Bab-9

153K 1.5K 17
                                        

Setelah melihat tubuh Mysha menghilang, Bima langsung menutup pintu ruangan nya dengan keras. Tak peduli dengan rekan kerja atau mahasiswa lain yang melihat kelakuan nya ini.

Karena, sungguh Bima tak mengerti dengan wanita yang beberapa saat lalu dari ruangan nya, yang pernah menghabiskan malam panas dengan nya.

Seperti yang Bima ucapkan beberapa waktu lalu, Bima tahu sepak terjang wanita itu. Wanita yang suka berganti pasangan, hanya demi uang, menolak uangnya.

Selain itu, yang membuat Bima pusing adalah bagaimana wanita itu meminta pertanggungjawaban dari nya, karena telah mengambil miliknya yang berharga.

Seharusnya ini lebih mudah, jika saat Bima dan Mysha memadu gairah, wanita itu tak perawan. Seharusnya memang sudah tidak, kan? Mengingat wanita itu suka berganti pasangan, terlebih dia juga sedang berpacaran dengan keponakan nya. Yang tiada hari tanpa menyatukan milik nya dengan wanita lain.

Lalu, keponakan nya melepaskan gairah dengan siapa?!

Bima mendengus pelan, lalu melangkahkan kaki nya kembali ke mejanya. Terlalu pusing memikirkan semua itu.

Karena Bima yakin Mysha pada akhirnya akan memilih uang yang ia berikan. Karena, tak mungkin tetap bertahan, disaat barang bukti sudah ia hancurkan, bukan?

Melihat kepingan ponsel itu, membuat Mysha tersenyum miring. "Kamu tidak akan bisa membuat saya merugi Mysha. "

Setelah itu, dia menyiapkan beberapa materi pembelajaran yang nantinya akan ia gunakan di kelas lain.

***

Mysha setelah dari ruangan Bima, melangkahkan kakinya menuju perpustakaan sekolah.

Dia ingin mencari beberapa referensi untuk tugas kuliah nya esok hari. Dan, saat Mysha berada di dalam perpustakaan, semua orang sibuk dengan bukunya.

Memang apa yang Mysha harapkan, jika berkunjung ke perpustakaan. Tak mungkin ada yang berciuman atau ber cinta, kan? Itu, hanya ada di club malam.

Karena sesungguhnya, di perpustakaan semua orang sibuk dengan bukunya. Oleh karena itu, Mysha melangkahkan kakinya menuju pojok ruangan, setelah sebelumnya mengisi data hadir dan mencari bukunya.

Dia butuh pojok ruangan, untuk men highlight tugas, serta mengetiknya di laptop.

Namun, sialan sekali Mysha harus berbalik saat  melihat sepasang manusia sedang berciuman yang ditutupi oleh buku, yang sesungguhnya tak mereka baca.

Bagaimana mau baca, tulisan judul saja kebalik, memang bisa untuk dibaca.

Sialan sekali memang manusia, yang menjadikan perpustakaan, gudangnya ilmu menjadi tempat mesum.

Muak karena melihat pemandangan di depan nya, Mysha kembali berbalik, untuk mengumpat kepada mereka yang tak tahu tempat. Tapi, sebelum melakukan itu, Mysha cukup tau siapa pria itu.

Dia orang yang sama dengan orang yang berkata, bahwa setelah pulang kuliah, dia harus ke kantor papa nya. Apa, kantor orang tua nya, telah berubah lokasi? Dan apa papa nya juga berubah jenis kelamin.

Sial sekali Rendy ini, Mysha tidak cemburu sama sekali tidak, untuk apa? Dia saja menjadi kan Rendy pacar nya, untuk atm nya.

Lalu, kenapa dia cemburu? Yang membuat Mysha marah adalah kenapa dia berselingkuh di lingkungan kampus? Merusak namanya saja. Padahal pria itu, sering selingkuh di club malam.

Mysha mendengus pelan, lalu melangkahkan kaki nya keluar perpustakaan. Dia sudah meminjam buku nya. Jadi, tak perlu ke bagian peminjaman dulu. Dia akan mengerjakan tugas nya di kos saja.

***

Bima memasuki ruangan nya dengan muka memerah, karena beberapa mahasiswa menggoda nya, setelah melihat jejak merah yang Mysha tinggalkan di lehernya, terlihat jelas.

Jadi, tadi di kelas Bima tidak berhenti mengumpat untuk Mysha dari dalam hati. Walaupun, ia juga tahu ini kesalahan nya, kenapa tidak mencek leher nya, padahal wanita itu sudah berkata tadi.

Tapi, tetap saja Bima tak ingin disalahkan. Sial sekali, bukan ?

