regret II

773 67 0
                                        


"Alinne?"


















Dengan cepat mama Lee membawa suaminya pulang, dan kini mereka sedang berada di kamarnya.
"Ada apa seungyeon? Apa yang membuatmu kemari?" Tanya mama lee.
Papa lee menunduk dan mulai menangis.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku benar-benar menyesal."
"Seungyeon.." mama lee mengusap pundak suaminya itu.
"Oh, ada apa dengan dahimu?"
"Bukan apa-apa, aku hanya jatuh di kantor."
"Apa itu masuk di artikel perusahaan? Belakangan ini ada masalah jadi kami tidak bisa membuka website. Seungcheol baru selesai memperbaiki nya pagi tadi."
"Seungyeon? Kau tidak apa-apa?"
"Ini bukan hal penting sayang. Sudah." Papa lee menggenggam tangan mama lee.

"Yaudah, sekarang apa yang membuatmu seperti ini sayang? Mengapa kau berubah?" Tanya mama Lee.
"Sayang, bagaimana kondisi Jungchan? Bagaimana dengan penyakitnya?"
"Jungchan belum sembuh, dia masih sakit. Oh, dan besok adalah jadwalnya."
"Jadwal apa?"
"Jadwal cuci darah. Dia masih harus menjalani itu 2x seminggu."
Papa lee kembali menunduk , ia sekarang merasa sakit mendengar tentang penyakit anaknya.
"Btw, mengapa nomormu tidak aktif?" Tanya papa Lee.
"Handphone lamaku rusak karena masuk kedalam kolam renang." Jawab mama Lee.
"Kolam renang? Dimana? Kenapa bisa sayang? Data-data mu disana bagaimana?"
"Di villa. Aku sempat menginap di villa bersama anak-anak. Itu atas permintaan chan sih.."
"Villa?? Apa chan berenang?"

"Ini.. seperti mimpiku sebelumnya. Aku pernah bermimpi seperti ini." Batin papa Lee.

"Iya, dia berenang dan.." mama lee menghela nafasnya.
"Dan apa??" Jantung papa lee berdebar, ia sangat menunggu kelanjutan cerita mama Lee.
"Ditengah kolam dia kambuh kemudian tenggelam. Seungcheol memang sudah langsung menolongnya, namun tetap saja kondisi Chan saat itu tidak baik. Kejadian itu sempat membuatnya koma, aku.."
"Koma???" Papa lee memotong pembicaraan.
Mama lee mengangguk.
"Aku.. aku sangat takut, seungyeon. Kau dimana saat itu? Aku benar-benar butuh peran seorang suami. Aku sangat takut, setiap kali melihat Jungchan terbaring dirumah sakit, pikiranku selalu negatif. Chan beberapa kali kritis, aku trauma. Anak seusia dia harus menghadapi hal seperti ini. Tapi dia selalu bercanda dan tersenyum, seolah tak ada yang sakit. Seolah semuanya baik-baik saja. Bukankah seharusnya aku senang melihat dia seperti itu? Tapi nyatanya aku tetap takut, aku takut kehilangannya." Mama lee menangis.
"Sayang.. maaf, aku suami dan ayah yang buruk. Tolong beri aku kesempatan, aku akan memperbaiki semuanya."
"Maaf telah membiarkanmu menghadapi hal berat ini sendirian, aku janji mulai sekarang akan berada di sisimu, disisi anak-anak juga. Tolong beri aku kesempatan." Papa lee sangat memohon.
"Bagaimana dengan Michael? Sahabat kantormu itu? Apa kau masih akan bercermin kepada dia?"
"Alinne, kau mengetahuinya?"
"Ya aku tahu! Anak sahabatmu itu juga keras kepala kan? Kemudian kemampuan akademisnya kurang sehingga Michael memberinya banyak asupan vitamin daya ingat? Dia juga memaksa dan mengurung anaknya agar belajar dan mendapatkan nilai terbaik disekolah?"
"Seungyeon, memang Jungchan terlihat keras kepala tetapi.. masak kamu se-buta itu? Seolah anak kamu itu penjahat?"
"Aku menyadarinya, Alinne. Aku salah, Jungchan anak baik. Tidak seharusnya aku menyamakan dia dengan anak temanku itu."
"Memang tidak seharusnya, seungyeon! Mereka ya mereka, kita ya kita."
"Alinne.. apa kau mau memberiku kesempatan?" Papa lee memohon dengan menggenggam tangan mama Lee.

Mama lee mencintai suaminya, dia memang ingin memperbaiki semua hal buruk yang terjadi sebelumnya. Ia juga ingin menciptakan keluarga cemara, ia ingin hubungan ayah-anak yang baik.
"Aku memaafkanmu, sayang. Tapi aku tetap butuh bukti dari omonganmu ini." Ucap mama Lee.
"Aku akan membuktikannya. Aku harap anak-anak juga dapat memberiku kesempatan." Jawab papa lee kemudian memeluk mama Lee.
"Semoga niat baikmu terlaksana dengan baik."

