Masih diarea pemakaman, papa lee duduk sambil memeluk bingkai foto Chan. Ia melihat orang-orang depannya , termasuk istri dan anak sulungnya masih menangis. Beberapa kali juga ia mendengar kata-kata seperti
"Chan, ini beneran lo pergi tanpa kembali lagi?"
"Chan, gue ga terima malam itu jadi malam terakhir kita"
"Gue masih pengen lunch, dinner bareng lo."
"Dino, dimana tas lo? Ambil! Balikkin duit gue secara langsung?"
—
"Kalian nyadar ga sih yang dibilang chan sebelum kita pulang itu 'semoga bertemu besok'? Bukan sampai bertemu besok?" Celetuk mingyu yang membuat semuanya tertegun.
"Berarti bukan gue yang salah denger?" Jawab jun dan ia kembali menangis.
"Orang lain bahkan lebih mengerti dan peka terhadap Jungchan daripada aku?" Gunam papa lee .
Hiks hiks..
Papa lee menangis, namun tak ada satupun yang perduli dengannya.
"Jungchan sayang.. nak, katanya kangen papa? Papa udah disini loh, papa juga kangen kamu. Ternyata papa kangen sama kamu, ternyata papa sayang sama kamu. Papa gabisa kamu tinggal gini. Kembali nak, Papa mohon." Papa lee semakin mengeratkan pelukannya dengan bingkai itu.
"Seungcheol.. udah, yuk pulang?" Terdengar suara jeonghan mengajak seungcheol untuk pergi dari sana.
"Ini.. ini benar gue udah bukan kakak siapa-siapa lagi?" Lirih seungcheol.
"Cheol.."
Brukkk
Seungcheol tiba-tiba pingsan.
"Nak?!!"
"Tolong angkat dia, bawa ke mobil!" Ucap mama Lee dan seungcheol diangkat oleh teman-teman disana.
"Seungcheol?" Kaget papa Lee, namun entah mengapa ia tidak beranjak dari tempat duduknya sama sekali.
Ia hanya memandangi seungcheol yang lemas di gotong para temannya, istri dan orang sekitarnya yang panik dan berlarian.
"Alinne.." panggil papa lee namun tak dihiraukan. Ia ingin meraih tangan mama lee yang lewat di depannya, namun ia tak bisa.
"Ada apa ini? Mengapa badanku sangat sulit digerakkan? Apakah aku juga sudah mati seperti anakku?" Gumam papa Lee, ia merasa cukup panik.
Badannya terasa sangat aneh, energinya seperti diserap? Atau ditarik?
"Akhh.."
"JUNGCHAN!!!!!!!!" Teriaknya sambil menahan rasa sakit aneh itu.
"Tuan Lee Seungyeon, hari ke lima."
"Oh, dokter lihat!"
"Pak.. bapak sadar? Pelan-pelan pak."
"Apa aku bermimpi? Yang mana mimpiku?"
"Pak, buka mata anda perlahan."
"Selamat pagi, bapak akhirnya sadar setelah 4 hari."
"A-apa.. yang terjadi?" Tanya papa Lee dengan lemah dan suaranya masih serak.
"Bapak sedang dirumah sakit, bapak mengalami kecelakaan di kantor bapak dan mengakibatkan anda koma selama 4 hari. ART beserta supir pribadi anda yang menjadi wali anda disini dikarenakan keluarga bapak yang lain tidak bisa dihubungi." Jelas dokter.
"Aku koma selama 4hari? Berarti itu mimpi?" Ucap Papa lee dalam hati.
"Dimana mereka? Saya ingin bertemu."
"Suster sedang memanggilnya, mohon tunggu."
"Pak Lee? Bapak akhirnya sadar, saya sangat khawatir." Ucap supir yang masuk ruangan.
"Istri dan anak saya bagaimana?" Tanya papa lee.
"Mohon maaf karena ibu tidak bisa dihubungi, dan kami tidak mengetahui nomor keluarga anda yang lain pak."
"Bisa tolong ambilkan HP saya?"
Supir memberikan HP papa lee. Papa Lee memeriksa website perusahaannya, tidak ada berita tentang kematian siapapun . Yang ada malahan tentang dirinya yang jatuh di kantor.
Setelah beberapa saat, ia baru menyadari rasa sakit di dahinya. Dan ternyata dahinya robek efek terjatuh itu.
Kondisinya membaik saat itu, tetapi papa lee tampak gelisah.
"Pak" ia memanggil supir nya.
"Ada apa pak? Butuh sesuatu?"
"Ya, dimana tas saya? Dan bisa tolong suruh ART menyiapkan pakaian untuk saya? Saya akan coba memesan tiket pesawat, saya akan ke korea hari ini."
"Pak? Tetapi kondisi anda.."
"Tolong turuti saja dulu perintah saya. Saya akan menemui dokter."
"B-baik pak."
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
AcakSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
