Bab-33

64.1K 2.2K 468
                                        

Mysha terbangun, saat seseorang mengelus perutnya dengan lembut, dan terkesan hati-hati itu.

Lalu, disaat dia membuka mata, dia langsung melihat Bima disana, yang tampak nya begitu serius menatap perut nya.

"Dari mana semalam? Kok lama? Katanya sebentar? " tanya Mysha, dengan bawelnya. "Pasti, baru datang kan?"

"Saya ada urusan kemarin malam, dan saya disini sejak kemarin, Sabrina. Saya datang waktu kamu tertidur. " Bima mengatakan itu, dengan tangan yang tidak berhenti berada di perut Mysha.

Sedangkan Mysha yang mendengar ucapan Bima itu, langsung berdecih. Ingin sekali ia menghempaskan tangan Bima, sebagai bentuk tidak terima nya ditinggal kemarin malam, tapi helusan lembut itu, membuat dirinya nyaman.

"Mau ke kamar mandi? Cuci wajah atau buang air kecil? " tanya Bima pada Mysha. "Sebentar lagi sarapan pasti akan datang, kamu butuh makan bukan? "

"Ih, nggak mau makan. Makanan di sini hambar, " ujar Mysha, sambil memajukan bibir nya, tak suka dengan pernyataan yang Bima berikan itu.

Bima yang mendengar nada manja dan raut imut yang di tampilkan istri kecilnya itu, merasa gemas sendiri, ingin sekali ia dia simpan wajah itu, untuk dirinya sendiri.

"Sayang, " panggil Bima tanpa sadar, mungkin terbawa suasana. "Sekarang yang butuh makan, bukan hanya kamu. Anak kita yang disini, juga membutuhkan nya sayang, " lanjut nya, dengan dewasa sambil menyentuh perut Mysha.

Perlakuan dan panggilan yang diberikan Bima itu, tentu membuat dirinya terhipnotis. "Benar kah? " tanya Mysha, sambil terus melihat telapak tangan besar Bima yang berada di perut kecilnya. Mengelus tiada henti nya di sana.

"Iya. Karena itu, kamu harus makan yah. Kalau kamu cepat sembuh, dan keluar rumah sakit. Saya janji akan membelikan apapun yang kamu mau, " ujar nya pada Mysha.

"Apa pun? Es krim juga? " tanya Mysha, dengan mata polos nya, menatap ke arah Bima.

Mendengar permintaan Mysha tentang es krim itu, membuat Bima menghela nafas kasar, sebelum menganggukkan kepala nya, mengiyakan. "Iya, es krim juga. Tapi sedikit saja, " ujar Bima.

Perkataan Bima itu, tentu memancing kesenangan bagi Mysha. "Ihh pengen, ayo mana makanan nya? Aku mau makan, biar cepat pulang dan makan es krim, " ujar Mysha dengan raut ceria.

Bima bisa melihat raut ceria itu, dari matanya yang seolah memancarkan cahaya terang nya.

"Tidak mau cuci wajah dulu? " tanya Bima, sambil menaikan alisnya bertanya pada Bima.

"Emang, kalau mau makan rumah sakit harus cuci wajah dulu? "

Pertanyaan yang kembali diberikan Mysha itu, membuat dahi Bima berkerut. "Nggak, tapi cuci wajah itu biar kita kelihatan bersih dan cantik, emang kamu mau perawat di sini lihat wajah bantal mu itu? "

"Kenapa wajah bantal ku? Aku tetap cantik tu, walaupun sedikit kusam. Aku juga lebih cantik dari perawat di sini! " ujar Mysha dengan kesal nya. "Kamu bilang wajah ku jelek ha? Atau, ada perawat cantik yang sedang kamu incar? Terus bilang aku jelek. Kamu, mau jadiin dia istri ke-tiga? Padahal aku lagi hamil muda gini? Oh, kamu sadar, nanti tubuh ku membesar ya! "

Ucapan Mysha yang sudah mengarah kemana-mana itu tentu segera Bima hentikan dengan menutup mulut pria itu, menggunakan tangan nya. Hal yang membuat Mysha langsung membesarkan matanya, begitu tidak terima dengan perlakuan yang Bima berikan itu.

Hal yang bertepatan dengan seorang staff  perempuan datang, dengan membawa makanan untuk Mysha.

Karena hal itu juga, Bima segera melepaskan dekapan tangan nya di mulut Mysha. Hal yang langsung memancing emosi wanita itu.

Bima bisa merasakan itu, lewat tatapan sinis yang diberikan istri kecil nya itu kepada dirinya. Sebenarnya tak hanya dirinya, tapi juga staff pengantar makanan itu. Sesungguhnya tidak Bima pedulikan.

Lalu, setelah staff perempuan itu pergi. Bima mengambil makanan itu, berencana untuk menyuapi sang istri.

"Kenapa? " tanya Bima, saat Mysha menolehkan kepala nya, menolak.

"Oh, itu calon istri ketiga kamu? Kamu itu emang hobi kali nikah yah, " ujar Mysha, yang tentu membuat dahi Bima berkerut, tak terima.

"Hobi nikah? Saya? " tanya Bima dengan nada tak percaya, sambil menunjuk diri nya.

"Iya, habis dari istri pertama mu nggak bisa ngasih keturunan, kamu nikah sama aku, terus saat tubuh ku mau berubah, kamu berencana mau nikah lagi, ckckckck. Dasar pak tua, " ujar Mysha dengan kesal, memukul dada pria itu, sebagai bentuk pelampiasan nya.

Bima tahu, pukulan yang diberikan Mysha itu tak akan menyakiti nya, namun yang pasti akan menyakiti wanita itu. Selain itu, dia juga harus menahan makan yang kini berada di tangan nya.

Sebelum ia letakkan kembali di tempat nya.

"Oke, saya tidak tahu, dengan mood kamu, yang mudah sekali berubah. Tapi, mari kita luruskan. Kamu tahu pernikahan saya dengan Aulia sudah berapa lama, kan Sabrina? " tanya Bima dengan raut serius nya. "Lalu, apa kamu perlu saya ingatkan, siapa yang diawal pengen di nikahi sampai mengancam? "

"Kamu, nyalahin aku, mas?"

"Astaga, bukan itu poin nya! " kesal Bima. "Saya hanya menegaskan bahwa saya tidak ada rencana untuk menambah istri lagi, mau bagaimana pun perubahan yang terjadi pada istri saya. Saya akan menerima nya. Dua istri cukup. "

Pernyataan terakhir Bima itu, memancing tawa Mysha, hal yang lagi-lagi, membuat dahi Bima berkerut.

"Kenapa? " tanya Bima, dengan raut bingung nya.

"Prinsip kamu, lucu mas. Astaga. Orang mah, dua anak cukup. Kamu dua istri cukup, " ujar Mysha di selingi dengan tawa.

"Mood kamu mudah sekali berubah, Sabrina, " ujar Bima, tak peduli dengan apa yang dikatakan Mysha. Karena pria itu lebih memilih mengalihkan pembicaraan nya.

"Bagus lah. Emang kamu mau aku ngambek mulu? Mau kamu? " tanya Mysha dengan kesal, sambil melipat tangan nya di depan, menatap Bima dengan ekspresi menantang nya.

"Sudah lah, ayo makan. Anak kita butuh energi dari mamanya, " ujar Bima, dengan tangan satu mengambil piring, dan tangan yang lainnya mengelus perut Mysha.

Tampaknya pria ini, memiliki hobi baru, yaitu mengelus lembut perut Mysha.

Lalu, Bima mulai telaten menyuapi dengan suapan kecil, karena mulut Mysha belum bisa menerima makanan dengan suapan besarnya.

"Aku nggak mau dipanggil mama kek tadi. Aku mau di panggil mommy, " ujar Mysha tiba-tiba, setelah menghabiskan suapan kelima nya.

"Oke, anak kita akan manggil kamu, mommy, " ujar Bima, yang tentu nya memancing raut senang wanita itu.

"Kalau kamu mau dipanggil opa atau eyang? " tanya Mysha, yang diakhiri dengan cekikikan geli.

"Aku ini ayahnya, Sabrina. Bukan kakeknya. Dan aku belum setua itu. "

"Astaga, becanda doang, " ujar Mysha, saat tahu Bima tak suka dengan ucapan nya.

"Saya tidak suka becanda tentang umur bersama mu, Sabrina. " Bima mengatakan itu, dengan raut serius nya.

"Astaga, iya iya. Nggak lagi. "

Setelah mengatakan itu, kegiatan makan berlanjut. Dan Mysha bisa menghabiskan makanannya, dengan bantuan Bima.

Setelah makan, wanita itu langsung ke kamar mandi, untuk buang air kecil, yang katanya sudah ia tahan sedari tadi.

T. B. C

Mau double up? 2 k vote, 500 comment!!

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang