Mysha terbangun, saat sinar matahari mengenai wajahnya. Berusaha menarik yang berada di kaki untuk menutupi tubuhnya, dan akan kembali melanjutkan tidur.
Tapi, rencana itu berakhir gagal, saat selimut yang berusaha ia tarik ke atas, tak juga dapat ditarik.
Lalu, dengan rasa kesalnya. Mysha segera mendudukkan tubuh nya, bersiap memarahi selimut itu. Namun, tatapan nya langsung bertemu dengan tatapan tajam suami nya.
Melihat pelakunya adalah sang suami, membuat Mysha mendengus. Lalu segera membuat tubuh nya tengkurap. Untuk melanjutkan tidurnya. Dia bisa menghindari matahari, dengan posisi seperti ini, kan?
Baru saja Mysha memejamkan matanya, dia kembali berdecak, saat merasakan tangan seseorang yang ia yakinin sebagai suami nya itu, menggelitik kaki nya.
"Bangun, " ujar Bima, yang tentunya Mysha abaikan.
Namun, seberapa lama Mysha mengabaikan nya, seberapa sering juga tangan Bima bermain di sana.
"APASIH! " kesal Mysha, segera bangkit, menatap Bima dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa kamu marah? Saya cuma menyuruh kamu bangun, lalu temani saya berolahraga, " ujar Bima, dengan tatapan herannya pada Mysha.
"Pergi aja sendiri. Kenapa nyuruh-nyuruh. "
"Saya mengajak kamu, karena sadar pola hidup kamu itu jelek sekali. Tidak pernah olahraga, makanan mu juga sering tidak ada sayur-sayuran nya. " Bima mengatakan itu pada Mysha yang sekarang sedang mengerjapkan matanya, tak percaya Bima mengetahui kebiasaan nya.
Sebelum ia tersadar, pria itu bisa saja mendapatkan informasi itu, dari bawahan nya yang bekerja dengan pria itu.
"Ya kenapa kalau nggak sehat? Yang penting nggak muntah saat acara keluarga. " Sindir Mysha, membuat Bima menaiki alisnya menatap Mysha.
Perlakuan yang Bima berikan itu, sungguh membuat Mysha kesal sendiri.
Lalu, tanpa banyak kata, Bima mendekat yang tentu membuat Mysha bingung, terlebih ketika tangan pria itu berada di bawah lutut dan punggung nya. Mengangkat Mysha ke dalam gendongan nya.
Mysha masih dalam keadaan bingung dengan apa yang Bima lakukan itu, hingga kesadaran dapat ia raih saat Bima menurunkan nya di kamar mandi.
"Saya sudah menyiapkan pakaian olahraga yang bisa kamu gunakan. Ganti dengan itu. Tidak usah mandi dulu, karena kamu juga akan berkeringat, " ujar Bima memberitahu.
Mysha yang mendengar kalimat terakhir Bima itu, berdecak kesal. Siapa juga yang ingin mandi saat tahu akan berkeringat? Siapa? Sesuatu yang membuat Mysha lebih kesal adalah, kapan ia menyetujui ajakan olahraga itu? Ha? Kapan?
"Bodo amat dengan mandi, yang aku tanya siapa yang setuju mau ikut olahraga dengan bapak? Siapa? " Mysha mengatakan itu, sambil melipat tangan nya di dada.
"Kamu tahu, saya tidak biasa menerima penolakan apapun dari siapa pun, " ujar Bima, yang membuat Mysha berdecak. "Jadi, kamu pun, tidak boleh menolak apapun permintaan yang saya berikan. "
"Mandi, lihat ini pipi mu membesar, " ujar Bima segera, saat melihat Mysha akan membuka mulutnya untuk membantah ucapan nya.
Ya, Bima mengucapkan itu dengan sengaja, beberapa wanita akan mudah diajak berolahraga, jika di singgung dengan titik sensitif nya. Salah satunya berat badan ,kan?
"Kenapa kalau membesar? Kata Rendy imut tuh! " jawab Mysha dengan mata berapi-api nya pada Bima, yang menyinggung pipinya.
Wanita itu, seharusnya tampak menyeramkan, bukan? Lalu, kenapa terlihat mengemaskan di mata Bima?
Tak hanya itu, dengan wajah menggemaskan nya, wanita itu berhasil membuat Bima yang seharusnya marah, tak jadi marah.
Kenapa Bima katakan Bima seharusnya marah, karena istri kecilnya ini yang membawa pria lain, saat bersama nya.
"Saya tahu, kamu ini ingin membuat saya marah. Tapi, saya beritahu, hari ini kamu tidak akan berhasil, karena saya sudah menyimpan banyak nya stok sabar untuk mu. " Lalu mengambil pakaian olahraga Mysha.
Namun, pakaian itu segera di tepis oleh wanita itu. Hingga jatuh ke sisi lain. "Ah, udah di bilang nggak mau mandi juga! "
"Oke, kamu pilih olahraga dengan pakaian atau tidak? Di luar atau di dalam kamar? " kali ini Bima lah yang melipat tangan, menantang wanita itu.
Mendengar ucapan Bima itu, membuat Mysha berdecak. Tampaknya pria itu begitu terobsesi untuk melihat Mysha berolahraga.
Lalu, karena tak suka dengan pilihan kedua yang diberikan Bima itu, jadinya Mysha memilih pilihan pertama nya, walaupun sebenarnya tak ada pilihan yang ia sukai. Seharusnya, pria itu juga memiliki pilihan ketiga, yaitu Mysha bebas.
Segera mengambil pakaian olahraga itu, berganti pakaian di sana, di mana Bima masih berada di dalam.
Jadi, dia tak peduli dengan Bima melihat dirinya dengan keadaan terbuka. Malu? Untuk apa? Mereka bahkan pernah lebih dari ini. Jadi, untuk apa rasa malu itu, tersimpan di dadanya.
Setelah selesai, Mysha segera menatap Bima. "Udah, " ujarnya dengan ketus, yang Bima angguki.
Setelah itu, dengan menghentak-hentakkan kakinya, Mysha mendahului Bima untuk berjalan keluar.
***
"Mau kemana? " tanya Lena, saat melihat mas nya itu sibuk mengemasi barang bawaan nya.
"Tiba-tiba, aku merindukan Mysha, Lena, " jawab Erwin, dengan tangan yang masih sibuk mengurusi barang bawaan nya.
"Oh, memang terlihat tiba-tiba sekali, bukan? Kalau dalam keadaan biasa, mana pernah kamu merindukan dia? Pasti hanya merindukan anak-anak dari istri mu itu, " ujar Lena, dengan tangan yang melipat di dada.
"Aku selalu peduli dengan anak ku, dengan kadar yang berbeda Lena. "
"Kapan, kapan kamu peduli dengan Mysha? " tanya Lena, terdengar menantang.
Pertanyaan yang membawa pada pertikaian ini, seringkali Erwin abaikan, namun entah kenapa sekarang dirinya terpancing emosi.
"KAMU SELALU MENGATAKAN AKU TIDAK PEDULI PADA ANAK-ANAK KU, LENA! AKU PEDULI MEREKA, SAYANG JUGA! " Marah Erwin.
Kemarahan yang Erwin tampakkan itu, tentu membuat Lena terkejut, hingga berjalan mundur.
"Kalau aku tidak peduli dan sayang dengan dia. Aku akan mengantarkan Mysha pada orang tua kandung nya, saat usia Mysha sudah lima tahun. Tapi, apa? Aku menyembunyikan nya! Agar aku selalu bersama-sama dengan dia! "
"Mas," panggil Lena tak percaya dengan fakta yang baru ia ketahui itu.
"Kenapa? Kamu kaget? Mas sudah tahu ibu dan ayah kandung Mysha dari lama, dari dia berusia 6 bulan. Tapi mas sembunyikan. " Erwin mengakui kesalahan nya itu. "Seharusnya, mas juga mengantarkan nya kesana, saat Mysha berusia lima tahun, tapi tak bisa Mas lakukan, karena mas sayang dia. Sekarang, mas mau menebus kesalahan mas ini, Lena. "
"Mas, aku, kenapa kesana? " tanya Lena pelan.
"Mas, harus memberitahu Mysha, agar hidup nya tak susah lagi. Dia selalu susah saat hidup dengan kita. "
Mendengar ucapan Erwin itu, membuat air mata terjatuh. "Ya, dia selalu susah saat hidup dengan kita. " Lena membenarkan. "Siapa orang tuanya, Mas? Siapa orang tua Mysha? "
Saat Erwin ingin menjawab, pintu rumah mereka diketuk dengan keras, membuat mereka terkejut, dan langsung menoleh.
Tanpa banyak bicara, mereka segera berjalan ke pintu, untuk mengetahui siapa kiranya orang yang mengetuk pintu nya dengan keras.
T. B. C
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysha(21+)
ЧиклитSemua orang tahu, seberapa tak suka nya Sabrina Mysha dengan dosennya yang bernama Bima Wiratama Surya. Karena pria itu selalu menatap tajam kearah nya ditengah jam perkuliahan berlangsung. Dan, karena satu kondisi, dia harus menjebak dosennya itu...
