Bab-31

70K 1.8K 145
                                        

Detak jantung Mysha berbunyi dengan begitu kencang, ketika kursi roda yang ia duduki dan didorong oleh Bima memasuki ruang pemeriksaan dokter kandungan.

Lalu, entah kenapa tangan Mysha dengan cepat berpindah ke perut nya, seolah pemikiran yang ada di kepala nya, benar adanya.

"Selamat siang Pak, silahkan masuk. " Perawat yang berada di sana, langsung menyambut Bima dan Mysha dengan begitu ramahnya.

Sedangkan Bima, hanya menatap datar pada perawat itu.

"Silahkan anaknya dibaringkan pak, sebentar lagi dokter akan datang, " ujar perawat itu, yang langsung dihadiahi oleh Bima dengan tatapan tajam .

Sedangkan Mysha, hanya meringis, sembari mengigit bibir nya. Setelah mendengar ucapan perawat itu.

Berbeda dengan Bima tentunya, yang sekali lagi dibuat kesal oleh rumah sakit ini. Karena dirinya dianggap ayah Mysha.

"Sekali lagi saya mendengar rumah sakit ini mengatakan saya ayah Mysha. Saya bakar rumah sakit ini, saya ini suaminya! " ancam Bima dengan kesal.

Perawat yang mendengar kebenaran sekaligus ancaman itu, langsung pucat pasi, sadar akan kesalahan yang telah ia lakukan itu.

"Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau nyonya adalah istri bapak. Sekali lagi saya mohon maaf, " ujarnya dengan nada yang bergetar.

"Panggil dokter cepat! Saya malas liat wajah kamu!" kesal Bima, lalu segera mengangkat tubuh Mysha ke dalam gendongan nya, untuk di duduki di atas bankar rumah sakit.

Sedangkan perawat yang mendengar ucapan Bima itu, segera beranjak untuk memanggil dokter.

***

Aulia menatap gedung-gedung pencakar langit itu dari dalam kamar hotel. Hari ini, dia sedang berada di salah satu kamar hotel, untuk menunggu seseorang.

Seseorang yang penting, untuk melanjutkan rencananya.

"Bagaimana? Apa kamu sudah menemui orang tua atau keluarga dari gadis itu? " tanya Aulia langsung, saat pintu kamar yang tempati terbuka.

"Belum, saat saya datang, rumah itu sepi. Kosong. Kata para tetangga yang tinggal di sana. Pemiliknya baru saja meninggalkan rumah itu, pagi hari. " Beritahu sang informasi.

"Pagi hari? " gumam Aulia, sambil mengambil gelas yang berisi air minum nya yang berada di atas meja itu. "Kemana mereka pergi? Apa keluarga miskin itu mempunyai keluarga di desa lain? Karena tidak mungkin pergi ke luar kota, seandainya tidak ada uang, atau dia seperti anaknya yang menjajaki tubuh nya, untuk mendapatkan uang? "

Aulia mengatakan itu, sambil tersenyum miring, tak sadar bagaimana kehidupan nya di masa lalu, sebelum bertemu Bima. Lebih mengerikan.

"Saya tidak tahu, bos. "

"Oke, sekarang pergi. Cari informasi lainnya yang lebih akurat itu, " ujar Aulia.

"Baik." Setelah orang suruhan itu mengatakan kalimat baik.

Terdengar pintu kamar itu tertutup, sebelum Aulia memejamkan matanya, memikirkan apa yang terjadi di masa depan.

Apa keputusan nya benar untuk membiarkan sang suami menikah dengan Mysha itu?

Entah mengapa, akhir-akhir ini, ia merasa keputusannya itu salah.

Seharusnya ia tidak memberikan izin kan? Tapi dipaksa cerai oleh keluarga, itu sama sekali bukan keinginan nya.

Sial! Dia benci dengan takdir, yang membuat rahim, harta berharga seorang wanita itu tidak baik-baik saja. Dia benci pernah melahirkan seorang bayi yang bukan milik Bima, hingga merusak rahim nya. Benar-benar benci.

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang