir. Ayo masuk!" Ucap wonwoo mengambil alih mobil seungcheol. Sedangkan mobil jeonghan di bawa oleh jihoon.
"Chan kenapa?" Tanya jeonghan sambil menangis dan tangannya gemetar karena trauma dengan sebelumnya .
"Hyung, lo gapapa? Tanya wonwoo
"Han, adek gue han." Seungcheol menangis tersedu-sedu.
"Maksud darah dibaju lo itu apa seungcheol?!! Chan kenapa????"
"Han.."
Flashback
"Chan lo kenapa? Jangan bikin gue khawatir." Seungcheol berusaha membangunkan tubuh chan.
"Sa-sakitt." Lirih chan
"Kita ke rumah sakit sekarang, lo yang kuat ya." Seungcheol membawa chan ke punggungnya.
Baru berjalan beberapa langkah, chan memuntahkan darah dan itu mengenai baju seungcheol. Saat itu juga tubuh chan terasa lemas, beberapa kali seungcheol memanggilnya pun tak ada respon.
-
"Kenapa sekarang dia memuntahkan darah? Apa dia masih minum obat itu?" Ucap jeonghan
"Obat apa maksud lo??" Tanya seungcheol
"Vitamin, katanya."
"Han dia ga boleh sembarang minum vitamin-"
"YA GUE TAU!! BOKAP LO YANG NGEYEL!"
"Hyung.. kita fokus ke chan aja dulu ya. Tolong Masing-masing kontrol emosinya." Ucap wonwoo menengahi mereka berdua.
Sesampainya di rumah sakit, chan langsung mendapat pertolongan. Karena tidak boleh terlalu ramai, beberapa dari mereka yang sekolah atau kelas pagi dikampus nya memutuskan untuk pulang.
"Tadi jihoon ceritain semuanya ke gue, makanya dia langsung tau kalau dino di bekas resto itu." Ucap jeonghan
"Kenapa?" Tanya seungcheol
"Dino engga sekali dua kali aja di resto itu, dia udah banyak kali. Dan jihoon tahu karena temannya. Temannya sering nerbangin drone, kebetulan resto itu selalu terlihat. Ohya, jihoon juga pernah menyaksikannya sendiri waktu dia bantu temennya ini. Chan sering disana malem hari, untuk kegiatan yang dia lakukan, dia cuma duduk bengong aja." Jelas jeonghan
"Kenapa jihoon baru ngasi tau sekarang???"
"Karena Dia mau benar-benar mastiin dulu."
"Tapi kalau adek gue kenapa-kenapa gimana???"
"Lo bisa gak hargain caranya dia? Jihoon sayang sama chan, kita semua sayang sama chan!"
"S-sorry."
Disisi lain, orangtua jeonghan tahu tentang keadaan chan sekarang. Mama yoon bersikeras untuk datang ke rumah papa lee walaupun sudah dilarang oleh suaminya. Pada akhirnya papa yoon mengalah dan pergi bersama mama yoon.
Dirumah keluarga Lee
"SADAR LAH, SEUNGYEON! KAU HANYA TERLALU TAKUT DENGAN PENGALAMAN TEMAN KANTORMU DISANA! Percaya denganku, Jungchan bukan anak seperti itu. Walaupun dia lebih keras daripada seungcheol." Ucap mama lee dengan tangisnya yang sedari tadi belum berhenti.
"Alline, dia terlalu berbeda."
"TIDAK SEUNGYEON, TIDAK!!"
"Alline eonnie!" Panggil mama yoon.
"Sun Mi-yaa"
Mama yoon memeluk mama lee.
"Eonnie, tenangkan dirimu. Dan tolong izinkan aku berbicara pada seungyeon sebagai kakak dan adik."
Mama lee mengangguk.
"Oppa!"
"Sun Mi, hargai aku dan keluargaku." Ucap papa lee
"Apa kau iblis? Bisa-bisanya bersikap sangat jahat kepada anakmu sendiri? Kau sadar perbuatanmu sangat berdampak buruk kepada dia? Jika kau tidak mau merawatnya, aku bisa!"
"Sayang.. cukup." Ucap papa yoon.
"Tolong beri aku waktu berbicara pada kakakku." Jawab mama yoon.
"Mengapa kau ikut menyerangku? Kau tak tau apapun Sun Mi."
"Lalu, apa kau tau tentang keadaan Jungchan sekarang?"
"Sun Mi , ada apa dengan putraku?" Mama lee terlihat khawatir
"Eonni.. ichan.. dirumah sakit sekarang."
"Apa?! Dia kenapa???? Sun Mi, anakku kenapa??" Mama lee semakin histeris.
"Dirumah sakit mana?! Aku akan menyusulnya." Mama lee bergegas keluar
"Eonni, tunggu."
"PERGI SAJA! PERGI DAN URUS ANAK TAK BERGUNA ITU! MEMANG DASARNYA LEMAH!!" Ujar papa lee, mama yoon menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jangan pernah menyesalinya, Lee seungyeon!" Ucap mama yoon.
Papa yoon, mama yoon, dan mama lee pergi ke rumah sakit.
"Permisi, orang tua lee jungchan?" Ucap dokter
"Saya kakaknya." Jawab seungcheol
"Dimana orangtua kalian? Ada yang perlu saya bicarakan."
"Dengan saya saja."
"Dengan orang tua lebih baik, dimana orangtua mu?"
"MEMANGNYA ADA APA SIH?? SELAMA INI SAYA JUGA ORANGTUANYA! AYAH IBU KAMI DI LUAR NEGERI!"
"Seungcheol, sabar. Lo jangan labil gini. Ini rumah sakit." Ucap jeonghan.
"Baik kalau begitu. Saya akan memberitahu hasil pemeriksaannya."
"Pertama, mengapa pasien bisa muntah dan pingsan seperti tadi itu adalah efek overdosis obat depresan dan vitamin daya ingat. Maaf, bukankah sebelumnya saya sudah memperingati agar pasien lebih diawasi? Pasien masih belasan tahun loh ini."
"Kami sudah memberi obat dan bantuan pernafasan. Dibanding awal sampai, sekarang detak jantung pasien lebih baik. Jika saja kalian telat membawanya, bisa saja dia kehilangan nyawa. Ohya, kami menemukan bungkus obat yang di konsumsi, obat depresannya obat biasa yang dijual ecer di apotek. Tetap saja itu sebagai kelalaian orangtua pasien."
"Satu lagi.."
"Apa lagi dok?!"
"Hasil tes darah yang telah kami lakukan, pasien mengalami gagal ginjal."
"APA??!!!"
"Dok, bercanda kan? Orang adik saya sehat aja tuh!"
"Pak, kami tidak mungkin memvonis sembarangan. Apalagi penyakit seperti itu."
"Pasien harus melakukan cuci darah rutin, kami akan memberikan jadwalnya. Dan pasien tidak boleh kelelahan, tolong awasi."
"Pak, tolong tabah. Saya mengerti kalian sangat menyayanginya. Mari berusaha bersama-sama. Sekarang silahkan temui adik anda di dalam. Saya akan kembali lagi nanti." Dokter menepuk bahu jeonghan dan seungcheol.
Kini mereka berdua masuk ke ruang tempat chan dirawat.
"Segagal itu kah gue sampe ngebiarin lo kayak gini, dino? Kenapa lo gak bilang ke gue? Kenapa lo mau nurutin semua keinginan papa?" Ucap seungcheol sambil menggenggam erat tangan chan.
"Lee Jungchan!!"
"Nak, astaga kenapa bisa kaya gini?? Kamu kenapa sayang?" Mama lee menangis di ranjang dino.
"Ma.. dino ma. Dino di vonis gagal ginjal ma." Lirih seungcheol
"Apa? Kamu bohong seungcheol! Maksud kamu apa?"
"Ma.. aku juga ga percaya. Tapi dokter bilang gitu."
"Jeonghan, bener yang dibilang seungcheol?" Tanya mama papa yoon. Jeonghan mengangguk.
Tidak bisa dipercaya, semuanya menangis sekarang.
"Mana papa?" Tanya seungcheol
"Semua ini gara-gara dia memaksa adikku meminum obat-obatan yang membuat dia alergi!"
"Seungcheol, maksud kamu?"
Seungcheol menjelaskan semuanya. Kemudian mama lee berusaha menelepon papa lee, namun tidak diangkat.
"Sialan! Kemana orang ini?" Kesal mama lee
"Sudahlah! Apa gunanya? Jangan menghubungi dia, aku tidak mau bertemu dengan orang yang hampir membuatku kehilangan adikku." Ucap seungcheol
Mama lee kembali menangis, seungcheol memeluknya.
Kini para orangtua sedang membeli makanan, tinggal jeonghan dan seungcheol saja menjaga chan. Seungcheol terus menangis sambil menggenggam tangan chan.
"Dino-ya, bangun kali yaelah lo betah banget merem. Bikin gue takut tau gak?"
"Sumpah deh, gue lebih seneng liat lo suka tantrum kek biasanya. Daripada lo kayak gini, sakit dada gue chan. Bangun dong, sembuh. Gue janji gak bakal ninggalin lo lagi."
"Seungcheol-ah.. udah, nanti dino terganggu."
Seungcheol hanya melirik jeonghan.
"Eh, JEONGHAN-ah!!! Liat!!!!"
"Apa?!"
"Tangan chan gerak! Duh panggil dokter. Han cepet han!"
"Iya. Eh Chan sadar, seungcheol!"
Tangan chan bergerak, matanya sedikit terbuka.
"Ja-jangan pergi.. lagi"
"chan.. takut." Lirih chan, kini tangannya juga menggenggam tangan seungcheol.
"Maafin gue, gue janji gak bakal pergi lagi. Gue disini, jangan takut." Ucap seungcheol
Jeonghan mengabari orangtua nya, dokter juga telah datang memeriksa chan. Hanya saja chan masih lemah dan disarankan untuk kembali beristirahat. Dengan sadarnya chan cukup membuat perasaan mereka lega. Dan mereka juga masih merahasiakan penyakit chan hingga kondisi chan lebih memungkinkan.
Tbc. 🍠
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
DiversosSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