Drrrrttttttt
Ditengah-tengah itu, ponsel mama Lee berdering.

📞
"Halo?"
🍒: mama, mama baik-baik aja?"
👩🏼: iya nak, mama gapapa. Adikmu gimana? Kalian sekarang dimana?
🍒: udah mendingan. Kata dokter tadi chan panic attack. ini mau pulang, chan sama temennya dah duluan di mobil, aku masih ditoilet.
👩🏼: hmm syukurlah kalo sekarang udah mendingan . Ohya, belum pada makan siang kan? Kamu makan diluar ya nak, sama chan dan temennya. Mama masih sedikit bicara sama papa, nanti habis makan langsung pulang gapapa kok.
🍒: ah oke, ada apa-apa langsung telpon ya ma.
👩🏼: iya nak, hati-hati dijalan.

- - - -


"Itu seungcheol?" Tanya papa lee, mama lee mengangguk.
"Bagaimana kondisi chan??"
"Panic attack. Tapi udah mendingan kok sekarang."
"Anakku.. aku merindukannya."
Mama lee tersenyum mengusap bahu papa lee "Nanti waktu dinner, kita ngobrol sama-sama."
















Singkat cerita, hari sudah sore. Seungcheol dan chan sudah dirumah. Mama Lee dan bibi Kang sedang mempersiapkan makan malam, sedangkan papa Lee tidur.
"Mama, hari ini masak apa aja?" Tanya chan yang datang ke dapur.
"Mama masak banyaaakk.. pokoknya menu-menu kesukaan kalian." Jawab mama lee.
"Mama, aku pengen telur." Ucap chan manja
"Ada sayang.. telur rebus dicampur sama daging."
"Engga.. telur ceplok."
"Ohh hehe iya sayang nanti mama bikinin. Ada lagi nak? Biar sekalian."
"Engga ma, itu aja. Makasii yaa." Chan memeluk mamanya.
"Iya sayang. Ohya, papa udah tidur lama, minta tolong bangunin papa ya? Sekalian seungcheol juga ajak turun. Kita siap-siap makan malam."
"Ah? O-oke ma." Chan pun beranjak ke kamar papa Lee.

Sudah di depan pintu, chan sangat gugup. Mengapa tiba-tiba terasa mencengkam? Namun ia tetap berusaha memberanikan diri masuk ke kamar itu. Keringatnya mulai bercucuran, tangannya gemetar, ia membuka pintu dan masuk. Papa nya tampak begitu lelap dengan posisi tidur membelakangi chan. Chan mencoba menjulurkan tangannya ketubuh papa lee. Tidak, ia tidak sanggup. Bayangan masa lalu terlalu menyakitinya.
"H..h-hyung.." dengan nafas yang kembali tak beraturan, Chan mengurungkan niatnya untuk membangunkan sang ayah. Ia berlari ke kamar Seungcheol.
"T-tolong"

Brughhh
Suara aneh itu membuat seungcheol penasaran, perlahan ia berjalan dan membuka pintu.
"JUNGCHAN!!!!" Seungcheol sangat kaget begitu membuka pintu dan mendapati adiknya tergeletak dengan wajah berkeringat dan pucat.
Seungcheol menepuk-nepuk pipi chan dan juga menggoyangkan tubuh chan.
"Eughh.." chan mulai sadar.
"Lo kenapa sih????" Seungcheol membawa adiknya kekasurnya.
"Lo bisa gak sih jangan bikin gue khawatir? Sumpah chan hari ini 2x hal sama????"
Chan belum menjawab, ia masih mengumpulkan energinya.
"Lo dari mana? Ngapain? Kenapa???"
"Sorry.. gue tadi.. tadi niatnya.. tadi niatnya bangunin papa." Jawab Chan. Seungcheol menghela nafasnya dengan panjang.
"Kalo lo masih belum bisa, lo bisa minta tolong ke gue."
"Hyung.. gue egois ya?"
"Maksud lo?"
"Kenapa gue jadi gini? Kenapa gue takut? Dia papa, papa pulang. Papa pulang kerumahnya. Harusnya gue seneng, kan?" Ucap chan dengan senyuman untuk menutupi perasaan sebenarnya.
"Dino, lo gak egois. Lo engga perlu ngerasa gitu. Lo masih belum biasa. It's okay, take your time Chan. Gue bakal selalu disisi lo, gue bakal bantu lo sampe lo jadi terbiasa lagi ya? Sampe lo engga ada perasaan yang ngeganggu lo lagi."
"Thanks." Jawab Dino dengan volume suara yang rendah.

Tanpa disadari, dibalik pintu, papa Lee menguping pembicaraan mereka. Papa Lee terbangun karena suara Chan berlari cukup keras tadi.

"Ternyata papa sangat menyakitimu ya nak?" Batin papa Lee.
















Tbc.

abitudine || Dino seventeen (Brothership)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang