Chan tidak terlalu fokus saat les, ia takut setelah baca pesan ayahnya. Mungkin saja karena tadi chan tidak ada, jadi guru les menghubungi papa Lee.
Jadwal les chan sudah kelar.Sekarang chan sedang bersih-bersih rumah. Tepat saat ia sedang mencuci piring, papa Lee pulang kerja. Hari minggu itu, papa Lee pulang pada pukul 16.00
*papa lee melempar tas kerjanya ke sofa*
"Oh papa sudah pulang.." ucap chan yang mengalihkan pandangannya ketika mendengar lemparan tas itu.
Papa lee datang ke dapur, menarik tangan chan yang masih basah itu keruang tamu.
"E-eh kenapa pa?"
"DASAR SIALAN! KELUYURAN KEMANA KAMU SAMPAI MEMBUAT GURUMU MENUNGGU??? DASAR TIDAK TAHU DIRI! MENGAPA KAMU SAMASEKALI TIDAK BISA DIAJAK KERJA SAMA?? SAYA PERGI BEKERJA BAHKAN DIHARI MINGGU INI UNTUK KELUARGA SAYA, UNTUK KAMU JUGA! KAMU PIKIR KAMU MAKAN, SEKOLAH, DAN LAINNYA ITU GRATIS GITU AJA HAH?!!"
"Aku engga keluyuran pa, tadi terlanjur pesan makanan. Aku tidak tahu akan selama itu."
"ALASAN! DENGAR YA LEE JUNGCHAN, HARUSNYA KAMU BERSYUKUR HIDUP DIKELUARGA SAYA! KAMU DISAYANG SAMA-"
"Sama mama dan hyung? Tapi papa enggak?"
"Kamu memotong ucapan saya?! Berani banget kamu?!"
"TAPI BENAR KAN PAPA TIDAK SAYANG AKU???" Tiba-tiba ia keceplosan melawan papa nya.
Plaakkk
Papa lee menampar pipi chan.
"Jaga ucapan kamu Lee Jungchan! Maksud kamu apa hah??"
"Bener kan? Nyatanya papa selalu marahin aku, selalu negatif thinking ke aku, selalu nuntut aku.. Pa-papa juga nampar aku sekarang" chan menahan tangis nya
"LEE JUNGCHAN!!! KAMU TIDAK MENGERTI APAPUN!"
"Aku-"
"DIAM KAU, SIALAN!"
Papa lee pergi keluar rumah lagi dan membanting pintu sangat keras.
Hari minggu sore, di ruang tamu. Lee Jungchan meneteskan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Ia juga memegang pipinya.
"Sakit."
Iya, sekarang terasa sakitnya. Pipi bekas tamparan itu sakit, hatinya sakit, chan tak menduga ia ditampar ayahnya sendiri.
"Chan bukan penjahat kan? Kenapa papa nampar chan?"
Chan merasa frustasi, ia mengambil hoodie dan masker, kemudian keluar rumah. Tak ada tujuan, ia aja berjalan mengelilingi seputaran kota itu.
Hari mulai gelap, tepat saat itu ia berada di dekat restoran yang sudah tutup. Tentu saja chan naik ke atas restoran tersebut. Ia duduk dan pikirannya masih dipenuhi kejadian sore tadi.
Angin yang semakin malam semakin dingin itu, sama sekali tidak terasa di kulit chan. Ia masih setia dengan duduknya.
Waktu telah berlalu dengan cepat. Bukankah chan pergi dari sore tadi? Oh, maksudnya adalah 'kemarin' karena saat ini sudah pagi.
Lee Jungchan tidak tidur, ia begadang semalaman diluar rumah, di atas restoran tutup tersebut. Chan balik kerumah pada pukul 04.00 pagi. Sampai dirumah, ia masih belum melihat mobil papa nya. Rumahnya gelap, mungkinkah juga papa nya tidak pulang? Chan masuk dan ke kamarnya. Ia mandi, memakai seragam, dan membuka laptopnya sambil menunggu jam untuk pergi ke sekolah.
Singkat cerita, chan sudah pulang sekolah. Lagi-lagi ia mendapati rumahnya kosong. Sepertinya papa lee memang tidak pulang sejak kemarin.
Tingg..
✉️Papa: saya akan pergi untuk beberapa hari. Jangan ganggu saya!
Chan hanya menghela nafas setelah membaca itu. Selanjutnya ia mandi kemudian duduk diruang tv. Ia menyalakan televisi. Beberapa saat ketika menonton, chan menjatuhkan remote televisinya. Tiba-tiba saja ia menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
RandomSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
