Suasana ruang rawat itu sekarang menjadi hening, sejak si bungsu memejamkan matanya untuk tidur. Sang ayah yang masih tak mau melepaskan genggaman tangannya, ditemani sang ibu yang juga duduk disamping ranjang anaknya itu. Lalu sang kakak? Ia duduk di sofa dan sesekali mengecek pekerjaan dari ponselnya.
"Huekkk.."
"Pa, aku ga bakal mati karna minum obat itu kan?"
"Pa, kayaknya aku ga cocok sama obatnya.."
"KAMU MERAGUKAN SAYA?"
"JANGAN BICARA OMONG KOSONG!"
Bayangan-bayangan masa lalu menghantui pikiran papa lee lagi. Apalagi chan yang semakin lelap, membuat pikirannya tak karuan.
"JUNGCHAN-ah, JANGAN TINGGALIN PAPA!!" Tiba-tiba papa lee mengguncang tubuh chan.
Tentu saja chan kaget dan terusik, namun ia tak sampai terbangun. Hal itu juga sontak membuat seungcheol berdiri, dan mama lee pun geram. Selayaknya seorang ibu yang baru saja menidurkan bayinya, lalu diganggu, bagaimana tidak kesal?
Plakk
"Kamu apa-apaan sih?!" Bisik Mama lee sambil memukul tangan papa lee.
Kemudian ia mengelus-elus rambut chan.
"Maaf ya nak, kamu tidur lagi yaa." Ucap mama Lee.
"Pa, cari angin yuk?" Ajak seungcheol.
Merekapun sampai di cafe samping rumah sakit. Dengan segelas minuman hangat masing-masing didepan mereka, merekapun mengobrol.
"Papa mikirin apa? Kenapa papa bangunin chan kayak gitu tadi?" Tanya seungcheol
"Dipelukanku.. dia pingsan dipelukanku." Jawab papa Lee sambil melamun.
"Maksudnya?"
"Pa?" Seungcheol menyentuh tangan papanya berniat membangunkannya dari lamunan.
"Eh? Oh maaf nak."
"Jangan melamun, ada apa?"
"Jungchan pernah pingsan setelah muntah. Setelah ia meminum vitamin itu.." papa lee berterus terang. Ia mengakui kesalahannya.
"Hh. Papa engga tau apa-apa tentang chan kan?"
"Papa telah menutup mata kepadanya, kepada kamu juga." Ucap papa Lee.
"Aku? Aku engga kok. Papa seperti itu hanya kepada chan."
"Berhenti mengucapkan maaf terus menerus pa, buktikan padanya bahwa papa memang menyayangi nya. Papa tau? Bahkan dengan mama pun ia sempat trust issue. Hati chan terlalu lembut pa, ia terlalu memikirkan banyak hal. Aku yang tiap saat bersamanya pun masih banyak yang tidak paham." Ucap seungcheol.
"Seungcheol-ah.. papa janji tidak akan mengulangi kesalahan papa lagi."
"Nak.. kamu memberi papa kesempatan kan?" Papa lee meraih tangan putranya itu.
Seungcheol menghela nafasnya "Iya.. tolong jangan kecewakan aku."
"Aku menyayangi papa, mama , dan adikku. Aku senang jika keluargaku tak berjarak."
"Terimakasih nak.. mulai sekarang Papa akan lebih sering bersama kalian."
"Tidak, bukan begitu maksudku. Tapi.."
"Iya nak, papa mengerti. Seungcheol-ah, terimakasih sudah membantu papa sebanyak ini."
"Pa.."
Drrrttttt
Dering ponsel yang menjeda percakapan itu.
"Halo ma?"
"Kalian dimana? Dicariin adik nihh"
"Loh kok chan bangun ?"
"Katanya sepi. cepet balik ya, biar dia mau istirahat lagi."
"Astaga haha.. mau nitip gak? Kebetulan kita Lagi di cafe."
"Engga, katanya mau kalian cepet kesini aja."
"Lucu banget adik gue.. ya otw."
———-
"Kenapa ?" Tanya papa lee.
"Udah mau 17tahun tapi masih bocah banget, pa. Kebangun gara-gara sepi kita tinggal katanya."
"Eh? Hahaha. Yaudah ayo."
"Anakku begitu lucu, bagaimana aku bisa menyakiti nya dahulu? Aku sangat buta. Nak, maafkan papa. Papa janji akan membahagiakanmu mulai sekarang." -batin papa Lee.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
RandomSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
