Chapt44

921 61 2
                                        



Jungchan merasa senang datang kesekolah hari ini. Saat ini, ia sedang makan siang bersama para sahabatnya.
"Gue seneng lo udah masuk lagi chan." Ucap mingyu
"Iyalah, gue mah udah gapapa." Jawab chan sambil memperlihatkan otot dilengannya yang saat ini kurus itu.
"Iya harus tetep sehat ya."
"Bener chan, lo pasti kangen kita kan?" Ucap seungkwan.
"Dih GR, lo yang kangen gue kali. Gue kan moodbooster disini."
Seungkwan hanya memberi reaksi dengan wajah julid saja. Mereka pun menikmati makan siangnya dengan banyak canda tawa.

Masih ada waktu istirahat, mereka bersantai bersama di dalam kelas. Awalnya semua fokus pada handphone masing-masing, hingga seungkwan merasa bosan.
"Oyy chan.. apa yang seru?" Tanya nya karena melihat chan yang begitu fokus.
"Ah? Eh ini liat deh, bagus ya." Chan memperlihatkan sebuah foto sepatu.
"Oh wow.. bagus, harganya juga bagus." Ucap seungkwan.
"Mana coba liat!" Vernon penasaran
"Wow, beneran keren se keren harganya juga."
"Beli chan?" Tanya seungkwan
"Hemm pengennya sih, ini tuh udah rilis dari hampir sebulan lalu. Gue Bener-bener pengen punya ini. Tapi uang gue belum cukup." Jawab chan
"Terus? Tetep mau jadi beli?"
"Harus sih. Gue nunggu banget design yang ini dari lama."
"Terus lo mau pinjem ke hyung atau mama lo?"
"Btw gue ada chan. Mau pake duit gue dulu?" -vernon
"Ah haha engga usah lah."
"Serius gapapa loh, gue belum pake."
"Tenang, gue bakal usaha sen-"
"TOLONG JANGAN ANEH-ANEH YA!!" Kompak vernon dan seungkwan.
"Apasih? Gue belum juga ngapain-ngapain."
"Jaga-jaga, soalnya lu keras kepala."
"Aigoo.. dah dah gue ke toilet bentar." Chan pun pergi ke toilet.

"Kurang dikit lagi hmm. Itu kalo duit jajan gue seminggu disisihkan, bisa gue beli." Gumam chan selama di toilet.

Brukk
"Eh aduhhh"
"Eh maaf gue ga sengaja." Ucap chan sambil membantu mengambilkan barang teman yang tak sengaja ia tabrak.
"Anak kelas sebelah ya?" Tanya chan
"Iya. Jungchan kan? Gue Park Jihoo." Anak itu memperkenalkan dirinya.
"Oh iya. Btw lo kenapa cepet-cepetan? Maaf itu nametag lo juga kebalik."
"Astaga.. Jungchan-ssi please jangan lapor. Gue dari sebelum jam makan siang tuh bolos. Gue harus bayar jam part time gue yang sebelumnya gue pulang awal dari sana." Bisik teman itu kepada chan.
"Lo kerja?"
"Iya, gue harus cari uang buat ganti rugi benerin motor kakak kelas yang ga sengaja gue senggol sampe jatuh. Kakak kelasnya preman disini, gue takut."
"Oke aman. Ohya, kerja apaan lo? Dimana?"
"Minat, jungchan? Ada di pom bensin self service deket sekolah ini, kerjanya ringan banget untuk anak sekolah kayak kita ini. Kayak cuma jaga doang sambil bantu orang yang ga ngerti cara isi BBM sendiri, bersih-bersih, atau nanti bakal ada senior ngasi kerjaan gitu. Gampang."
"Minat!" Ucap chan tanpa pikir panjang
"Oke. Ini nomor gue, hubungin gue entar. Gue buru-buru masuk kelas dulu. Guru killer sekarang nih. Ditunggu bro!" Anak itu segera lari ke kelasnya.

"Oke pertama, seungcheol hyung langganan nya bukan deket sekolah ini dan jarang self service. Kerjaannya gampang, gue ga bakal kelelahan. Gue ga bakal ketahuan hyung atau mama. Dan terpenting adalah sepatu impian gueeee~"
"Thankyou Jihoo-ssi!" Chan lanjut berjalan dengan senyuman senang di bibirnya.

Benar saja, chan menghubungi temannya itu dan ia diterima bekerja disana. Seminggu pertama ia lalui dengan perasaan agak takut, namun untungnya kerjaan yang diambil 4x seminggu itu selalu berjalan sesuai rencananya. Walaupun ia harus memutar otak untuk mencari alasan pulang telat kepada kakak dan ibu nya. Untuk kedua sahabatnya, mereka belum mengetahui chan bekerja paruh waktu.

Disisi lain, seungcheol sedang berada di kantor jeonghan. Mereka tampak sedang berbincang.

"Han, gue pengen denger langsung dari anaknya. Gue belum puas, gue pengen tau semuanya." Ucap seungcheol
"Lo cuma bakal bikin chan kembali ke trauma masa lalu nya, seungcheol. Walaupun itu baru beberapa bulan yang lalu, tapi tetep aja." Jawab jeonghan
"Semenjak dia ngigau dan nyebut papa, gue jadi kepikiran. Entahlah. Gue gak bisa terima sama kejadian malam itu."
"Han, lo tau banyak tentang dia selama gue gaada disini kan? Kasi tau gue, please."
"Apa lagi, seungcheol? Semuanya udah."
"Bilang aja." Paksaan dari seungcheol cukup membuat jeonghan diam beberapa saat.
"Oke intinya adek lo dipaksa minum obat untuk daya ingat, disuruh les banyak mapel tiap hari, gak boleh keluar main, selalu dikasi omongan dan perlakuan kasar, self harm-" jeonghan mengingat sesuatu yng membuatnya tiba-tiba berhenti bicara.
"Kenapa?" Tanya seungcheol
"Di.. tampar?"
"Maksud lo? Ditampar sama siapa? Apa? Jeonghan-ah, jawab gue!"
"Maaf, cheol."
"YA APA?? SIAPA YANG BERANI NYENTUH ADIK GUE?"
"Se-sebelum adik lo ngelukain dirinya, dia ditampar paman Lee. Dia akhirnya bilang setelah gue paksa buat ceritain semua yang terjadi. Gue nyaksiin gimana dia ketakutan cuma karna habis telponan sama papa-,  ah maaf gue ga maksud mempengaruhi lo."
"Thanks, gue pergi dulu."
Tangan seungcheol ditahan oleh jeonghan.
"Kemana?"
"Kasi gue waktu, gue segera balik."
Seungcheol pun pergi meninggalkan jeonghan.

Seungcheol benar-benar marah, ia sampai tak tahu lagi cara mengekspresikan rasa marahnya. Entah kemana ia mengemudikan mobilnya. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah taman pinggir danau dan duduk disana.
"Kelewatan! Sialan!" Kepala seungcheol terus dibayang-bayangi dengan perkataan jeonghan yang mengatakan bahwa adiknya ditampar oleh ayahnya sendiri.
Seungcheol juga merasa sakit hati, kecewa, marah.

"15.30? Bentar lagi harusnya Jungchan pulang. Gue harus temuin dia."
Seungcheol kembali mengemudikan mobilnya kearah sekolah chan.











Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang