"Kamu ini kenapa?" Ucap papa lee yang tadinya terkejut karena chan tiba-tiba teriak. Chan tidak menjawab, ia masih dengan posisi yang sama.
"Ckk" papa lee berdecak kesal tapi tak mempedulikannya, ia menancap gas dan mengemudikan mobilnya.
"Jungchan!" Panggil papa lee dan chan menoleh.
"Apa luka di kepalamu masih sakit?" Tanya papa lee
"Tidak pa." Jawab chan.
"Bagus, lepas saja perbannya. Jangan membuat isu yang tidak-tidak dengan perban di kepalamu."
Chan memandang papanya beberapa saat.
"Apa? Merasa saya jahat? Iya, saya tidak suka sama kamu! Kamu membuat saya semakin ruwet. Kamu tau kan kerja itu capek?! Tapi mamu bikin aja masalah. Heran, mengapa seungcheol tahan denganmu."
Chan lagi-lagi tak menjawab, ia mulai melepaskan perban dikepalanya.
Disisi lain, di sebuah kafe dekat kampus, tampak Jun, Soonyoung, Wonwoo, Jihoon, Mingyu, Seokmin, dan Myeongho sedang berada disana.
"Kata seungkwan, udah 3 hari Jungchan ga sekolah. Ada surat keterangan sakit dari rumah sakit, tapi engga tau sakit apa. Dihubungi ga di respon." Ucap mingyu
"Padahal gue baru mau ngasi ini ke dia." Jun mengeluarkan sebuah airpods.
"Airpods? Dalam rangka apa?" Tanya wonwoo
"Gue sempet ketemu chan beberapa waktu lalu, dia jatuhin airpods dan hilang. Yaa jadi inisiatif beliin yang baru." Jawab jun.
"Ohh."
"Jeonghan hyung pasti tau segalanya tentang chan, kenapa ga nanya dia?" Ucap soonyoung
"Eh bener juga yaa. Telpon yuk."
Salah satu dari mereka mencoba menelepon jeonghan, tapi tidak diangkat.
"Jam kerja ini, ntar aja kali." Ucap jun.
Hari semakin sore, jeonghan dan seungcheol sampai dirumah sakit.
"Permisi sus, adik saya baik-baik saja?" Tanya jeonghan yang kebetulan langsung berpapasan dengan suster yang diminta menjaga dino tadi.
"Loh emang nya tidak diberitahu? Tadi pasien sudah dijemput ayahnya, semua biaya administrasi juga telah dilunasi."
Degg..
"Sial!"
"Oh iya terimakasih suster, permisi." Jeonghan menarik tangan seungcheol dan berlari keluar.
"Kita cari kemana dino, han?" Seungcheol panik
"Rumah lo lah. Coba kesana dulu."
Ceklek
Papa lee membuka pintu rumahnya, masih tidak ada yang aneh.
"Pergi ke kamar dan belajar! Kamu pikir biaya sekolah dan les mu tidak menggunakan uang? Kamu terlalu lemah jungchan! Sakit perut sedikit, pingsan. Muntah dikit, pingsan. Dasar!"
"Ba-bagaimana papa tahu kalau aku sedang sakit?" Tanya chan
"Kamu pikir saya bodoh? Para guru les mu menelepon saya, bilang rumah ini kosong. Semua-"
"CUKUP LEE SEUNGYEON!!" Teriakan mama lee sangat mengejutkan chan dan papanya.
"Mama?"
"Alline?!"
"Jungchan.. nak kamu kenapa? Sakit apa? Hikss. Astaga kenapa ini luka?" Mama lee meraba wajah dan tangan chan sambil menangis.
"Alline." Papa lee berniat menarik mama lee ke pelukannya.
"Jangan sentuh aku!"
"KAU APAKAN ANAKKU, SEUNGYEON?! JAWAB AKU! KAU APAKAN DIA SELAMA INI?"
"Aku tidak melakukan apapun, sayang."
"TIDAK MELAKUKAN APAPUN? LALU TADI APA? MENGAPA KAU SANGAT KASAR PADANYA?"
"OKE OKE ALLINE! MENGAPA KAU MEMBELANYA? DARI DULU AKU TIDAK MENGHARAPKANNYA!"
"MAKSUDMU APA? DIA TETAP ANAKKU, AKU MENYAYANGINYA!"
"SUDAH KU KATAKAN TIDAK USAH MELAHIRKAN ANAK INI! SEUNGCHEOL SAJA CUKUP!"
"PAPA! MAMA!" Teriak seungcheol di depan pintu.
"DINO!!" Jeonghan dan Seungcheol berlari menghampiri chan yang sudah meringkuk dan menutup kedua telinganya sambil menangis.
"Chan lo kenapa? Chan kok lo luka luka gini?" Seungcheol sangat sedih melihat kondisi adiknya.
"Dino, kenapa perbannya dibuka?"
KAMU SEDANG MEMBACA
abitudine || Dino seventeen (Brothership)
CasualeSeungcheol be like : huuhh untung sayang :)) Btw cerita ini SLOW UPDATE nya ya hehe🙏
