Chapter40

911 72 0
                                        



Disuatu hari pukul 4 sore, Jungchan pulang sekolah. Ia tampak memperhatikan seseorang yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya.

"Bibi Kang?" Ucapnya pelan, orang itupun menoleh.
"Nak Chan?! Nak.. bibi sangat rindu." Bibi Kang berlari menghampiri chan.
Chan langsung memeluk bibi kang.
"Bibi.. chan lebih rindu. Kenapa bibi baru kembali?"
"Nak.. maafkan bibi. Nak chan gimana kondisinya? Kenapa kurusan, sayang?" Bibi kang sambil menangis.
"Bibi, aku sakit loh.. bibi harusnya rawat aku." Ucap chan manja, bibi kang semakin menangis.
"Maafkan bibi nak.." bibi kang kembali memeluk chan dengan erat.

"Nak, sebenarnya bibi cukup sering kerumah ini. Hanya saja saat kamu disekolah. Tuan Lee melarang kita bertemu. Dan bibi sangat senang ketika nyonya Lee akhirnya meminta bibi kembali kesini."
"Nak Chan kenapa bisa sampe sakit gini? Bibi merasa gagal nak, bibi sangat sedih." Batin bibi Kang yang mengetahui penyakit chan karena mama lee menyeritakan semuanya.

"Eeh anak mama udah pulang sekolah? Aduh aduh.. lagi kangen-kangenan sama bibinya ya?" Ucap mama lee yang datang menghampiri mereka.
"Maaf nyonya. Saya benar-benar rindu nak Chan." Ucap bibi kang merasa tak enak.
Mama lee tersenyum "Saya berterimakasih loh bi, selama saya jauh, bibi merawat mereka dengan sangat baik."
"Saya dengan senang hati merawat mereka, nyonya."
"Yaudah sayang, ganti baju gih.. nanti mama sama bibi masak makanan kesukaan kalian."
"Yeyy terimakasih ma, terimakasih bi." Chan ke kamarnya.









Beberapa hari sejak kembalinya bibi kang, pekerjaan mama lee menjadi lebih ringan. Maka dari itu ia memiliki banyak waktu luang. Ia juga sering ke kantor seungcheol hanya untuk membawakan putra sulungnya itu makan siang.
Kebetulan hari ini mama Lee baru saja kembali dari kantor seungcheol. Kemudian, mama lee membuka laptop dan melakukan pekerjaannya disana.

Tingg
👨: sayang? Boleh aku telepon?
👩🏼: aku sedang kerja, nanti saja.
👨: sore ya? Ada yang ingin aku bicarakan.
👩🏼: ya.

Mama lee menghela nafasnya "Huuh ada-ada saja maunya."

Baru saja ia meletakkan ponselnya, namun berdering lagi.

Drtt drrttt...
"Kan sudah ku beritahu nanti sa-... ehh nomor siapa ini?"

"Halo?"
  : Halo selamat siang bu, saya wali kelas dari Lee Jungchan ingin mengabarkan bahwa Jungchan pingsan dan sekarang kami bawa ke UGD. Tolong datang kesini.

Tanpa babibu lagi, mama lee bergegas menuju rumah sakit. Ia segera ke ruang UGD dan disana bertemu dengan gurunya beserta Mingyu.

"Selamat siang, anak saya bagaimana?" Ucap mama lee dengan sangat panik.
"Ibu, tolong tenang. Sekarang sedang ditangani oleh dokter." Jawab guru.
"Ini awalnya gimana?"
"Tante, tadi saya yang bersama Jungchan. Setelah makan siang kami pergi untuk menonton siswa yang bermain basket. Awalnya baik-baik saja, tapi semakin lama chan terlihat gelisah. Saya mengajaknya untuk keluar tapi ia menolak, katanya dia senang menonton pertandingan itu. Saya khawatir dan memerintahkan teman untuk membawakan air minum untuknya. Kemudian tak lama setelah itu, chan berkata bahwa ia sangat mual. Mungkin ia berniat pergi ke toilet, namun ketika ia berdiri, ia langsung pingsan." Jelas mingyu.

"Mama!" Seungcheol berjalan tergesa-gesa.
"Chan gimana?" Tanya nya
"Oh mingyu-ya. Chan gimana?"
"Masih ditangani hyung." Jawab mingyu.

"Nak.. mama ga bisa tenang, Jungchan baik-baik aja kan?" Mama lee menangis kemudian ia dipeluk oleh seungcheol.
"Ma, chan anak yang kuat kok. Jangan khawatir ya.."

Selagi menunggu dokter, seungcheol mengobrol bersama mingyu. Menanyakan alasan bagaimana chan bisa seperti ini.

"Permisi, Ibu Lee?" Panggil dokter
"Dokter anak saya gimana? Tidak apa-apa kan?"
"Bu, anak ibu drop. Saya juga terkejut dengan kondisinya saat saya periksa."
"Maksud dokter??? Ada apa?? Jelaskan dok!!"
"Maaf tapi.. hmm penyakit gagal ginjalnya semakin parah. Ini gagal ginjal kronis."
"Oke oke, tapi tetep bisa sembuh kan? Dua hari lagi jadwal cuci darahnya kan dok??"
"Bu.. tetaplah berdoa kepada tuhan. Dan.. cuci darah tidak menjamin kesembuhan."
"Jadi-"

"Permisi dok, pasien sudah sadar di dalam." Ucap Seorang suster yang keluar ruangan.
"Baik. Mari masuk." Dokter mengajak mama lee dan seungcheol menemui chan.

Tentu saja di dalam ruangan terdapat chan yang terbaring.
"Jungchan, gimana perasaan kamu nak?" Tanya mama lee, bibirnya bergetar dan tak kuasa menahan tangisnya.
"Mama kenapa nangis? Aku sekarang udah gapapa kok." Ucap chan sambil tersenyum.
"Chan.." panggil seungcheol
"Lah, lo bolos kerja ya buat nemuin gue disini? Gue gapapa kali ah.. kerja yang bener, traktir gue jajan." Canda chan.
"Jangan bercanda dulu kali chan, yaelah lu mah.."
"Lagian kalian sih.. chan engga apa-apa. Udah sembuh ini."

"Permisi, pasien akan kami bawa keruang rawat." Ucap suster.
"Yaelah rawat inap lagi nih?" Chan memutar bola matanya.


Benar-benar membosankan bagi chan jika dirinya dirawat inap. Sejak di vonis gagal ginjal, entah sudah berapa kali ia dirawat inap. Belum lagi cuci darah yang memakan waktu 2-3jam yang rutin ia lakukan 3x seminggu. Terkadang ia juga mengalami efek samping setelah cuci darah seperti sakit kepala.

"Seungcheol hyung, lo gak ke kantor?" Tanya chan kepada seungcheol yang duduk di sofa ruang rawat itu.
"Gak, gak begitu sibuk juga." Jawab seungcheol.
"Liat deh hyung." Chan menyodorkan hp nya yang berisi artikel tentang penyakit gagal ginjal.
"Apaan?"
"Hyung sebenarnya gue gagal ginjal stadium berapa? Kok gue cuci darah sesering ini? Stadium 5 ya? Kronis ya?"
"Ckk lo ngapain sih buka artikel gituan?"
"Ya kalo stadium 3 atau 4 ga mesti cuci darah loh hyung."
"Dino.. lo sementara ini nurut aja yaa. Biar lo bisa sembuh."
"Kalo gak bisa sembuh?"
"Ya ga bakal gue biarin!"
"Kalo nasib gue gitu, gimana dong hyung?"
"Ya intinya ga bakal gue biarin. Gue bakal usaha buat lo!"
"Lo mau ngelawan nasib?"
"Iya, kenapa tidak?"
"Waw hyung gue keren nihh. Btw makasi." Chan terkekeh.
"Lo sering banget ya nanya beginian dan ini kedua kalinya dirumah sakit."
"Gue cuma memastikan hidup gue hyung, gue pengen hidup lebih lama sama lo dan semua orang yang gue sayang."
"Lo ngomong apasih? Tentu aja lah kita akan bersama dalam waktu yang lama!"
"Hehehe iya dah iyaa." -chan.




Disisi lain, mama lee sedang berjalan menuju ruang rawat karena tadi ia masih mengurus administrasi. Kemudian telepon nya berdering.

Drrrttt..
"Halo?"
👨: sayang, kamu udah selesai kerjanya? Kok telponku tadi gak diangkat?
👩🏼: aku sibuk
👨: sibuk apalagi? Kamu dimana?
👩🏼: aku dirumah sakit
👨: ASTAGA SAYANG?! KAMU KENAPA???
👩🏼: bukan aku tapi anakku. Jungchan, anakku pingsan disekolah kemudian dibawa ke UGD dan sekarang rawat inap. Aku sibuk, aku harus merawat anakku. Ini bukan hal yang penting buat kamu kan? Kamu ga peduli kan? Aku hanya harus memberitahukannya agar kamu tidak terus meneleponku.
👨: sayang jangan kelelahan.
👩🏼: jangan pedulikan aku
👨: bagaimana bisa? Aku suami kamu. Aku yang akan menemanimu.
👩🏼: menemaniku? Hh terus disaat seperti ini, disaat aku butuh peran seorang suami agar aku kuat dengan situasi ini, bisa saling bertukar pendapat.. dimana kamu? Dimana peran seorang suami itu?
👨: alinne..
👩🏼: sudah seungyeon. Anakku akan melakukan cuci darah setengah jam lagi, aku akan menemani nya.

.....

Mama lee mengakhiri panggilannya dan lanjut berjalan keruang rawat chan. Suasana hatinya sangat buruk, namun ia menutupi seakan tak terjadi apa-apa.












Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang