Seperti tidak ada kehidupan lagi di raut wajah orang-orang terdekat Chan. Kini pihak rumah sakit sedang melakukan berbagai prosedur sebelum jenazah Chan di makamkan. Karena ada suatu kendala, proses pemakaman diundur hingga 2 hari.
Salah satu dari mereka harus ada yang tabah dan bergerak. Orang yang mampu adalah Joshua. Ia membantu banyak proses selama disana.
"Ini, tolong setidaknya minum. Chan bisa melihat kita, jika kita seperti ini pasti ia sedih." Ucap joshua memberikan air putih kepada mereka.
"Bangunin gue, ini tuh cuma mimpi." Lirih seungcheol sambil menampar-nampar pipinya.
"Hyung.." wonwoo menghentikan seungcheol.
"Sakit banget, gue ga terima." Ucap seungcheol kembali menangis.
Berita meninggalnya chan saat ini sudah masuk artikel. Itu tersebar di kantor seungcheol di korea hingga di perusahaan orangtua Lee di Inggris.
Pov : Papa Lee 🏴
Pagi-pagi, papa lee baru saja bangun dari tidurnya. Ia turun dan melihat ART maupun supir nya berkumpul dan tampak menangis.
"Ada apa ini pagi-pagi?" Tanya papa lee.
"Pak.. kami turut berduka cita. Kami sangat merasa kehilangan walaupun baru bertemu sekali dengannya."
Ucap salah satu ART.
Papa lee merasa benar-benar bingung. Siapa yang meninggal?
"Maksudnya?" Ucapan papa lee membingungkan, masa iya seorang ayah belum mengetahui mengenai anaknya?
Supir memberikan handphone nya kepada papa lee.
"Putra bungsu pemilik 'Lee Company', Lee Jungchan meninggal dunia hari ini 05.26 KST. Mendiang diduga menderita penyakit gagal ginjal sejak beberapa bulan lalu. Turut Berduka Cita."
Papa lee membelalakkan matanya membaca artikel itu, tampak juga foto chan terpampang disana.
"G-gak mungkin! Jungchan.."
"Saya akan terbang ke korea sekarang, cepat antar saya!" Ucapnya kepada supir.
"Ada yang perlu disiapkan pak?" Tanya ART
"APA LAGI?! TIDAK PERLU!" Papa lee membentak, namun hal itu dimaklumi.
Papa lee segera mencari tiket dan untungnya sempat mendapatkan yang terbang pagi itu. Ia samasekali tidak memikirkan apapun. Ia hanya perlu pulang ke korea saat ini.
"CEPAT!! PESAWAT SAYA PUKUL 8!"
"B-baik pak."
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi masa lalu saat ia bersama chan. Bagaimana ia memperlakukannya, hingga beberapa hari lalu ia nyata mendengar anak yang selama ini ia benci itu merindukannya.
"Jungchan, beri papa kesempatan. Papa mohon." Batin papa lee.
"Ijinkan papa memperbaiki semuanya.."
"Pak? Pak? Kita sudah sampai." Supir menyadarkan lamunan papa lee.
"Eh? Oke, tolong kerjasamanya selama saya tidak ada."
"Tentu pak, hati-hati dijalan."
Dari Inggris ke korea memakan waktu belasan jam. Selama itu pun papa lee terjaga. Ia terus memeriksa jam. Berharap agar segera sampai dan dapat melihat putranya untuk terakhir kali.
Belasan jam tersebut berlalu, papa lee samapi di korea. Namun karena suatu hal, ia baru bisa kerumahnya saat subuh. Tentu saja ia tak mendapati siapapun dirumah tersebut. Karena ia tidak pernah peduli dengan Chan, ia jadi tak tahu rumah sakit biasa chan dirawat. Papa Lee pun mencari info nya di setiap artikel tentang kepergian chan. Di salah satu artikel menjelaskan nama rumah sakitnya dan papa lee bergegas kesana.
Tak usai sampai disitu, ternyata jenazah chan sudah dibawa untuk di mandikan dan dirias. Jadi papa lee pergi lagi ke tempat yang diberitahu oleh pihak rumah sakit itu.
Disisi lain, keluarga dan teman chan sudah mengenakan baju khusus untuk di acara pemakaman. Mereka sedang menunggu chan selesai di rias.
Tuk tuk tuk...
Suara langkah kaki agak tergesa-gesa mengalihkan semua perhatian orang disana. Berbarengan dengan selesai nya chan dirias, orang itupun muncul.
"Permisi pak, bu. Kami sudah selesai meriasnya." Ucap petugas.
"Jungchan.." lirih seseorang dan semakin mendekati peti.
"BERHENTI!!!" Bentak seungcheol.
"JANGAN BERANI MENDEKATI ADIK GUE!"
"Seungyeon?" Ucap mama Lee.
"Jungchan.. Maafkan papa nak.." papa lee masih memaksa mendekati peti chan.
"UDAH GUE BILANG BERHENTI!" Bentak seungcheol lagi, kali ini ia ditahan jeonghan.
"MAU APA ANDA KESINI? SUDAH MERASA MENANG? INI KAN YANG ANDA HARAPKAN?"
"Ohhh, APA ANDA INGIN MERAYAKAN KEMENANGAN ANDA TEPAT DI DEPAN KAMI? APA ANDA AKAN MANDI ALKOHOL DISINI UNTUK MERAYAKANNYA?"
"Seungcheol, tidak nak"
"Sssttttt! SUDAHLAH PAK, SELAMAT ATAS KEMENANGANNYA ANDA!"
"Seungcheol tolong maafkan papa, izinkan papa melihat Jungchan. Dia anak papa juga."
"Apa? Anak papa? Maaf, anda bukan ayah siapa-siapa lagi."
"Nak.."
"PERGIIII!!!!!!!!!!"
"Saya sangat hancur, saya kehilangan adik saya. Saya kehilangan separuh hidup saya. Bagaimana saya harus melanjutkan hidup saya mulai sekarang? DAN INI SEMUA GARA-GARA ANDA! ANDAI SAJA ANDA TIDAK TEROBSESI OLEH APAPUN YANG MEMBUAT ADIK SAYA HARUS SAKIT SEPERTI INI..." seungcheol tenggelam dalam tangisnya.
Seungcheol jatuh ke lantai sembari menangis, ia pun dipeluk jeonghan. Kini peti chan terlihat jelas, terlihat chan yang terbaring dengan setelan jas yang rapi, wajah nya terlihat tampan dan tenang. Papa lee berjalan mendekati peti itu.
"Jangan mendekat.. jangan dekati adikku." Lirih seungcheol namun tak didengarkan oleh papanya.
Tak ada satupun orang menghentikan itu. 'Bagaimanapun juga, ia tetap ayahnya' pikiran tersebut muncul secara natural bagi orang-orang disana. Bahkan sebenarnya orang-orang tidak tahu apa yang terjadi di keluarga chan.
Papa lee berlutut dan menangis tersedu-sedu di samping peti, berbagai kata penyesalan ia ucapkan.
"Andai saja saat itu.."
"Maaf.."
"Jika boleh, Berikan papa kesempatan"
"Papa menyesal nak.."
Kata-kata seperti itu terus keluar dari mulut papa Lee.
Memang, penyesalan selalu ada di akhir.
Tbc.
Maaf banget slow update, lagi hectic😭.
Thanks for support🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
RandomSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