Karena tanda ini, harga diri Bima di buat becanda oleh mahasiswa nya, seolah mereka berkata dia tak tahu tempat saja.

Memikirkan Mysha, membuat kepala Bima menjadi panas. Gila sekali hari nya hari ini. Bukan hari saja, tapi sejak tiga hari yang lalu.

Karena tak ingin pusing lagi, Bima segera menghidupkan kamera ponsel nya, untuk melihat seberapa merah jejak nya.

Ternyata memang merah sekali, pantas saja mereka bilang permainan Bima dan istrinya ganas. Padahal tidak sama sekali. Mana mungkin Aulia meninggalkan jejak merah do tempat yang terbuka.

Dia hanya akan meninggalkan jejak di tempat yang tidak terlihat oleh siapapun. Dengan maksud tertutup.

Lalu, Bima harus bagaimana sekarang? Dia harus menghilangkan jejak ini, agar Aulia tak melihat. Dan, dengan alat apa Bima menghilangkan nya?

Sungguh, Mysha menambah pekerjaan nya saja. Jadi, dengan segera Bima meraih ponsel nya, mencari tutorial menghilangkan jejak merah itu, yang sesungguhnya tak ada sama sekali cara nya.

Sampai, sebuah ide terlintas di otaknya, kenapa Bima tak memikirkan untuk leher nya berpura-pura luka? Agar diberi hansaplast saja? Sial, kenapa Bima bisa sebodoh ini? Waktu nya yang berharga, terbuang sia-sia selama 10 menit. Hanya untuk mencari ini.

Karena sudah mendapatkan ide, Bima segera melemparkan ponsel nya ke meja, lalu mengistirahatkan tubuh nya sejenak.

***

Setelah dari kampus, Mysha tidak langsung pulang ke kos, dia terlebih dahulu berkunjung ke rumah sahabat nya yang katanya sakit, tapi asik berenang di belakang rumah dalam cuaca yang luar biasa terik ini.

Untungnya Mysha tidak membawa oleh-oleh tangan, buang-buang uang saja. Terlebih yang diberikan oleh-oleh tangan adalah orang yang tidak sakit. Tapi, orang yang sedang mencari penyakit.

"Gue pikir lo sakit, tapi lagi cari penyakit ya, " sindir Mysha, sambil mendudukkan tubuh nya di kursi santai yang ada di dekat kolam berenang pada Martha, sahabat nya.

Sedangkan pelaku yang mendengar sindiran Mysha itu, hanya tertawa pelan saja.

"Kenapa nggak datang, kompakan banget sama Rika? " lanjut Mysha bertanya.

"Ha? Mysha juga nggak datang? " tanya Martha.

"Nggak. Dia info di grup. Lo nggak baca? " ucap Mysha, yang dibalas gelengan oleh Martha.

"Hmm. Jadi, alasan lo nggak datang apa? Lo nggak sakit, seperti yang lo bilang. Karena, nggak mungkin orang sakit berenang dalam cuaca panas gini. " Mysha mengatakan itu, sambil melipat tangan nya di dada.

"Malas aja masuk di kelas Pak Bima, lagian gue juga belum bikin tugas dia. Lupa kemarin malam, mau di kerjain mepet, karena gue bangun kesiangan. "

Mendengar alasan Martha itu, membuat Mysha mendengus, teringat tugas nya yang telah ia buat, tapi lupa ia bawa.

"Gue yang udah buat aja, tetap dihukum tu, " ujar Mysha sebal. Teringat hukuman berdiri di depan kelas dia jam lebih itu.

"Loh, kok bisa? "

"Tugas nya udah dibikin, tapi lupa masukin ke tas. Alias tinggal. Dan yeah, gue dihukum berdiri di depan kelas, sampai jam pelajaran dia selesai, " ungkap Mysha, pada Martha.

"Astaga, untung gur nggak datang, " ujar Martha, membuat Mysha mendengus. "Kenapa nggak minta keringanan aja tadi, kalau memang lo dah buat? "

"Gila aja minta keringanan, saat kita tahu tu orang sensi mulu sama gue. Dia lihat gue, bawaan nya marah mulu. "

"Iya juga ya, Sha? Kenapa gitu pak Bima ke lo? Lo nggak pernah nyenggol perkutut nya kan? "

Mysha yang mendengar ucapan Martha itu membesarkan matanya. Sial sekali sahabat nya ini.

"Gila lo! " teriak Mysha membuat Martha tertawa keras.

Setelah itu, tak ada lagi pembahasan mengenai kuliah lagi, karena mereka sibuk bergosip ria.

T. B. C

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang