Bab-20

128K 1.5K 33
                                        

"Dia ganteng sekali dan begitu tinggi, " ujar seseorang, dengan suara tua nya, saat melihat seseorang yang sedang si wawancara yang di tayangkan du televisi.

"Apa dia merindukan ku? " tanya nya lagi.

"Dia tidak pernah merindukan mu, mas. Karena dia tidak pernah mencari keberadaan mu. Kalau dia rindu, dia akan mencari mu. " Balas suara di samping nya, ikut memperhatikan tontonan pria itu.

Sedangkan si pria yang mendengar ucapan wanita di samping nya, menarik nafasnya kasar. Seolah membenarkan. "Karena aku pergi, meninggalkan nya. Seharusnya aku tetap bertahan di sana. "

"Bertahan? Lalu terluka? Aku rasa, sudah benar kamu meninggalkan wanita itu. Dia toxic. "

"Dia baik, baik sekali, Lena. " Bantah si pria, kepada wanita bernama Lena itu.

"Kamu selalu membela dia, daripada keluarga mu sendiri. " Setelah mengatakan itu, wanita itu beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya.

Sedangkan si pria, hanya menatap pergi adiknya itu, sebelum kembali menatap televisi yang berada di depan nya, yang masih menampilkan pria yang ia banggakan itu.

Dan beranjak pergi, saat siaran itu sudah habis. Dia hanya akan memandangi wajah pria itu, tidak dengan yang lainnya.

***

"Baru pulang? " tanya suara itu, saat Mysha baru saja memasuki kamar hotel, tempat ia beristirahat selama di Landon.

Pertama masuk, Mysha memang terkejut mendengar suara pria itu. Tapi, dia cukup bisa menguasai dirinya.

Dengan melanjutkan langkah kaki nya, menuju ranjang, untuk meletakkan beberapa paper bag belanjaan nya, dari brand ternama.

Setelah meletakkan itu, dia langsung mendudukkan tubuh nya di ranjang, dengan membuka heels yang sedari tadi ia gunakan untuk berkeliaran di Landon.

"Saya bertanya, apa mulut mu tidak bisa digunakan? " decak Bima, membuat Mysha menoleh, sambil mengangkat alisnya.

"Ya, menurut bapak lihat aja, saya udah disini belum tadi. Saya baru masuk loh, berarti baru pulang. Masa gitu aja harus dijelasin, emang nggak bisa dicerna sendiri apa? " nyinyir Mysha, kesal sendiri, pada Bima.

"Terus, bapak kenapa bisa masuk kamar saya seenaknya? Ini privasi saya loh. Gimana saat bapak masuk, saya dalam keadaan pakai apa pun? Nggak sopan banget! "

Mendengar pernyataan lanjutan Mysha itu, membuat Bima tersenyum miring. "Emang kenapa saat saya masuk kamu dalam keadaan tanpa apapun? Apa kamu sudah lupa, saya sudah melihat apapun yang kamu miliki, dan ikut merasakan, jadi apa itu dengan kesopanan? " tanya Bima menantang.

Hal yang lagi-lagi membuat Mysha mendesis kesal.

"Udah lah, capek ngomong sama orang tua yang nggak punya urat malu gini, " ujar Mysha, seenaknya.

Lalu, matanya tak sengaja menatap kertas yang berada di samping Bima, yang sebelumnya tak ada di dalam kamar nya.

"Apa itu? " tanya Mysha, menunjuk kertas yang berada di samping Bima.

"Surat perjanjian." Bima mengambil kertas itu, sambil menjawab pertanyaan yang Mysha berikan.

Sedangkan Mysha, mengerutkan dahinya, setelah mendengar pernyataan Bima itu.

"Surat perjanjian? Maksudnya? "

"Ya, pernikahan kita, harus antara hitam dan putih, ada perjanjian di atasnya, yang harus diikuti oleh kedua belah pihak, " jelas Bima dengan singkat nya.

"Oh, " balas Mysha, singkat.

"Silahkan tulis apapun yang kamu inginkan disini, dan akan saya penuhi. Dan, kamu bisa memikirkan nya malam ini, dan memberikan nya, besok. Sebelum pemberkatan dimulai, dan untuk merevisi apapun itu, akan dilakukan setelah pemberkatan. "

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang