Please back, i beg u

865 89 6
                                        


Dalam ruang rawat itu kini tinggal chan dan seungcheol. Chan merasa lelah dan merebahkan tubuhnya, sedangkan seungcheol duduk disebelah chan.

"Jangan sakit terus.." ucap seungcheol sambil memandang chan.
"Sorry.." jawab chan kemudian meraih tangan seungcheol.

"Hyung.."
"Hm?"
"Jangan nyimpen dendam ya." Ucapan chan membuat seungcheol bingung.
"Maksud lo?"
"Jangan dendam, jangan marah."

"Maksud lo ke papa ya?" Batin seungcheol

"Perasaan tersebut manusiawi chan. Apalagi kalo ada orang yang menyakiti orang tersayang gue."
"Jangan keras kepala.."
"Loh bukannya yang keras kepala itu lo?" Seungcheol terkekeh dan mengelus kepala chan.
"Janji ikhlasin semuanya? Jangan dendam lagi?" Chan menjulurkan jari kelingkingnya.
"Banyak mau banget sih hari ini?" Ucap seungcheol kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan chan.
"Thanks."
"Btw hyung besok kerja?"
"Kenapa? Masih mau di temenin? Gue bisa WFH."
Chan mengangguk.
"Yaudah iya, sekarang tidur ya? Udah jam 10 loh."
Chan menggeleng "Engga, masih pengen ngobrol sama hyung."
"Udah malem chan.. besok kita ngobrol lagi. Kan gue ga ke kantor."
"Janji?"
"Iya dek.. hyung janji."

"Hyung.. gue sayang sama lo."
Seungcheol mematung beberapa saat, ia merasa kata-kata chan itu sangat dalam.
"Apalagi gue, gue juga sayang banget sama lo."
"Tetep disamping gue sampe gue tertidur pulas ya, habis itu baru lo boleh ke ranjang itu." Pinta dino
"Sure." Seungcheol menuruti permintaan itu.

Perlahan Chan tampak mulai terlelap. Wajahnya terlihat sangat polos, tenang.

"Jangan tinggalin gue ya.." batin seungcheol.

Seungcheol tidur disofa. Sedangkan mamanya tidur di extra bed disana. Namun sekitar pukul 5 pagi, mereka berdua terusik dengan suara keributan mesin dan dokter, suster yang masuk keruangan itu.
"Maaf mengganggu, bisakah anda bangun dahulu?" Suster membangunkan seungcheol dan mama lee.
"Ada apa sus?" Seungcheol mengucek matanya dan pandangannya beralih ke ranjang chan.
Mesin monitor terus mengeluarkan suara dengan cepat , baju chan sudah terbuka, dokter dan suster tampak memasangkan alat-alat lagi di tubuh chan. Dokter juga menggunakan alat pemacu jantung beberapa kali kepada chan.
"Dokter, detak jantungnya terus menurun." Ucap suster.

Seungcheol dan mamanya masih mencerna apa yang sedang terjadi. Mereka seakan berharap bahwa yang disaksikannya sekarang itu adalah mimpi.

Tiiittt...~
Monitor sekarang menunjukkan garis lurus. Bersamaan dengan dokter dan suster yang berhenti bekerja.
"Pukul 5.26." Ucap dokter, suster pun menulis yang dikatakan dokter.
Dokter menghampiri seungcheol dan mama lee.
"Tolong yang tabah."
"Pasien telah meninggal dunia." Ucap dokter.
"YA! MAKSUD ANDA APA?!!" Teriak seungcheol
"Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun takdir berkehendak lain."

Brukk
Mama lee jatuh pingsan, para perawat pun segera membantunya.

"GA MUNGKIN! ADEK GUE SEHAT! DIA MASIH HIDUP! KALIAN SALAH!!!"
"Pak tolong tenang, kami paham apa yang bapak rasakan." Dokter mencoba menenangkan seungcheol.
"YA! LEE JUNGCHAN !" Seungcheol berjalan ke ranjang chan.
"DINO-ya! CHAN-ah! JUNGCHAN, LEE JUNGCHAN-ah!!!"  Seungcheol mengguncang tubuh chan yang mulai dingin itu.
"BANGUN!!!! LO APA-APAAN?!! Lo bilang mau ngobrol, ayo ngobrol! Ayo cerita-cerita lagi. Gue libur sekarang, chan. Ayo bangun, bicara lagi sama gue.." seungcheol berlutut, menggenggam erat tangan adik tersayangnya.
"Gue mohon bangun!! Ambil duit lo pulang, kembaliin duit gue yang lo pinjem kemaren. Please dino.. ayo bangun!"
"Gue turutin apapun kemauan lo, asal lo bangun ya. Gue mohon" seungcheol sangat rapuh, ia menangis tersedu-sedu.


Disisi lain, seseorang sedang berjalan menuju kesuatu ruangan yang ingin ia tuju.
"Ahh entah kenapa gue tiba-tiba gak bisa tidur dari jam 5 tadi. Yaudah sih daripada bosen mending gue nyamperin mereka kesini. Entah udah bangun atau belum."

"Permisi, maaf." Seorang suster tampak tergesa-gesa.

"Hufhh, semakin deket kok gue deg-degan gini? Padahal baru kemarin gue nyamperin chan kan?"
"Eh rame banget? Udah bangun kali si seung-.."
"Loh.." ia berlari masuk ke ruangan ketika merasa ada yang janggal.

"Selamat pagi! Selamat menyaksikan hal yang tak pernah dibayangkan, Jeonghan-ssi."
Mungkin seperti itu kata dunia kepadanya saat ini.
Jeonghan menyaksikan seungcheol yang menangis tersedu-sedu di lantai, mama lee yang pingsan, dokter dan suster dengan raut wajah sedih, dan satu-satunya adik kesayangan jeonghan yang terbaring dengan wajah benar-benar pucat, sudah tak ada alat medis apapun di tubuhnya, dan kain putih yang menutupi hingga lehernya.

"Apa ini? Apa aku masih tidur dan ini mimpi?" Batin jeonghan.

"Han, jeonghan-ah! Bilang kalo ini mimpi! Bangunin dino! Suruh dia bangun! Han gue mohon.." seungcheol berlari kearah jeonghan dan memohon kepadanya.
"Kenapa? Dino kenapa?" Air kata jeonghan mulai menetes.
"Sus?"
"Maafkan kami pak, pasien dinyatakan meninggal dunia pukul 5.26 pagi tadi." Jawab suster
Dengan nafas tak beraturan jeonghan menghampiri chan, ia memegang tangan chan yang dingin itu.
"Maksud lo apa?! Huh?! Bangun! Dino-ya! DINO!!!" Jeonghan pun kini menangis tersedu-sedu.
"Lo belum bilang apa-apa ke gue. Gue undang lo makan malam, ayo bangun! Datang ke undangan gue!"
"Lo egois! Masa cuma gue yang dateng ke undangan lo? Lo juga dong!"
"Gue mohon, jungchan! Lee Jungchan! Dino-ya? Bangun! Lo mau apa? Ayo sama gue!"

Hari itu, tidak pernah menjadi hari yang diharapkan siapapun disana. Kini berita meninggalnya Chan telah sampai ke telinga orangtua Yoon, teman-temannya, dan yang lain. Entah berapa kali pingsan-sadar mama lee maupun seungcheol, jeonghan. Semuanya terpukul, kehilangan.
Anak ceria itu.. kami gagal menjaganya.

Teman-teman chan banyak yang membatalkan kegiatannya. Yang harusnya kesekolah atau ke kampus malah bolos dan pergi ke rumah sakit. Tidak perduli jika di cap menjadi buruk. Mereka kehilangan orang yang sangat berharga bagi mereka.

"Emang boleh gini, chan? Kok lu tega?" -t8
"Gue benci lo chan! Serius! Lo temen gue kan? Kenapa lo tega?" -sk
"Maksud lo apa? Kalo masih anggep kita temen, bangun!" -vn
"Airpods yang gue kasi mana? Ayo dengerin lagu bareng, terus makan bareng lagi. Bangun ya, please!" -jun
"Chan gue bisa masak, ayo dinner lagi. Gue yang masak!" -mg
"Lo bilang mau join dance club? Ayo! -hs
"Gue tar mau masuk les vokal loh chan, lo suka nyanyi juga kan? Ayo bareng!" -dk
"Kita harus lebih deket lagi chan! Bangun ya, gue udah klaim lo sbg adik gue. Seungcheol approved loh!"- js
"Gue ga terima chan! Lo harus bangun, gue ga mau tau!" -ww
"Chan gue boleh jujur? Sebenernya kemarin tuh gue ada job loh malemnya, udah otw lagi. Cuma entah kenapa gue tiba-tiba berhenti pas hp gue geter. Terus gue liat notif pesan lo, gue balik dan datengin lo. Gue udah bela-belain dateng kemarin, masa sekarang lo main pergi gitu aja? Ga adil dong."-wz
"Lo egois! Lo mikir gak sih gimana hidup gue tanpa lo?" -jh
"Lo mati, gue mati." -sc

Ruangan itu terasa sangat redup walaupun dengan lampu yang menyala. Pagi yang harusnya terdengar merdunya kicauan burung, namun diganti dengan isakan tangis.
Too hurt for us. Lee Jungchan, tolong kembali!














Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang