Chapt55

748 69 1
                                        

.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
.





"Maaf pak, nak Chan pulang jam berapa hari ini? Biar saya siapkan makanan atau lainnya." Ujar bibi kang kepada papa Lee.
"Ini saya mau jemput, lagi nunggu seungcheol aja." Jawab papa lee.
Seungcheol dan papa nya sedang dirumah yang akan menjemput chan di rumah sakit. Hari ini Chan diperbolehkan pulang setelah 5hari di rawat.

Ding dong
"Biar saya mengeceknya pak." Bibi kang segera kedepan untuk memeriksa siapa yang menekan bel rumah tersebut.

"Permisi, paket untuk Lee jungchan." Ucap kurir
"Baik, tapi dia sedang tidak dirumah pak."
"Tidak apa-apa, ibu bisa menyimpannya dan berikan nanti padanya. Ini dari temannya, Park Jihoo."
"Oh baik. Terimakasih."

~

"Pak, ini ada paket untuk nak Chan." Bibi kang memberikan paket itu kepada papa Lee.
"Katanya dari temannya, Park Jihoo." Tambah bibi kang.
"Park jihoo?" Ucap seungcheol yang baru saja keluar dari kamarnya. Kemudian ia meraih paket tersebut lalu membaca deskripsinya.
Seungcheol diam sejenak.

✉️ : "Jungchan, gue denger lo sakit? Paket lo nyampe tempat kerja, gue bingung nitip kesiapa. Gue kirim kerumah lo. Maaf banget, gue juga bakal pergi sama ortu gue beberapa hari, gue gabisa keep ini. Gws chan."

"Barang apa itu nak?" Tanya papa lee memecah lamunan seungcheol.
"Sepatu pa."
"Ohh" ucap papa lee tanpa penasaran lagi.

Seungcheol benar-benar kepikiran. Hari itu kebetulan chan mengeluh ponselnya sedikit bermasalah dan seungcheol membawanya untuk di service. Jadi ia tak sengaja membaca notifikasi pesan dari Park Jihoo.

"Bentar deh, tadi katanya tempat kerja? Chan gak kerja kan? Gak mungkin kan?"
"Tapi sepatu ini harganya mahal. Kok gue kepikiran terus?" Batin seungcheol.

Hingga waktu menjemput chan selesai. Mereka telah dirumah. Seungcheol pun masuk ke kamar chan.
"Chan, paket lo dateng." Seungcheol datang memberikan paket itu.
Chan sangat terkejut, membuat seungcheol semakin curiga.
"KOK DIKIRIM KESINI??" Setelah mengatakan itu, chan reflek menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Ya kan ini rumah lo, mau dikirim kemana lagi?" Seungcheol masih santai.
"O-oh iya hehe. Hm anu.. itu.. HP gue mana hyung?"
"Tumben beli barang gak bilang? Mahal lagi tu.."
"Hah? Anu.."
"Chan, HP lo di kantong gue sekarang. Jawab jujur atau hp lo gue sita nih?"
"Jujur apa? Ya.. ya gue beli kok. Duit gue cukup." Chan terbata-bata.
"Ohh hehe okey chan.."
"Btw kerjaan lo gimana?"
"Oh udah selesai kok." Chan keceplosan.
"Ma-maksud gue.. maksud lo, hyung.. hmm kerjaan lo?"
"Gue gak sengaja liat notif pesan park jihoo."

Deggg
Udah lah.. udah ketahuan.

Chan menunduk. Kemudian seungcheol menghampirinya.
"Kerja apa lo?"
"Partime di pom bensin." Jawabnya dengan suara kecil.
"Untuk? Kenapa ga bilang kalau butuh duit?"
"Gue pengen banget sama sepatu itu, duit tabungan gue gak cukup. Jadi gue inisiatif cari tambahan. Malu gue minta ke lo-"
"Cihhh.. malu? LO LIAT KONDISI LO CHAN!"
"Sekarang, dimana tempat lo kerja itu? Ayo kesana! Gue ajuin resign."
"Hari kamis di minggu ini harusnya gue kerja terakhir kalinya hyung. Gue udah selesai karna cuma ambil sebulanan doang."
"Sebulan? Lo pernah sakit gara-gara kerja atau gak?"
"Gak hyung, serius! Kerjaannya santai banget."

Seungcheol merogoh kantong nya, mengambil salah satu kartu debit nya.
"Nih bawa, gue jarang pake kartu ini. Tar tiap bulan bakal rutin gue isiin."
"Ga perlu, gue ada." Chan menolak keras
"BAWA AJA APA SUSAHNYA SIH? DUIT JUGA LOH INI! SIAPA TAU LO KEPEPET, JADI GA PERLU SUSAH-SUSAH PART TIME!" Suara seungcheol agak meninggi.
"Hyung.. gue minta maaf. Maaf banget. Please percaya gue ga bakal gini lagi. Ini kartu lo, gue ga perlu. Gue cukup sama uang jajan yang lo kasi tiap minggu."
"Ntar gue tambahin uang jajan lo."
"GAK MAU!!! GAK PERLU! GUE UDAH MINTA MAAF, GUE GAK ULANGI LAGI! LO KOK GA PERCAYA?? huaaaaa" chan menangis dan malah ngambek.
Seungcheol menaikkan alisnya "Lo yang salah malah balik marah?"

Fine. Seungcheol tak bisa melanjutkan marahnya lagi.

"Oke gue percaya, sorry udah bentak lo tadi." Seungcheol membawa chan kepelukannya.
"Gue cuma takut, gue khawatir. Kalo lo kenapa-kenapa gimana? Emang bakal ada orang yang ngerti tentang lo disana? Gue beneran kesel kok chan, gue marah. Gue kurang gimana? Kenapa lo malah merasa malu. Manfaatin gue, gapapa loh. Gue udah dewasa kan? Gue tau mana yang boleh dan engga. Kalau emang menurut gue barang itu kurang berguna buat lo, mungkin gue pertimbangkan. Tapi kalau sepatu itu, gue bakal kasih kok."

Chan menatap sang kakak dengan mata yang berair.
"Maaf. Gue selalu bikin khawatir. Maafin gue."
"Sekalipun lo mau nyoba kerja, bilang ke kita dirumah. Kalau ada apa-apa kita bisa sigap bantu lo. Paham?"
"Iya, paham. Makasi hyung."
"Sama-sama. Ohya, ini HP lo. Tadi papa sempet bilang, kalau mau ganti HP , ganti aja chan. Kita anter beli."
"Engga hyung, ini aja masih cukup."
"Yaudah, minum air terus istirahat ya." Seungcheol mengelus kepala chan.













Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang