Ketakutan

899 67 1
                                        

Hari itu telah berlalu seperti tidak ada apa-apa. Hingga keesokan harinya, sekitar pukul 5.00, mama lee tampak terbangun dan ia melakukan sedikit peregangan sebelum benar-benar membuka matanya.
"Selamat pagi istriku." Sapa manis papa lee.
"Ehh, loh kamu udah bangun?" Kaget mama lee.
"Iya aku tidak bisa tidur." Ucap papa lee kemudian mencium kening istrinya.
"Kenapa sayang? Apa kau memikirkan sesuatu?" Tanya mama Lee.
"Tidak apa-apa. Kau akan bangun sekarang? Jungchan ke RS jam berapa?" Tanya papa lee
"Jam 8 aja dari rumah, hari ini dokternya lebih awal." Jawab mama lee.
"Baiklah. Istirahat saja lagi, masih terlalu pagi. Jangan terlalu lelah, sayang." Ucap papa lee.
Papa lee membawa sang istri ke pelukannya. Mereka kembali tertidur.

Pukul 8, semua sudah siap-siap untuk kerumah sakit. Pertama kalinya bagi Chan ditemani semua keluarganya. Tentu saja ia merasa canggung. Namun ia berusaha tenang, dia terus memikirkan hal positif agar perasaan canggung ke papanya juga hilang.

"Jangan takut, gue disamping lo." Kalimat penenang dari seungcheol.

Chan menjalani proses cuci darahnya. Di pertengahan, papa Lee sempat mengobrol sebentar dengan dokter yang menangani Chan.

"Maaf dokter, saya ingin bertanya tentang kondisi anak saya."
"Oh iya pak, silahkan." Jawab dokter.
"Seberapa parah kondisinya? Maksud saya, stadium berapa?"
"Jadi, Bapak belum tahu? Yaa kondisinya naik turun pak. Saya juga kadang heran sebagai dokternya. Tapi hasil lab terakhirnya ia gagal ginjal kronis. Untuk proses cuci darahnya kemungkinan akan dilakukan dalam jangka sangat panjang."
"Pasien beberapa kali drop dan kritis. Bahkan terakhir ini ia sempat koma."
"Apa dia bisa sembuh?"
"Entah pak, jika sudah kronis sedikit sekali kemungkinan untuk sembuh. Walaupun pasien akan tetap hidup, tetapi ia harus menjalani cuci darah seumur hidupnya. Dan tolong agar tidak sampai kelelahan. Banyak hal yang harus dihindari agar tidak kambuh."
"Singkatnya ini, anak saya tidak akan sembuh? Maksud dokter anak saya akan sakit selamanya??" Suara papa Lee agak meninggi

"Seungyeon! Ada apa?"
"Maaf dokter, terimakasih atas waktunya. Sekali lagi maafkan suami saya." Mama lee membungkuk dan menarik papa Lee pergi darisana.

"Alinne, apa kau tau yang dikatakan dokter? Dia bilang jungchan tidak akan sembuh!"
"Alinne, kau dengar ucapanku?"
Mama Lee masih tak menghiraukan.
"Alinne?!"
"Seungyeon! Aku tau, tentu aku tau! Udah, lebih baik keruangan Chan. Temani dia, dia butuh kita."
Papa Lee diam dan hanya menuruti ucapan istrinya.

Ceklek

Tampak chan yang sedang duduk di ranjangnya dengan banyak alat medis. Pengalaman pertama untuk papa Lee melihat hal seperti itu.
"Jungchan.. apa ini semua sakit, nak?" Tanya papa lee.
"Aku udah biasa kok pa." Jawab chan dengan senyuman.
Papa lee menggenggam tangan chan, pandangannya pun terus fokus kepada chan.
Chan yang menyadari hal itu merasa lucu.
"Papa takut aku mati ya?" Ujarnya mengagetkan papa lee.
"Jungchan!? Kamu ngomong apa sih?" Ucap papa lee dengan penekanan.
"Dino-ya, gue gak seneng lo ngomong gituan ya!" Tegas seungcheol dari sofa sambil menatapnya tajam.
Chan tertawa, ia sama sekali tak merasa bersalah.
"Hahahaha.. aduh aduh sakit." Sambil tertawa ia memegang tangannya yang ditusuk jarum selama proses cuci darahnya itu.
"Nah kan.. makanya gausah bandel lu." Ucap seungcheol.
"Nak, gapapa?" Beda dengan papa lee yang sekarang bawaannya panik terus.
"Gapapa pa. Hehe" chan masih saja terkekeh.
"Pasti risih kan nak? Kamu kayak gini 4-5 jam soalnya." Ucap papa Lee.
"Papa kenapa sih, aku udah biasa. Jalanin aja." Jawab chan santai.

"Ma-maafin papa..hm-"
"Udah, udah ya." Chan tak ingin papanya membicarakan itu lebih jauh.

"Masih trauma ya nak?" Batin papa Lee.

Papa lee hanya semakin mengeratkan genggamannya.

Sekitar 5jam berlalu, dan mereka pun pulang dari rumah sakit. Chan sudah diantar ke kamarnya untuk beristirahat.
"Seungcheol mau kemana habis ini?" Tanya papa Lee.
"Aku harus ke kantor. Urgent." Jawab seungcheol
"Papa temani?" Tawar papa lee.
"Tidak, sebentar aja kok ini. Jaga chan aja dirumah. Dia pasti capek."
"Yaudah nak, hati-hati."
"Iya pa, aku ke kamar chan dulu sekali lagi ."

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang